Jumat, 21 Februari 2014

Dewi Maut Jilid 26

Dewi Maut Jilid 26

<--kembali

Ketika akhirnya Sabutai yang diiringkan oleh belasan orang pengawalnya, termasuk pula tiga orang tua lihai yang menjadi utusan Wang Cin itu, menyerbu ke dalam tenda besar di mana Kaisar Ceng Tung berada, nampak pemandangan yang amat mengharukan. Kaisar yang masih amat muda itu duduk dengan sikap tenang sekali, tenang dan agung, di atas kursi sambil memeluk seorang wanita cantik yang nampak ketakutan. Wanita ini adalah Azisha, selir terkasih itu. Di dekat pintu tenda nampak bergelimpangan mayat delapan orang jenderal dengan tubuh penuh luka! Akan tetapi agaknya yang menewaskan mereka adalah luka-luka terakhir yang mereka terima dari serangan para pengawal Thaikam Wang Cin! Ketika itu, delapan jenderal yang melindungi kaisar telah luka-luka parah, namun di bawah pimpinan Jenderal Kho Gwat Leng dan Jenderal Tan Jeng Koan, mereka delapan orang kakek itu dengan pedang di tangan masih berjaga di pintu kemah kaisar. Tiba-tiba para pengawal Wang Cin, di antaranya terdapat Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, Liok-te Sin-mo Gu Lo It dan Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang, maju dan menyerang delapan orang jenderal itu dari belakang sehingga tewaslah mereka!

Kaisar terkejut sekali, hendak menegur perbuatan Wang Cin itu, akan tetapi thaikam ini berkata, “Merekalah yang mencelakakan kita, sri baginda. Sekarang hamba dan para pengawal hamba yang melindungi paduka!”

Akan tetapi, begitu Sabutai dan para pengawalnya memasuki perkemahan itu, Wang Cin menyambut kepala pemberontak Mongol ini dengan senyum dan mereka saling memberi salam, demikian pula para pengawalnya segera beramah-tamah dengan para pengawal musuh!

“Hemmm... kiranya engkau seorang pengkhianat!” Kaisar berseru dan membuang muka tidak mau memandang wajah Thaikam Wang Cin yang tersenyum-senyum menyeringai itu. Kemudian, setelah akhirnya pasukan Sabutai bersatu padu dan berhasil pula mengusir pasukan Cia Keng Hong yang tidak berapa banyak jumlahnya, Sabutai cepat-cepat menggiring kaisar sebagai tawanannya bersama Azisha yang tidak kelihatan takut lagi, dan kembali ke bentengnya di utara bersama Wang Cin dan para pengawalnya.

Diam-diam Sabutai merasa kagum bukan main kepada delapan orang jenderal itu, dan juga merasa kagum melihat sikap Kaisar Ceng Tung yang demikian tenang dan agung, sedikitpun tidak merasa takut dan biarpun telah menjadi tawanan, namun memperlihatkan sikap agung dan penuh wibawa sehingga membuat diam-diam merasa tunduk!

Sabutai adalah seorang yang menjunjung tinggi kegagahan dan amat membenci kecurangan dan pengkhianatan. Oleh karena itu, biarpun pada lahirnya dia mau dipersekutu oleh Wang Cin si pengkhianat, namun diam-diam di dalam hatinya dia sangat kagum kepada kaisar muda itu dan amat benci kepada Wang Cin. Hanya karena dia ingin mempergunakan Wang Cin untuk usahanya menyerbu ke selatan, maka dia menahan diri dan tidak memperlihatkan kebenciannya itu. Akan tetapi dengan keras dia memerintahkan para pembantunya agar melayani kaisar dengan baik dan tidak boleh seorangpun ada yang bersikap kasar atau mengganggu kaisar muda ini dan selirnya. Bahkan Kaisar Ceng Tung dan selirnya ditempatkan di sebuah bangunan tersendiri, lengkap dengan taman dan diberi kebebasan, karena yang dijaga hanya sekeliling bangunan itu.

Wang Cin berusaha membujuk kaisar untuk membuat dan menandatangani surat kekuasaan dan pengangkatan kaisar baru, tentu saja dengan nama Wang Cin sebagai penggantinya, akan tetapi mendengar usul ini, Kaisar Ceng Tung hanya menjawabnya dengan meludah ke muka thaikam itu! Kalau saja tidak dicegah oleh Sabutai, tentu Wang Cin sudah membunuh kaisar. Diam-diam Sabutai tertawa di dalam hatinya, melihat betapa pertemuan antara kaisar dan Wang Cin itu seperti pertemuan antara seekor burung hong dan seekor tikus! Dia maklum bahwa membujuk atau mengancam seorang yang demikian gagah perkasa dan berwibawa seperti Kaisar Ceng Tung tidak ada gunanya sama sekali, dan kaisar itu jauh lebih baik dijadikan sandera. Sabutai memang cerdik bukan main. Dia tahu benar bahwa selama kaisar itu menjadi tawanannya, bala tentara Beng-tiauw tidak nanti akan berani menyerangnya. Dan kalau dia memperlakukan kaisar itu dengan baik, sebagai seorang tamu terhormat, hal ini saja sudah cukup merupakan jaminan bahwa kelak, andaikata cita-citanya menyerbu ke selatan gagal dan dia kalah, Pemerintah Beng tentu suka akan memaafkannya, mengingat bahwa dia telah bersikap baik kepada kaisar. Maka dia melarang Wang Cin untuk bertemu sendiri dengan kaisar, selalu di bawah pengawasannya. Bahkan tempat yang dijadikan tempat tawanan atau lebih tepat disebut gedung tamu itu bersambung dengan istananya sendiri sehingga dengan demikian leluasalah dia untuk keluar masuk gedung tamu itu.

***

Beberapa bulan setelah Kaisar Ceng Tung menjadi tawanan, mulai tampaklah watak aseli dari Azisha. Memang wanita ini sejak diumpankan kepada kaisar oleh Wang Cin, hanya melayani kaisar itu sebagai pelaksanaan tugasnya belaka. Sedikitpun dia tidak cinta kepada kaisar dan kalau toh ada cinta itu, yang dicintanya bukanlah pribadi kaisar melainkan kedudukannya! Kini, kaisar yang merupakan manusia terbesar di negaranya, bahkan dianggap sebagal “utusan Tuhan” atau “putera Tuhan”, telah kehilangan kedudukannya, kehilangan kebesarannya, bahkan telah menjadi seorang tawanan. Tentu saja Azisha merasa amat rendah kalau menjadi selir seorang tawanan!

Mulailah dia bersikap keras dan berani menentang kaisar, bahkan berani mulai menggunakan kata-kata kasar dan menghina. Melihat ini, kaisar baru terbuka matanya, dan baru dia tahu bahwa wanita cantik jelita ini memiliki batin yang tidak secantik wajahnya, dan baru dialah mengerti bahwa Azisha merupakan “alat” dari Wang Cin yang sekarang terbukti seorang pengkhianat besar itu. Maka diapun tidak memperdulikannya lagi dan setiap hari Kaisar Ceng Tung hanya tekun membaca kitab-kitab yang disediakan oleh Sabutai untuk bacaannya atau melakukan siulian (samadhi). Kaisar yang usianya masih muda, baru dua puluh tiga tahun itu kini sadar bahwa hubungannya yang amat mesra dengan Azisha selama ini hanyalah hubungan yang didasari oleh nafsu berahi saja dari fihaknya, dan dari fihak Azisha hanyalah didasari karena pelaksanaan tugas yang diberikan oleh Wang Cin. Dia merasa terpukul oleh kenyataan ini, maka dia merasa muak dan akhirnya tidak memperdulikan lagi kepada Azisha, bahkan tidak pernah mendekatinya, dan tidak pernah mengajaknya bicara sehingga ketika wanita itu tidak pernah memasuki kamarnya, diapun tidak perduli lagi.

Perhatian Azisha mulai tertuju pada Sabutai, laki-laki tinggi besar dan gagah perkasa yang usianya sudah empat puluh tahun lebih itu. Dibandingkan dengan Kaisar Ceng Tung yang muda dan halus budi bahasanya, lemah-lembut gerak-geriknya, tentu saja Sabutai jauh lebih jantan dan perkasa. Akan tetapi, karena sejak kecil sudah dididik sebagai perayu, maka agaknya wanita macam ini sudah sama sekali tidak mengenal cinta lagi dan kalau dia mulai mendekati Sabutai adalah karena dia tahu bahwa Sabutai merupakan orang pertama di situ, bahkan orang yang mempunyai cita-cita untuk menyerbu ke selatan dan menjadi kaisar dari seluruh negara! Selain itu, juga dia masih merasa sedarah dengan Sabutai, darah Mongol!

Seperti telah diceritakan, Sabutai mempunyai seorang isteri muda dan cantik, usianya baru delapan belas tahun, seorang berbangsa Khitan yang cantik jelita dan menjadi isterinya di luar kehendak wanita itu. Sabutai amat cinta kepada isterinya yang cantik itu, akan tetapi dia sering kali termenung dan merasa kecewa dan bersedih karena dia maklum bahwa isterinya tidak mencintanya. Padahal dia mengharapkan scorang keturunan dari isterinya yang tercinta itu dan untuk mengambil selir, Sabutai tidak sampai hati. Dia terlalu mencinta Khamila dan tidak ingin membagi cintanya dengan wanita lain.

Betapapun juga, agaknya Azisha tidak akan berani secara lancang melakukan pendekatan kepada Sabutai karena dia adalah selir raja yang menjadi tawanan, kalau saja hal itu tidak dikehendaki dan diatur oleh Wang Cin. Pembesar kebiri ini mulai khawatir melihat sikap Sabutai yang dingin terhadap dirinya dan sungguhpun dia dan para pengawalnya mendapat perlakuan cukup baik, akan tetapi Sabutai agaknya seperti tidak terlalu mengacuhkannya, bahkan desakannya untuk segera menyerbu ke selatan selalu ditolak oleh Sabutai dengan alasan “belum waktunya” dan “belum cukup kuat”. Juga Sabutai menolak keras ketika Wang Cin mengusulkan agar Kaisar Ceng Tung yang menjadi tawanan itu dipaksa, kalau perlu disiksa, agar suka memberi surat kuasa pengangkatan kaisar baru. Semua ini ditolak oleh Sabutai yang mengatakan bahwa dia tidak sudi mempergunakan cara-cara yang curang.

“Saya adalah keturunan orang-orang gagah, kakek saya dahulu adalah Jenderal Sabutai yang terkenal dari Dinasti Goan, bagaimana mungkin saya melakukan tindakan yang begitu rendah dan curang? Saya bukan pengecut dan kalau sudah tiba waktunya, saya akan menyerbu ke Peking!”

Sikap Sabutai ini amat mengkhawatirkan hati Wang Cin. Biarpun dia dianggap sebagai sekutu dan tamu, akan tetapi tidak ada bedanya dengan tawanan juga, seperti kaisar yang telah dikhianatinya itu. Dia menjadi serba salah. Pulang kembali ke selatan dia tidak berani karena tentu pengkhianatannya itu akan membuat dia celaka, tinggal di utara diapun tidak dapat menguasai Sabutai! Mulailah dia mencari akal, dan orang kebiri ini memang cerdik sekali. Pandang matanya cukup tajam sehingga dia dapat menduga bahwa Sabutai yang hanya mempunyai seorang isteri itu tentu tidak bahagia dengan isterinya yang cantik dan muda. Isterinya itu bersikap dingin dan tidak acuh kepada suaminya. Maka dia melihat kesempatan baik untuk mempergunakan kecantikan dan kepandaian Azisha yang sudah dilatih sejak kecil untuk menjadi seorang perayu pria! Maka, mulailah dia mengatur siasat dengan Azisha untuk menundukkan hati pemimpin orang Mongol yang keras hati ini dengan pengaruh kecantikan dan kepandaian merayu Azisha.

Pada suatu malam, ketika Sabutai duduk seorang diri di dalam kamarnya, termenung mencari siasat untuk dapat menyerbu ke selatan karena kini dia telah dapat menyusun barisan yang besar dan amat kuat, muncullah Azisha yang tentu saja diperkenankan oleh para pengawal karena para pengawal ini sudah lebih dulu disuap oleh Wang Cin! Apalagi, mereka tahu bahwa Azisha adalah selir kaisar yang tertawan, seorang wanita muda yang cantik jelita dan lemah, tentu saja tidak berbahaya dan mempunyai niat-niat yang mesra terhadap raja mereka! Maka, sambil menikmati hadiah suapan dari Wang Cin, mereka membiarkan Azisha lewat dan bahkan saling pandang dengan senyum penuh arti karena tentu akan terjadi hal-hal mesra di dalam kamar pemimpin atau raja mereka. Bahkan di antara mereka ada yang berani mendekat ke kamar Sabutai dan memasang telinga untuk mendengarkan kemesraan itu!

Beberapa orang pengawal ini saling pandang penuh arti ketika mereka mulai mendengar suara Azisha yang merdu, seolah-olah bertanya jawab dengan suara Sabutai yang nyaring dan keras. Mereka sudah mulai merasa tegang dan membayangkan hal-hal yang mengundang kegairahan hati mereka. Pembangkit nafsu berahi, seperti nafsu apapun juga, adalah pikiran sendiri.

Kebencian dan rasa takut didatangkan oleh pikiran yang membayangkan hal-hal yang mengerikan dan tidak menyenangkan yang telah atau akan menimpa diri kita. Iri hati, keinginan, ambisi, gairah datang karena pikiran membayangkan hal-hal yang menyenangkan dan yang telah atau akan kita alami. Segala macam nafsu datang dari pikiran yang membayang-bayangkan hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang sehingga kehidupan kita sepenuhnya dipermainkan dan dikuasai oleh kesibukan pikiran, membuat kita tidak mampu melihat keadaan sesungguhnya dan kenyataan dari saat sekarang ini. Oleh karena itu, seorang bijaksana akan selalu waspada terhadap pikirannya sendiri, karena pikiran yang sesungguhnya amat penting bagi fungsi hidup sehari-hari sebagai alat untuk mengingat dan mencatat, juga amatlah jahat kalau dipergunakan tidak pada tempatnya, yaitu dipergunakan untuk menguasai kehidupan seluruhnya dengan pembentukan si aku. Si aku adalah pikiran itu sendiri yang selalu mengejar kesenangan dan menyingkir dari yang tidak menyenangkan. Maka batin menjadi ajang perang dari kenyataan seperti apa adanya dan bayangan-bayangan pikiran yang selalu menginginkan hal-hal yang lain daripada kenyataan yang ada! Maka datanglah konflik batin yang tentu akan tercetus keluar menjadi konflik lahir. Kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan konflik ini nampak di dalam kehidupan kita sehari-hari, dari konflik kecil antar manusia sampai konflik besar antar bangsa berupa perang!

Karena kadang-kadang suara percakapan di dalam kamar itu lirih dan suara Azisha yang merayu-rayu itu terdengar kadang-kadang seperti rintihan halus, maka para pengawal itu yang tidak berani terlalu dekat tidak dapat menangkap jelas sehingga mereka menjadi makin penasaran. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras dari Sabutai disusul jerit seorang wanita. Ketika para pengawal cepat lari ke depan pintu kamar, pintu terbuka dari dalam dan nampak Sabutai dengan muka merah berkata, “Lempar mayat perempuan hina itu keluar!”

Para pengawal terbelalak melihat wanita muda yang cantik jelita itu telah rebah di atas lantai dengan kepala pecah sehingga mukanya yang cantik itu kelihatan mengerikan karena penuh darah, matanya terbelalak dan kini muka itu sama sekali tidak menarik lagi, bahkan menakutkan. Baju luar wanita itu telah terlepas sehingga nampak lekuk lengkung dadanya yang penuh di balik baju dalam yang berwarna merah muda. Agaknya wanita muda itu tadi menggunakan rayuan dengan menanggalkan baju luarnya, akan tetapi dia sama sekali tidak berhasil membangkitkan gairah di hati Sabutai, sebaliknya malah membangkitkan kemarahannya sehingga orang yang gagah perkasa ini dalam marahnya menampar kepala wanita itu sehingga pecah dan tewas seketika! Sungguh peristiwa yang amat menyedihkan. Azisha yang sejak kecil dididik sebagai seorang wanita perayu dan yang haus akan kemewahan dan kemuliaan, sama sekali tidak mengenal Sabutai dan menyangka bahwa setiap orang pria tentu akan runtuh oleh rayuan mautnya. Akan tetapi, Sabutai adalah seorang laki-laki jantan yang hanya memiliki satu saja cita-cita, yaitu membangun kembali Bangsa Mongol sebagai bangsa yang terbesar, merampas kembali tahta kerajaan dari Dinasti Beng dan membangun kembali Kerajaan Mongol yang sudah hancur berantakan. Sedikitpun dia tidak terpikat oleh wanita, apalagi karena satu-satunya wanita yang dicintanya adalah Khalima, isterinya yang masih muda akan tetapi yang tidak membalas cintanya. Maka, melihat rayuan Azisha, dia menjadi muak, apalagi mengingat bahwa Azisha adalah seorang wanita Mongol dan dia tahu betapa wanita bangsanya ini oleh Wang Cin telah diperalat untuk melemahkan Kaisar Ceng Tung yang amat dikaguminya karena kaisar yang muda itu ternyata adalah seorang yang gagah perkasa dan tak mengenal takut pula, sungguhpun kaisar yang muda itu agaknya lemah terhadap wanita cantik. Kemarahannya memuncak ketika dia mengusir Azisha, wanita ini malah menanggalkan baju luarnya untuk memamerkan lekuk lengkung tubuhnya, maka dalam kemarahannya dia menampar, lupa bahwa tamparan tangannya terlalu kuat dan kepala wanita ini terlalu lunak sehinga tewaslah Azisha dengan kepala pecah.

Tentu saja hati Wang Cin terkejut setengah mati ketika dia mendengar betapa Azisha telah dibunuh oleh Sabutai. Cepat dia mengumpulkan para pengawalnya karena hatinya merasa tidak enak sekali. Diam-diam dia berunding dengan para pengawalnya yang berjumlah belasan orang, di antaranya termasuk Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, Go-bi Sin-kouw, Bouw Thaisu, Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, Liok-te Sin-mo Gu Lo It dan Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang, orang-orang yang berkepandaian amat tinggi dan yang mempergunakan kesempatan itu untuk mencari kedudukan dengan membonceng pengaruh pembesar kebiri Wang Cin dan di samping itu juga untuk menyembunyikan diri sementara waktu karena mereka itu, terutama sekali tiga orang di antara Lima Bayangan Dewa, merasa jerih juga atas pengejaran dan pembalasan dendam dari Cin-ling-pai. Di samping tujuh orang berilmu ini, masih ada lagi enam orang pengawal pribadi Wang Cin yang juga rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Setelah mengadakan perundingan dengan tiga belas orang pengawal kepercayaannya, pada keesokan harinya Wang Cin lalu pergi menghadap Sabutai, diikuti oleh tiga belas orang pengawalnya itu.

Tentu saja Sabutai bukan seorang bodoh dan dia sudah tahu terlebih dulu bahwa peristiwa kematian Azisha di dalam kamarnya itu tentu mengejutkan hati Wang Cin, karena dia tahu bahwa wanita muda itu adalah sekutu Wang Cin sehingga yang langsung tersinggung oleh kematian itu bukannya kaisar Ceng Tung yang agaknya kini mulai terbuka matanya oleh kepalsuan-kepalsuan itu, melainkan thaikam itulah. Sebetulnya, menurut suara hatinya yang tidak suka kepada kepalsuan dan kecurangan Wang Cin, ingin dia membunuh saja pengkhianat itu, akan tetapi diapun maklum bahwa Wang Cin dikelilingi oleh orang-orang pandai yang amat lihai, dan juga ratusan orang sisa perajurit pengawal yang kini menakluk dan menjadi pasukan pengawal Wang Cin merupakan bantuan yang cukup kuat baginya. Inilah yang membuat dia menahan sabar dan tidak membunuh pengkhianat itu. Setelah dalam kemarahannya dia membunuh Azisha, Sabutai juga maklum bahwa kematian wanita palsu itu tentu akan menyusahkan hati kaisar yang kini agaknya telah terbuka matanya dan mengenal macam apa adanya wanita yang selama ini mempermainkannya, akan tetapi tentu akan diterima dengan marah oleh Wang Cin. Maka diapun telah bersiap-siap.

Ketika Wang Cin yang diikuti tiga belas orang pengawalnya itu datang mengunjungi Sabutai, mereka disambut oleh Sabutai yang sudah duduk di ruangan besar itu bersama seorang kakek dan seorang nenek tua renta yang bermata tajam seperti mata harimau. Kakek dan nenek itu duduk di kanan kirinya, si kakek bermuka putih seperti kapur, seolah-olah tidak mempunyai darah, muka mayat yang dipupuri kapur tebal. Sedangkan muka nenek itu hitam sekali, hitam seperti terbakar hangus. Wajah kakek dan nenek yang sama sekali berlawanan warnanya itu membuat mereka kelihatan amat menyeramkan, apalagi karena nenek bermuka hitam hangus itu berpakaian serba putih sedangkan kakek bermuka putih kapur itu mengenakan pakaian serba hitam! Tangan mereka memegang tongkat butut yang sukar dikenal terbuat dari bahan apa, hanya nampaknya sudah butut sekali.

Di belakang Sabutai berjajar pasukan pengawal yang terdiri dari tiga puluh orang lebih, bersenjata lengkap dan dalam keadaan siap siaga! Melihat ini, Wang Cin tercengang dan jantungnya berdebar. Dia merasa bahwa Sabutai agaknya sengaja memperlihatkan sikap bermusuh dan memamerkan kekuatan, dan diapun tidak mengenal siapa adanya dua orang kakek dan nenek itu.

Di lain fihak, Sabutai menerima kedatangan Wang Cin dan para pengawalnya dengan sikap dingin, akan tetapi dia mempersilakan mereka duduk berhadapan dengan dia terhalang meja panjang. Wang Cin duduk di antara para pengawalnya, dan Sabutai lalu memperkenalkan kakek dan nenek itu.

“Wang-taijin, perkenalkan kedua beliau ini adalah guru-guru saya. Pek-hiat Moko (Iblis Jantan Berdarah Putih) Hek-hiat Mo-li (Iblis Betina Berdarah Hitam). Suhu dan subo, inilah Wang-taijin dan para pengawalnya seperti yang sudah saya ceritakan kepada suhu dan subo (bapak dan ibu guru).”

Wang Cin sebagai seorang pembesar istana yang tidak mengenal dunia persilatan, maka tidak pernah mendengar nama dua orang aneh itu dan tentu saja dia memandang rendah kepada kakek dan nenek yang lebih merupakan orang-orang terlantar atau jembel-jembel yang bertubuh lemah dan tua. Akan tetapi para pengawalnya memandang kakek dan nenek itu dengan penuh perhatian dan terutama sekali Bouw Thaisu kelihatan terkejut karena kakek ini pernah mendengar nama mereka sebagai tokoh-tokoh yang selalu menyembunyikan diri akan tetapi yang kabarnya memiliki kepandaian tinggi sekali. Maka Bouw Thaisu cepat menjura dan berkata, “Sudah lama saya mendengar nama besar ji-wi (anda berdua), sungguh menyenangkan sekali hari ini dapat bertemu.”

Nenek itu tidak memperdulikan Bouw Thaisu, melainkan memandang dengan mata agak menjuling ke arah Hek I Sian-kouw dan Go-bi Sin-kouw, akan tetapi kakek itu melirik ke arah Bouw Thoisu dan terdengar dia berkata, suaranya jelas membayangkan lidah asing. “Bouw Thaisu meninggalkan tempat yang sunyi di pantai Po-hai dan muncul dalam keramaian, tentu ada apa-apa di balik itu. Hemmm...!”

Tiba-tiba terdengar suara nenek itu, tinggi melengking penuh nada mengejek, “Dewi dari Go-bi yang sudah bongkok, sute Toat-beng Hoatsu dan pasangannya, semua muncul di sini. Betapa ramainya!” Jelas bahwa nenek itu menujukan kata-katanya kepada Go-bi Sin-kouw, Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Sinkouw.

Tentu saja Bouw Thaisu dan teman-temannya menjadi terkejut sekali. Biarpun tak pernah muncul di dunia kang-ouw, kakek dan nenek itu ternyata dapat mengenal mereka! Hanya tiga orang dari Lima Bayangan Dewa agak mendongkol karena kakek dan nenek itu seolah-olah tidak perduli kepada mereka, selain tidak kenal, juga memandang rendah sekali, agaknya mereka bertiga dianggap pengawal-pengawal biasa saja, kelas rendahan!

Akan tetapi tentu saja merekapun tidak dapat menunjukkan kemangkelan hati mereka, apalagi ketika itu, Sabutai sudah berkata kepada Wang Cin, “Keperluan apakah yang membawa Wang-taijin datang kepada saya? Agaknya ada hal yang amat penting untuk dibicarakan.”

Wang Cin menahan gejolak hatinya yang diliputi kemarahan. Biarpun hatinya panas karena marah dan duka memikirkan kematian Azisha yang sekarang entah dibuang ke mana jenazahnya, namun dia memaksa wajahnya tenang dan mulutnya tersenyum ketika dia menjawab, “Saya telah mendengar berita bahwa telah terjadi sesuatu antara paduka dengan Azisha. Karena dia adalah selir kaisar dan dia masih segolongan dengan kita, maka saya menjadi terkejut dan datang menghadap untuk minta penjelasan mengenai peristiwa itu.”

Sabutai tersenyum mengejek, kemudian berkata dengan suara menantang, “Tidak salah apa yang taijin dengar. Azisha telah saya bunuh malam tadi.”

Dengan pandang mata keras, tak kuasa menyembunyikan kemarahannya, Wang Cin bertanya, “Kenapa?”

“Perempuan tak tahu malu itu berani memasuki kamar saya dan bersikap tidak senonoh. Dalam kemarahan saya melihat ketidak sopanannya dan usahanya untuk merayu, saya memukulnya dan dia tewas. Jenazahnya sudah saya suruh kubur.”

Wang Cin menghela napas panjang, lalu mengangkat kedua tangan ke atas, “Saya tidak mempersoalkan sebab-sebabnya mengapa dia dibunuh, bengcu.” Pembesar thaikam ini tidak mau menyebut Sabutai sebagai raja muda seperti yang dilakukan para anak buahnya, melainkan menyebutnya bengcu yang berarti pemimpin. “Akan tetapi yang terpenting, kenapa membunuh dia yang dapat menjadi pembantu kita yang amat baik? Bukankah lebih baik membunuh kaisar yang telah menjadi tawanan, atau mengancamnya dengan siksaan agar dia suka tunduk dan menyerahkan kedudukannya kepada kita?”

Sabutai menggebrak meja di depannya. Dia marah sekali. “Wang-taijin! Harap taijin ingat bahwa taijin berada di tempat saya, dan di sini, sayalah yang berkuasa. Taijin tidak perlu mencampuri urusan saya. Perempuan hina itu sengaja hendak merayu saya, maka saya bunuh dia. Adapun kaisar yang muda itu, saya kagum sekali karena dia adalah seorang pemuda yang gagah berani. Saya terus saja membunuh perempuan itu tanpa bertanya siapa yang mendalangi perbuatannya, hal itu karena saya tidak mau memperpanjang urusan.”

Merah juga wajah Wang Cin mendengar sindiran ini. Alisnya berkerut dan diapun mencela, “Sabutai bengcu, hendaknya bengcu ingat bahwa tanpa siasat dari saya, tidak mungkin bengcu dapat menawan kaisar! Kita bekerja sama, maka saya berhak bicara dan sudah semestinya kalau bengcu mendengarkan kata-kata saya.”

Sabutai makin marah dan dia sudah bangkit berdiri. “Wang-taijin yang mengajak bersekutu, bukan saya. Biar kita bekerja sama, akan tetapi sayalah yang menentukan segala langkah kita, dan bukan Wang-taijin!”

Melihat suasana menjadi panas ini, Bouw Thaisu cepat bangkit berdiri dan berkata dengan suara halus. “Harap ji-wi suka bersabar dan bicara dengan kepala dingin. Di antara sahabat, akan merugikan sendiri kalau menurutkan hati panas. Segala sesuatu dapat dirundingkan secara baik-baik.”

“Heh-heh-heh, omongan Bouw Thaisu sungguh seperti omongan pelawak di atas panggung!” Tiba-tiba nenek Hek-hiat Mo-li berkata. “Kalau mengaku sahabat, mengapa Wang-taijin datang dikawal oleh para jagoannya, seolah-olah hendak berangkat perang?”

“Sungguh sombong!” Tiba-tiba Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang berwatak keras dan kasar, membentak marah. “Wang-taijin adalah seorang pembesar tinggi, sekutu yang banyak berjasa, juga tamu agung di tempat ini, akan tetapi telah diperlakukan tidak sepatutnya. Sudah tentu saja ke manapun beliau pergi, kami para pengawalnya menjaga keselamatannya, kerena siapa tahu di mana-mana terdapat musuh yang bersembunyi! Kalau ada yang tidak setuju melihat kami mengawal beliau, boleh coba mengusir kami!” Setelah berkata demikian, Gu Lo it yang bertubuh tinggi besar kokoh kuat, berhidung besar dan berjubah hitam dan bertopi itu, sekali meloncat telah berdiri di tengah ruangan, matanya melotot ditujukan kepada nenek bermuka hitam berpakaian serba putih itu dengan sikap menantang.

“Heh-he-he-he, gagah sekali! Siapakah namamu, pengawal yang setia?” Nenek itu tertawa, bangkit berdiri dan menghampiri Gu Lo It.

“Namaku tidak sedemikian gagah seperti namamu, Hek-hiat Mo-li. Namaku Gu Lo It.”

“Heh-he-he, engkau benar-benar seekor kerbau hidung besar!” Nenek itu terkekeh dan kata-kata itu merupakan ejekan yang amat menghina karena nama keturunan Gu Lo It, yaitu Gu dapat juga diartikan kerbau, walaupun bukan itu maksudnya dan hanya bunyi suaranya saja yang sama. Dia dimaki kerbau karena memang She-nya dapat diartikan kerbau dan berhidung besar karena memang hidungnya agak terlalu besar untuk ukuran umum. Maka tentu saja Si Iblis Bumi ini menjadi marah bukan main. Dia adalah Liok-te Sin-mo, orang kedua dari Lima Bayangan Dewa dan nenek tua renta seperti mayat hidup ini berani menghinanya seperti itu.

“Nenek sombong, engkau belum mengenal lihainya Liok-te Sin-mo. Nah, kaucoba sambutlah ini!” Tiba-tiba saja Liok-te Sin-mo Gu Lo It sudah menerjang nenek muka hitam itu dengan gerakan kedua tangannya yang mengandung tenaga besar sekali, menghantam dari kanan kiri. Serangan ini dilakukan dengan marah dan dengan tenaga penuh sehingga terdengar angin pukulan menyambar dari kanan kiri, bersuit suaranya. Baik Wang Cin maupun Sabutai hanya memandang saja. Sabutai tidak berani menahan subonya, sedangkan Wang Cin memang hendak memperlihatkan gigi maka diapun membiarkan saja jagoan-jagoannya memberi hajaran kepada fihak tuan rumah yang amat menyakitkan hatinya. Hanya Bouw Thaisu yang memandang dengan alis berkerut karena dia menganggap sikap Gu Lo It itu terlalu lancang.

“Heh-heh-heh, si kerbau hidung besar mengamuk dan menyeruduk!” nenek itu tertawa, kedua tangannya bergerak cepat sekali sehingga kedua lengan yang terbungkus lengan baju putih itu berobah menjadi bayangan putih dan tahu-tahu nenek itu telah menangkap kedua pergelangan tangan Gu Lo It yang kini terbelalak. Hanya Bouw Thaisu yang dalam sekejap mata dapat melihat betapa secara cepat dan aneh, Gu Lo It telah tertotok setengah lumpuh maka kini tidak mampu berbuat apa-apa ketika pergelangan kedua tangannya ditangkap.

“Heiii... Mo-ko, kau suka daging kerbau? Nah, terimalah persembahanku ini, heh-heh!” Dan tiba-tiba Gu Lo It terlempar ke udara, menuju ke arah kakek muka putih.

“Siapa sudi kerbau alot begini?” Kakek itu sekali bergerak sudah meloncat ke depan, kedua tangannya digerakkan dan tahu-tahu dia telah menangkap batang leher dan punggung baju Gu Lo It dan sekali ayun tubuh Gu Lo It sudah terlempar lagi ke arah Hek-hiat Mo-li!

“Ihh, kerbau busuk, aku jijik!” Kini kaki nenek itu bergerak, cepat sekali dan pada saat itu sebetulnya Gu Lo It sudah terbebas dari totokan dan sudah mulai meronta dan bergerak hendak melawan, namun ujung sepatu nenek itu kembali membuatnya setengah lumpuh dan dengan suara berdebuk, pinggulnya kena ditendang sehingga tubuhnya kembali melayang ke arah Pek-hiat Mo-ko.

Terkejut bukan main semua pengawal Wang Cin, terutama sekali Bouw Thaisu menyaksikan betapa Gu Lo It yang terkenal lihai itu dipermainkan oleh kakek dan nenek itu seperti sebuah bola yang sama sekali tidak berdaya!

“Harap ji-wi maafkan dia!” Bouw Thaisu berseru keras ketika melihat tangan Pek-hiat Mo-ko sudah bergerak untuk menyambut tubuh Gu Lo It dengan sebuah tamparan ringan yang mengarah kepala Gu Lo It, tamparan yang mungkin akan merenggut nyawa orang kedua dari Lima Bayangan Dewa itu!

“Plakk!” Bouw Thaisu terhuyung dengan kaget sekali, akan tetapi dia telah berhasil menyelamatkan Gu Lo It dengan menangkis tamparan itu, sedangkan Gu Lo It dengan muka sebentar pucat sebentar merah telah berdiri di pinggir, tadi disambar oleh suhengnya, yaitu Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, yang kini memegang lengannya, mencegah sute yang sembrono itu maju lebih lanjut.

“Bagus! Kiranya Bouw Thaisu tidak mengecewakan menjadi tokoh pantai Po-hai!” Pek-hiat Mo-ko memuji ketika merasa betapa kuatnya lengan Bouw Thaisu yang menangkisnya tadi. “Dan akan menjadi lawan yang menggembirakan pula!”

Akan tetapi, melihat betapa nenek dan kakek itu lihai sekali dan keadaannya tidak menguntungkan fihaknya, Wang Cin sudah bangkit berdiri. “Cukup semua ini! Harap Bouw Thaisu dan yang lain-lain suka duduk kembali!” Kemudian dia memandang Sabutai dan berkata, “Apakah bantuan kami diterima dengan cara begini oleh bengcu! Apakah semua pengorbanan kami sia-sia belaka?”

Sabutai memberi isyarat kepada suhu dan subonya untuk duduk kembali, kemudian dia berkata, “Harap maafkan, Wang-taijin. Sebagai orang?orang yang suka akan ilmu silat, tentu saja suhu dan suboku akan melayani setiap lawan yang hendak main-main. Kami sama sekali tidak ingin memusuhi taijin, bahkan kami berterima kasih atas bantuan taijin. Urusan besar masih belum terlaksana, perlukah taijin meributkan kematian seorang perempuan hina seperti Azisha itu?”

Wang Cin maklum bahwa fihaknya terdesak. Dia berada di guha harimau, maka dia tidak boleh main-main. Andaikata dia boleh mengandalkan ketangguhan tiga belas orang pengawalnya dan ratusan orang sisa pasukan, akan tetapi apa dayanya berada di antara puluhan ribu anak buah Sabutai? Maka dia mengangguk dan mereka melanjutkan pertemuan yang tadinya menegangkan itu dengan makan minum, dan nama Azisha sama sekali tidak pernah disinggung lagi dalam percakapan. Bahkan Sabutai dan Wang Cin membicarakan tentang beberapa kali terjadinya usaha penyerbuan pasukan Beng-tiauw dibantu oleh beberapa kelompok suku bangsa perantau di utara, untuk membebaskan kaisar. Namun karena jumlah para penyerbu itu kecil sekali dibandingkan dengan kekuatan barisan anak buah Sabutai, semua usaha penyerbuan itu dapat dihancurkan dan para penyerbu dipaksa untuk mundur.

“Para penyelidik kami melaporkan bahwa di kerajaan terjadi pergolakan, akan tetapi sayang, para sekutu taijin agaknya membelakangi taijin dan saya mendengar bahwa mereka semua telah mengangkat seorang kaisar baru, yaitu Cing Ti.”

Muka Wang Cin menjadi merah mendengar kata-kata ini. “Kalau begitu, mengapa kita tidak segera menyerbu ke selatan? Bengcu harap percava kepadaku bahwa di sana masih banyak sekutu yang akan membantu kita dari dalam. Kaisar Cing Ti sama saja dengan Kaisar Ceng Tung, diapun membenci bangsa kita. Sebelum kita berhasil merampas tahta kerajaan, bangsa kita akan selalu dianggap sebagai musuh dan tidak mungkin Kerajaan Goan-tiauw yang jaya dapat bangkit kembali.”

Sabutai tersenyum. “Mungkin taijin mahir dalam urusan pemerintahan, akan tetapi mengenai urusan perang, serahkan saja kepada saya. Kalau sudah tiba saatnya, tentu saya akan menyerbu ke selatan.”

Biarpun hatinya penasaran, namun Wang Cin tidak berani mendesak lagi dan terpaksa dia dan para pengawalnya harus bersabar menjadi tamu-tamu yang keadaannya tidak lebih daripada tawanan-tawanan yang selalu diawasi sungguhpun diperlakukan dengan hormat.

Apa yang dikatakan oleh Sabutai tentang pergolakan di kota raja itu memang benar. Setelah diterima berita bahwa Kaisar Ceng Tung disergap dan ditawan oleh pasukan pemberontak Sabutai, kota raja menjadi geger, apalagi ketika mendengar bahwa delapan orang jenderal tewas dalam melindungi kaisar. Akan tetapi anehnya, keributan tentang berita ditawannya kaisar segera tenggelam, kalah oleh keributan tentang siapa yang harus menjabat kedudukan kaisar yang sementara kosong itu! Memang sudah menjadi watak manusia yang haus akan kesenangan, haus akan kekuasaan dan kemuliaan duniawi. Untuk mencapai kesenangan-kesenangan yang dirindukan itu, manusia tidak segan-segan berobah menjadi mahluk sebuas-buasnya, kalau perlu menyingkirkan, merobohkan dan membunuh manusia-manusia lain yang menghalang di tengah jalan, yang dianggapnya sebagai perintang tercapainya apa yang dikejar-kejar, yaitu kesenangan, kekuasaan, dan kemuliaan.

Usaha untuk mencoba menolong dan membebaskan Kaisar Ceng Tung hanya dilakukan sembarangan saja, seolah-olah hanya untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi di kota raja, yaitu perebutan kekuasaan yang akhirnya jatuh ke tangan Cing Ti yang mengangkat diri menjadi kaisar pengganti Ceng Tung yang dianggap sudah tewas!

***

Untuk ke sekian kalinya, pasukan kecil itu dipukul mundur oleh barisan penjaga di benteng Sabutai karena jumlah mereka jauh lebih kecil. Kakek gagah perkasa yang memimpin penyerangan itu mengamuk, seperti seekor naga, akan tetapi betapapun gagahnya dia, tidak mungkin dia dapat membobol penjagaan puluhan ribu orang pasukan Sabutai dan anak buahnya, yaitu pasukan yang terdiri dari orang-orang Nomad, pedagang dan penggembala kuda, telah terpukul mundur. Mereka terpaksa melarikan diri memasuki hutan-hutan dan kakek itu berdiri termenung dengan wajah penasaran.

Beberapa orang pimpinan orang Nomad menghadapnya dan di antara mereka ada yang luka-luka. Orang yang tertua di antara mereka berkata, “Saya kira tidak ada gunanya lagi, taihiap. Kedudukan Sabutai terlalu kuat, orang-orangnya terlalu banyak. Tanpa adanya bantuan pasuka Kerajaan Beng, mana mungkin kita dapa menyelamatkan kaisar? Setiap penyerbuan hanya merupakan bunuh diri dan kita sudah kehilangan ratusan orang anak buah.”

Cia Keng Hong, kakek pendekar yang gagah perkasa itu, menarik napas panjang, alisnya berkerut dan dia mengepal tinju. “Sungguh gila! Kenapa dari selatan tidak datang bala bantuan sedangkan sisa pasukan mereka telah lama kembali ke selatan minta bala bantuan? Apakah mereka sudah tidak memperdulikan lagi kaisar mereka yang tertawan musuh?”

Seperti kita ketahui, Cia Keng Hong telah membantu Suku Nomad yang terdiri dari Bangsa Mongol dan Khitan, yang dipimpin oleh Yalu, ketika rombongan ini sedang menggiring kuda mereka dan diganggu perampok yang ternyata adalah anak buah Sabutai juga. Kemudian, Cia Keng Hong memimpin mereka dan teman-teman mereka yang berhasil dikumpulkan untuk mencoba menolong rombongan kaisar ketika rombongan kaisar terjebak di Lembah Nan-kouw, di lorong yang sempit. Akan tetapi, karena jumlah musuh yang jauh lebih banyak, pasukan orang Nomad ini terpukul mundur dan Cia Keng Hong tidak berhasil menyelamatkan kaisar sehingga kaisar menjadi tawanan Sabutai. Dengan hati penuh duka dan juga kagum Cia Keng Hong menyempurnakan jenazah delapan orang jenderal yang gugur secara gagah perkasa itu, kemudian pendekar ini menyusun kekuatan, bergabung dengan pasukan pemerintah yang menjaga di tapal batas dan berusaha untuk menyerang benteng Sabutai dan menolong kaisar yang ditawan. Akan tetapi, usaha yang berkali-kali dilakukan itu gagal terus, dan dengan sia-sia dia menanti bala bantuan dari selatan yang tak kunjung datang. Malam hari itu, kembali mereka telah gagal dan para pemimpin Suku Nomad mulai merasa putus asa dan mulai merasa berat untuk mengorbankan orang-orang mereka lebih banyak lagi demi kepentingan Kaisar Beng, sedangkan bala bantuan dari Kerajaan Beng tidak kunjung datang.

Setelah melihat sikap pasukan orang-orang Nomad yang membantunya menentang Sabutai, dan mendengar pendapat-pendapat, para pemimpin mereka yang mulai merasa putus asa karena banyaknya korban di kalangan mereka dan gagalnya penyerbuan mereka terhadap benteng Sabutai yang amat kuat itu, Cia Keng Hong lalu berkata kepada mereka, ditujukan kepada Yalu, pemimpin suku pedagang kuda yang pernah dibantunya ketika suku ini diserbu oleh pencuri-pencuri kuda.

“Aku dapat mengerti akan keadaan kita, dan aku ikut prihatin melihat jatuhnya banyak korban. Akan tetapi, kita telah melangkah jauh, menentang kemaksiatan dan pemberontakan, sudah banyak pula korban yang jatuh bagaimana kita dapat mundur begitu saja? Harap kalian tenang dan menanti di sini, aku besok akan berangkat ke selatan untuk mencari bala bantuan. Percayalah, aku dahulu sudah banyak membantu kerajaan, bahkan pernah bekerja sama dengan mendiang Panglima Besar The Hoo, maka tentu aku akan berhasil mendatangkan barisan besar untuk menggempur benteng Sabutai dan menyelamatkan sri baginda kaisar.”

Yalu dan teman-temannya tentu saja merasa setuju dan girang. Mereka hanya merasa jerih kalau harus menyerang benteng yang kuat itu lagi, akan tetapi kalau hanya menanti, kemudian memperoleh kesempatan membalas kematian teman-teman dan anak-anak buah mereka, tentu saja mereka merasa girang. Maka berundinglah para pimpinan itu dengan Cia Keng Hong yang sudah mengambil keputusan untuk berangkat sendiri ke selatan.

Selagi mereka melakukan perundingan dengan serius, tiba-tiba terdengar suara gaduh, disusul suara suitan-suitan yang menjadi tanda bahwa tempat itu kedatangan musuh! Tentu saja para pemimpin Suku Bangsa Nomad itu terkejut sekali, akan tetapi dengan tenang Cia Keng Hong berkata, “Harap jangan gugup. Kalian perintahkan anak buah masing-masing untuk mundur dan berpencar. Aku akan lebih dulu pergi memeriksa apa yang terjadi!” Baru saja habis kata-kata ini, orangnya sudah lenyap dari situ karena pendekar sakti itu telah mempergunakan ilmu kepandaiannya untuk melesat keluar perkemahan dengan cepat sekali!

Seperti juga dengan lain pemimpin yang cepat berlarian keluar, Cia Keng Hong merasa lega ketika mendengar bahwa ribut-ribut itu bukan disebabkan oleh serbuan musuh, melainkan hanya dua orang mata-mata musuh yang telah dikepung!

“Mereka itu lihai bukan main sampai kami kewalahan dan banyak sudah kawan-kawan yang roboh oleh mereka.”

Mendengar laporan ini, Cia Keng Hong menjadi marah dan penasaran, dia lalu mempercepat larinya menuju ke tempat di mana anak buah Suku Bangsa Nomad itu sedang berteriak-teriak mengepung dua orang. Ketika tiba dekat, Cia Keng Hong terkejut bukan main.

Dia tidak mengenal kakek dan nenek yang sedang duduk di atas tanah, saling beradu punggung dan kini mereka berdua menggerak-gerakkan tongkat butut mereka di atas tangan sambil bernyanyi-nyanyi itu. Nyanyian itu diucapkan dalam bahasa asing, dan biarpun dia tidak menguasai bahasa itu, Cia Keng Hong yang berpengalaman luas mengenal Bahasa Sailan. Dua orang kakek dan nenek berkebangsaan Sailan muncul di tempat itu, sungguh mengherankan. Akan tetapi yang mengejutkan hati pendekar sakti ini bukan kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang asing dari barat itu, melainkan menyaksikan kelihaian mereka yang luar biasa. Mereka itu kelihatannya hanya memukul-mukulkan tongkat butut ke atas tanah di depan mereka, sama sekali tidak memperdulikan pengeroyokan puluhan orang yang menyerang mereka kalang-kabut dengan senjata mereka. Akan tetapi kenyataannya, tidak ada sebuahpun senjata para pengeroyok yang mengena tubuh mereka karena selalu tertangkis oleh tongkat butut dan bayangan tongkat sedangkan setiap kali tongkat mereka memukul tanah, pasir dan tanah muncrat meluncur ke depan, mengenai para pengeroyok dan hebatnya, pasir dan tanah ini sudah sanggup merobohkan banyak sekali orang-orang yang mengeroyok itu! Sekali pandang saja tahulah Cia Keng Hong bahwa dua orang tua itu adalah orang-orang yang amat lihai, gerakan tongkat mereka mengeluarkan angin menderu sehingga semua senjata lawan terhalau, dan tanah dan pasir yang beterbangan merobohkan para pengeroyok itu adalah akibat pencokelan dengan ujung tongkat dan tentu saja ada tenaga sin-kang yang amat kuat tersalur di tangan mereka untuk dapat melakukan serangan balasan itu. Apalagi kalau dia memandang ke arah wajah mereka yang tertimpa sinar layung matahari senja itu, dia makin kaget karena wajah putih kapur dari kakek itu, dan wajah hitam hangus dari nenek itu, adalah akibat dari hawa beracun yang agaknya dilatih oleh dua orang tua itu, seperti yang kadang-kadang dapat ditemukan di antara tokoh-tokoh kaum sesat yang berilmu tinggi.

“Harap kalian semua mundur!” Cia Keng Hong berseru dan mendengar seruan pendekar tua yang mereka kagumi itu, semua pengeroyok mundur sambil menyeret belasan orang yang telah menjadi korban sambaran tanah dan pasir. Ternyata tanah dan pasir itu menyambar muka dan tubuh mereka demikian kerasnya sehingga menembus kulit daging, seperti peluru-peluru kecil dari baja saja! Mereka semua memandang kepada Cia Keng Hong penuh harapan, karena merekapun maklum bahwa dua orang kakek itu tentu merupakan orang-orang luar biasa yang tidak mungkin dapat dilawan oleh tenaga biasa, dan agaknya hanya Pendekar Sakti Cia Keng Hong saja yang akan dapat menghadapi mereka. Maka semua orang segera mundur dan duduk menonton, membuat lingkaran lebar. Juga Yalu dan teman-temannya yang sudah tiba di situ memberi isyarat agar orang-orang mereka diam saja jangan mengganggu Cia Keng Hong, akan tetapi juga harus siap menghadapi segala kemungkinan.

Cia Keng Hong melangkah maju, dan kebetulan saja dia kini berhadapan dengan kakek bermuka putih yang masih duduk bersila, sedangkan nenek itupun masih duduk di belakangnya, beradu punggung dan bersila pula. Kakek itu mengangkat muka memandang dan sejenak mereka beradu pandang dengan penuh selidik. Karena Cia Keng Hong tidak mengenal mereka, juga tidak tahu apakah maksud kedatangan mereka, maka dia tidak berani bersikap kasar.

“Ji-wi locianpwe, harap ji-wi suka memaafkan kalau para teman kami bersikap kasar terhadap ji-wi, karena tidak mengenal ji-wi locianpwe. Kalau boleh kami bertanya, siapakah ji-wi locianpwe yang terhormat dan apakah maksud kedatangan ji-wi?”

Mendengar suara yang mengandung wibawa dan tenaga khi-kang kuat itu, si kakek bermuka putih memandang tajam, bahkan nenek muka hitam itupun menoleh dan kini sekali bergerak, tubuhnya yang tadi bersila membelakangi kakek itu, tahu-tahu telah pindah ke sebelah si kakek dan ikut memandang tajam.

Kakek itu lalu terkekeh dan tongkatnya bergerak memukul tanah. Kini bukan pasir dan tanah halus yang berhamburan, melainkan segumpal tanah keras terbang ke arah muka Cia Keng Hong! Pendekar ini mengerutkan alis, menggerakkan tangannya dan sekali sampok saja gumpalan tanah itu meluncur ke depan si kakek dan amblas masuk ke dalam tanah saking kerasnya pendekar ini menyampok. Kakek dan nenek itu kelihatan terkejut dan memandang makin tajam penuh selidik.

“Engkau siapa?” Kakek itu bertanya tanpa menjawab pertanyaan Cia Keng Hong tadi.

“Nama saya Cia Keng Hong,” jawab pendekar itu dengan sikap tenang.

Akan tetapi mendengar nama ini, kakek dan nenek itu sama sekali tidak tenang, bahkan terkejut sekali, memandang kepada Cia Keng Hong dengan mata terbelalak.

“Engkau Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai?” Nenek itu bertanya, suaranya tinggi mendesis seperti ular marah.

“Benar,” Keng Hong mengangguk.

“Kau dahulu kaki tangan si keparat The Hoo?” Kakek itupun membentak sehingga Keng Hong menjadi kaget. Kiranya dua orang ini adalah bekas musuh-musuh mendiang Panglima Besar The Hoo.

“Saya dahulu sahabat mendiang Panglima The Hoo,” dia menjawab dan kini balas memandang penuh selidik.

“Dan kau yang memimpin orang-orang ini menyerbu benteng Mongol?” kembali kakek itu bertanya.

Keng Hong mengangguk. “Secara curang, Sabutai telah menawan Kaisar Beng, maka kami berusaha untuk membebaskan beliau.”

“Ha-ha-ha-ha!” Kakek bermuka putih itu tertawa, sehingga mulutnya terbuka dan tidak nampak sebuahpun gigi. “Cia Keng Hong manusia sombong! Kau tadi tanya siapa kami dan apa keperluan kami datang ke sini? Bukalah mata dan telingamu baik-baik. Kami adalah Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko dan calon Kaisar Sabutai adalah murid kami. Kedatangan kami di sini adalah untuk membunuh engkau dan membasmi semua anak buahmu!”

Mendengar bahwa dua orang tua itu adalah guru Sabutai, marahlah Yalu. Dia tadi bersama teman-temannya telah mempersiapkan pasukan anak panah, maka begitu mendengar siapa adanya dua orang itu yang datang mengacau itu, Yalu sudah memberi isyarat kepada pasukan panahnya. Belasan batang gendewa dipentang dan anak-anak panah dilepaskan. Terdengar suara berdesing-desing ketika belasan batang anak panah menyambar ke arah dua orang tua yang masih duduk bersila berdampingan itu. Mereka hanya terkekeh, sama sekali tidak mengelak atau menangkis.

“Suuingggg... wirrr... takk-takk-takkk!” Semua anak panah tepat mengenai sasaran, yaitu tubuh kakek dan nenek itu, akan tetapi betapa kaget hati Yalu dan kawan-kawannya melihat semua anak panah yang mengenai tubuh mereka itu seperti mengenai dua buah arca besi dan patah-patah, runtuh ke atas tanah di sekitar tubuh kedua orang tua itu!

“Serang...!” Yalu berteriak dan bersama tiga orang temannya, yaitu kepala-kepala Suku Nomad yang bertubuh tinggi besar dan kuat, dia sudah menerjang ke depan. Terlambat Cia Keng Hong mencegah, karena empat orang tinggi besar itu sudah menyerbu dengan golok di tangan membacok dengan ganas.

Terdengar dua orang tua itu terkekeh, lalu tiba-tiba mereka meloncat dan nampak segulungan sinar ketika mereka menggerakkan tongkat.

“Cring-cring-tranggg...!” Empat batang golok yang menyambar itu bertemu dengan gulungan sinar, seperti dibelit oleh sinar itu dan terdengar teriakan mengerikan ketika senjata-senjata itu seperti dipaksa membalik dan menghunjam dada pemegangnya sendiri!

Cia Keng Hong menjadi marah sekali. Cepat dia meloncat ke depan, kedua tangannya menyerang dengan pukulan tangan terbuka ke arah kakek dan nenek itu.

“Ihhhh...!” Hek-hiat Mo-li memekik.

“Aihh...!” Pek-hiat Mo-ko juga berteriak. Keduanya meloncat ke belakang dan robohlah empat orang pimpinan Suku Nomad itu, dengan golok menembus dada dan tewas seketika! Keng Hong memandang dengan penuh penyesalan. Akan tetapi, para suku Nomad yang melihat pemimpin mereka tewas, menjadi marah sekali. Sambil berteriak-teriak mereka mendekat dengan sikap mengancam. Keng Hong yang maklum bahwa kalau mereka maju berarti hanya mengantar nyawa secara sia-sia belaka, lalu mengangkat tangan dan berseru nyaring penuh wibawa, “Mundur semua! Biarkan aku menghadapi dua iblis ini!”

Semua orang mentaati dan mengurung tempat itu. Sedangkan Keng Hong yang maklum bahwa dua orang lawannya itu lihai sekali, sudah mengeluarkan suara melengking nyaring dan panjang seperti pekik seekor burung rajawali yang menantang musuh, kemudian dengan tangan kosong tubuhnya sudah mencelat ke depan dan menyerang nenek dan kakek itu dengan jurus-jurus maut dari Ilmu Silat San-in-kun-hoat. Dalam segebrakan saja pendekar ini telah menghantam ke arah ulu hati Pek-hiat Mo-ko dan sekaligus tangannya menampar ke arah ubun-ubun kepala nenek Hek-hiat Mo-li dan sukar dikatakan mana di antara kedua serangan ini yang lebih berbahaya karena keduanya adalah gerakan maut yang kalau mengenai sasaran sukar bagi lawan untuk membebaskan diri dari maut. Kedua orang tua yang amat lihai itu terkejut, akan tetapi ternyata kakek dan nenek tua yang kelihatan sudah pikun itu masih memiliki kesigapan yang mengagumkan. Mereka berdua tidak saja dapat meloncat sambil mengelak, malah lompatan mereka itu membuat mereka berpencar dan mengurung Keng Hong dari depan belakang, kemudian secara langsung mereka membalas. Mereka berdua mengeluarkan teriakan-teriakan mengerikan dan Hek-hiat Mo-li sudah menghantamkan tangan kanannya dari belakang ke arah punggung Keng Hong. Sedangkan Pek-hiat Mo-ko juga menampar dengan telapak tangan ke arah dada pendekar sakti itu. Dari telapak tangan Hek-hiat Mo-li mengepul asap hitam, sedangkan dari tangan Pek-hiat Mo-ko mengepul asap atau uap putih! Itulah bukti betapa hebatnya sin-kang mereka dan tangan beracun mereka.

Cia Keng Hong mengenal lawan tangguh. Secara otomatis kuda-kuda kedua kakinya bergerak ke kiri seperempat lingkaran sehingga kalau tadi kedua lawan berada di depan dan belakang, kini yang di depan menjadi di sebelah kanannya sedangkan yang tadinya di belakang menjadi di sebelah kirinya. Kedua lengannya dikembangkan ke kanan kiri dan dengan tepat sekali dia telah menyambut pukulan kedua orang lawannya dari kanan kiri itu dengan dorongan tangannya yang terbuka sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

“Plak! Plakk!”

Hek-hiat Mo-li terpekik dan terhuyung dua langkah ke belakang, sedangkan Pek-hiat Mo-ko hanya terhuyung satu langkah ke belakang. Kedua kaki Cia Keng Hong sendiri ambles ke tanah sampai beberapa senti dalamnya. Diam-diam pendekar ini terkejut, maklum bahwa tenaga kedua orang lawan itu hampir setingkat kuatnya dengan tenaganya sendiri, dan ternyata si kakek itu sedikit lebih kuat daripada si nenek.

“Cia Keng Hong, engkau akan mampus di tanganku!” teriak Pek-hiat Mo-ko.

“Biar kau menyampaikan tantangan kami kepada The Hoo si keparat yang berada di neraka!” Hek-hiat Mo-li juga berteriak.

Dua orang tua itu lalu menancapkan tongkat masing-masing di atas tanah, kemudian mereka menggosok-gosok kedua tangan mereka sehingga nampak uap mengepul makin tebal dan terasa ada hawa panas datang dari tubuh nenek itu, akan tetapi dari tubuh kakek itu menyambar hawa dingin! Kembali Keng Hong terkejut, namun dia tidak kehilangan ketenangannya dan berdiri di tengah-tengah, kedua kakinya memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, yaitu kedua kaki terpentang lebar, lutut ditekuk dan tubuh tegak seperti seorang yang menunggang kuda. Memang pasangan kuda-kuda itu adalah yang disebut “Menunggang Kuda”, kokoh kuatnya seperti kedua kaki telah berakar di bumi, namun ringannya seperti kaki burung yang siap terbang. Tangan kanan di pinggang kanan, jari-jarinya terbuka dan membentuk cakar garuda, sedangkan jari-jari tangan kiri lurus di depan dada kiri. Seluruh tubuhnya sama sekali tidak bergerak, seolah-olah dia telah menjadi patung, dan hanya sepasang matanya yang masih tajam itu mengerling ke kanan kiri, mengikuti gerak-gerik kedua orang musuhnya yang lihai itu.

“Yieeeehhh...!” Hek-hiat Mo-li sudah menerjang dari kiri, menggunakan kedua tangannya yang berobah hitam itu untuk mencengkeram.

“Aarrggghhhh...!” Pek-hiat Mo-ko juga mengeluarkan suara gerengan seperti biruang, kedua tangannya menyerang pula dengan pukulan-pukulan tangan kosong dari kanan.

Keng Hong maklum bahwa dengan menancapkan tongkat di tangan lalu menyerang dengan tangan kosong, tentu kakek dan nenek itu lebih mengandalkan kelihaian tangan mereka yang jelas mengandung hawa beracun yang jahat. Maka dia tidak berani memandang rendah dan melihat betapa serangan nenek itu lebih dulu sedetik, dia cepat menghadapinya dengan memutar tubuh ke kiri tanpa mengalihkan kedua kakinya yang terpentang lebar. Dengan tangan berputar, jari-jarinya menuding ke atas dan ke bawah, dia memapaki serangan nenek yang mencengkeramnya. Pendekar sakti ini menggunakan gerakan “Menyembah Langit dan Bumi”, suatu gerakan yang amat ampuh, apalagi karena dilakukan dengan pengerahan tenaga sin-kang yang kuat sehingga dari gerakan kedua tangannya itu menyambar hawa pukulan dahsyat. Akan tetapi, pendekar ini hanya menangkis saja karena dari sambaran angin di sebelah kanannya, dia maklum bahwa serangan Pek-hiat Mo-ko sudah tiba pula.

“Desss! Plakk!” Tubuh nenek itu mencelat ke belakang dan Keng Hong sudah memutar tubuh ke kanan, melengkungkan tubuh ke kiri dan meluruskan kaki kanan sehingga tubuh atasnya menjauh. Dia melihat pukulan kedua tangan kakek itu datang mengancamnya dengan hebat, tangan kanan kakek itu menusuk ke arah matanya sedangkan tangan kiri digerakkan seperti sebatang golok menusuk ke arah ulu hatinya! Datangnya serangan amat cepat, didahului uap putih yang mengeluarkan hawa dingin sekali! Untuk mengelak sudah tidak ada waktu, maka Keng Hong lalu menyambut serangan ke matanya dengan tangan kiri, sedangkan tusukan ke dadanya dia terima begitu saja! Dia tidak berani menggunakan tangan kanannya karena tangan itu perlu dia persiapkan untuk menghadapi serangan nenek dari belakangnya.

“Plakk! Bukk!” Tangan kanan kakek bermuka putih itu bertemu dengan tangan kiri Cia Keng Hong, sedangkan jari-jari tangan kiri kakek itu menghantam dengan jari-jari terbuka ke dada pendekar sakti ketua Cin-ling-pai. Akibatnya hebat! Kakek bermuka putih itu terbelalak, mukanya yang putih itu menjadi makin pucat dan matanya bergerak liar, mulutnya mengeluarkan teriakan-teriakan aneh dalam bahasa asing. Kiranya Cia Keng Hong telah mempergunakan ilmunya yang amat hebat, yaitu Thi-khi-i-beng, sehingga begitu kedua tangan Pek-hiat Mo-ko bertemu dengan tangan kiri dan dadanya, kedua tangan kakek muka putih itu melekat dan langsung saja tenaga sin-kangnya membanjir keluar, tersedot melalui tangan dan dada ketua Cin-ling-pai!

Akan tetapi Keng Hong juga merasa khawatir karena sin-kang yang memasuki tubuhnya itu mengandung racun yang berhawa dingin, mengendalikan tenaganya agar tidak menyedot terlampau banyak dan Thi-khi-i-beng itu hanya dipergunakan untuk menundukkan lawan saja.

“Ahhhhh...!” Pek-hiat Mo-ko mengeluarkan pekik nyaring dan mukanya menunjukkan kekagetan dan kengerian. Melihat ini, Hek-hiat Mo-li dapat menduga bahwa temannya itu terancam bahaya, apalagi dia melihat betapa kedua tangan temannya seperti melekat pada tubuh ketua Cin-ling-pai, maka sambil mengeluarkan suara melengking nyaring nenek inipun menyerang hebat dengan pukulan tangannya ke arah tengkuk Keng Hong.

“Wuuuuttt... plak! Plak!” Kembali Keng Hong menghadapi musuhnya yang tidak kalah lihainya daripada kakek itu dengan penggunaan Thi-khi-i-beng yang tersalur di seluruh tubuhnya. Tangan kanannya menyambut hantaman nenek itu sehingga kedua tangan mereka bertemu dan saling menempel, sedangkan tamparan tangan kanan nenek itu ke arah punggungnya dia biarkan saja karena Ilmu Thi-khi-i-beng menyambut pukulan itu, membuat tangan si nenek melekat di punggungnya.

Aihhhh...!” Hek-hiat Mo-li juga memekik ngeri ketika merasa betapa tenaga sin-kangnya membanjir keluar tanpa dapat dicegahnya, sedangkan ketika dia hendak menarik kedua tangannya, ternyata dua tangan itu sudah melekat pada tubuh lawan dan tidak dapat ditariknya lepas!

Akan tetapi, pada saat dua orang kakek dan nenek itu terkejut dan khawatir sekali menghadapi ilmu aneh yang selamanya belum pernah mereka hadapi itu, ilmu yang membuat kedua tangan mereka melekat pada tubuh lawan dan yang membuat tenaga sakti mereka membanjir keluar, di lain fihak Cia Keng Hong juga terkejut dan maklum bahwa kalau dia melanjutkan penggunaan Thi-khi-i-beng, dia sendiri tidak urung akan celaka karena tenaga sin-kang yang membanjir keluar dari tubuh dua orang lawannya itu mengandung hawa beracun yang amat jahat dan berlawanan sifatnya, yaitu hawa beracun dari kakek itu amat dingin sebaliknya tubuh nenek itu mengeluarkan hawa yang amat panas. Di sebelah dalam tubuhnya bisa keracunan dan rusak oleh dua hawa beracun yang saling berlawanan ini.

Pendekar sakti dari Cin-ling-pai ini tentu saja tidak sudi untuk mengadu nyawa dengan kedua orang lawannya, maka dia cepat merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lututnya, kemudian dengan berbareng dia melepaskan tenaga sakti Thi-khi-i-beng dan pada saat itu juga tubuhnya meluncur ke depan sehingga terlepaslah dia dari kedua orang lawannya.

Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li yang merasa betapa tenaga mujijat yang membuat tangan mereka melekat itu tiba-tiba lenyap, kalah cepat dan sebelum mereka sempat memukul, tubuh lawan yang sakti itu telah meluncur ke depan. Mereka menjadi marah sekali, akan tetapi juga agak jerih karena mereka maklum bahwa lawan ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi dan aneh. Dengan hati-hati dan dengan mata mengandung sinar berapi, nenek dan kakek itu kembali menerjang Keng Hong dengan pukulan-pukulan yang dikerahkan sekuatnya, mengandung hawa beracun bergulung-gulung berbentuk uap hitam dan putih. Cia Keng Hong yang sudah maklum bahwa tingkat kepandaian dua orang lawan ini tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya sendiri, menghadapi mereka dengan waspada dan hati-hati, kini bersilat dengan dasar ilmu silat tinggi Thai-kek-sin-kun sehingga tubuhnya seolah-olah berobah menjadi bayang-bayang saja yang sukar sekali dapat disentuh oleh kedua orang lawan.

Tiba-tiba Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li mengeluarkan pekik panjang dan mereka merobah gerakan mereka. Keng Hong terkejut sekali. Kini dua orang itu tidak bergerak menyendiri, melainkan mereka bersilat dengan gerakan bergabung! Pek-hiat Mo-ko berputaran dan kaki tangannya menghujankan serangan dari kanan ke kiri, sedangkan Hek-hiat Mo-li berputar dari kiri ke kanan. Gerakan mereka saling membantu dan saling mengisi sehingga Keng Hong menjadi sibuk menghadapi lawan yang seolah-olah merupakan seorang lawan yang dapat memecah diri menjadi dua, yang gerakan-gerakannya demikian otomatis sambung-menyambung, saling melindungi dan saling membantu. Dia terkejut dan kagum sekali karena dia maklum bahwa dua orang ini telah menciptakan semacam ilmu silat mujijat yang dimainkan secara berbareng oleh dua orang. Dia percaya bahwa kalau dua orang ini bersilat seperti itu, mereka kuat sekali dan biar menghadapi pengeroyokan banyak orangpun akan mampu saling melindungi. Dia sendiri mulai terdesak dan dua kali sudah dia terkena pukulan pada pundak kirinya dan totokan pada pangkal lengannya. Untung dia masih sempat melindungi bagian yang terpukul dan tertotok itu dengan sin-kang, kalau tidak tentu dia sudah terluka keracunan. Betepapun juga, pendekar sakti ketua Cin-ling-pai ini terdesak hebat dan harus diakuinya bahwa baru sekarang selama puluhan tahun ini dia bertemu tanding yang demikian lihainya.

Hanya karena Cia Keng Hong mahir ilmu silat sakti Thai-kek-sin-kun sajalah maka dia masih mampu bertahan, sungguhpun dia terdesak dan tidak mampu melakukan serangan balasan. Sayang, pikirnya. Kalau Siang-bhok-kiam berada di tangannya, dia tidak akan gentar menghadapi dua orang ini, dan tentu dia tidak akan terdesak seperti sekarang ini.

“Desss...! Plak-plak...!” Kembali Cia Keng Hong terpaksa menerima dua kali tamparan Hek-hiat Mo-li yang mengenai punggung dan pundaknya setelah dia menangkis hantaman Pek-hiat Mo-ko. Sekali ini, hebatnya tamparan membuat kepalanya pening dan tubuhnya terhuyung dan dadanya sesak. Untung baginya bahwa tangkisannya yang keras sebelumnya telah membuat tubuh Pek-hiat Mo-ko terpelanting. Kalau tidak, dalam keadaan terhuyung itu tentu sukar baginya untuk menyelamatkan diri.

Melihat betapa jago mereka terhuyung-huyung, sedangkan pertempuran itu berjalan lambat sehingga mereka memandang rendah kepada kakek dan nenek itu, empat orang anggauta pasukan Mancu menyerbu dengan tombak di tangan, langsung menyerang kakek dan nenek itu.

“Jangan...!” Cia Keng Hang membentak, namun terlambat. Empat orang itu telah menyerang dan menusukkan tombak mereka.

“Trakk-trakkk... desss!”

lanjut ke Jilid 27-->

<--kembali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar