Rabu, 15 Januari 2014

Jodoh Rajawali Jilid 14.

Jodoh Rajawali Jilid 14.
Jodoh Rajawali Jilid - 14 Bu Kek Sian Su (10) Jodoh Rajawali Jilid - 14 “Ya ampuuunnnnnn....! Kiranya eng¬kau ini? Aha, kalau begitu lanjutkan usahamu itu, Siluman Kecil. Lanjutkan selagi aku menjadi saksi di sini. Aihhh, betapa akan senangnya menjadi orang satu-satunya yang menyaksikan betapa Si¬luman Kecil yang tersohor itu ternyata hanyalah seorang laki-laki yang berhati kecil pula seperti julukannya, seorang pengecut yang mudah patah hati, seorang laki-laki cengeng yang mudah mendapat dorongan hasrat untuk membunuh diri. Hi-hik, teruskanlah bunuh diri di depan¬ku, aku akan senang sekali!” Kian Bu bangkit berdiri dan meman¬dang dengan melongo, lalu dia maju be¬berapa langkah, memandang wajah cantik jelita dan manis itu penuh selidik. Melihat sinar mata, yang mencorong dari pemuda berambut putih itu, diam-diam gadis itu bergidik. Gadis itu tentu saja adalah Hwee Li, puteri ketua Pulau Ne¬raka! “Ihhh! Kenapa kau memandang aku seperti itu?” bentaknya dengan suara di¬bikin galak untuk menutupi rasa ngeri¬nya. Dia sebenarnya merasa ngeri ter¬hadap pemuda berambut putih ini yang dia tahu memiliki kepandaian amat tinggi sehingga dia sama sekali tidak akan mampu menang melawannya. Kalau dia bersikap angkuh dan berani, hal itu hanya dilakukan agar dia jangan dipandang rendah saja! Memang, biarpun dia sudah dewasa, Hwee Li masih belum dapat menghilangkan sifat kekanak-kanakannya. Suma Kian Bu dahulunya adalah se¬orang pemuda yang berwatak penuh ke¬riangan, gembira dan jenaka, juga bengal dan pandai bicara, pandai berdebat dan suka menggoda orang (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali). Setelah dia meng¬alami pukulan batin karena cinta kasihnya terhadap Puteri Syanti Dewi me¬nemui kegagalan dan kekecewaan, ke¬mudian ditambah lagi oleh latihan ilmu penggabungan tenaga Im dan Yang dari Pulau Es yang membuat rambutnya meng¬alami perubahan warna, dia menjadi se¬orang pendiam yang penuh rahasia. Pen¬diam karena dia seperti terbenam dalam tumpukan kedukaan dan kekecewaan yang membuat dia menjadi pemurung, kadang¬kadang ganas akan tetapi tentu saja sebagai seorang yang berjiwa satria, keganasannya hanya ditujukan kepada kaum penjahat saja. Kini dia telah ber¬jumpa dengan kakaknya dan hal ini mem¬bangkitkan atau setidaknya sedikit mem¬bongkar sifatnya yang tadinya sudah tertimbun oleh kedukaan itu, mengingat¬kannya akan keluarganya sehingga timbul kembali gairah hidupnya. Kini, bertemu dengan gadis berpakaian hitam yang amat lincah jenaka dan galak ini sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong dan wajahnya mulai agak berseri, seolah¬-olah mulai ditanggalkanlah sedikit demi sedikit topeng kedukaan yang selama ini menutupi wajah aselinya. “Nona, apakah otakmu miring?” Tiba¬-tiba Kian Bu yang sudah mulai “menemu¬kan” kembali sifat kegembiraannya itu bertanya sambil memandang tajam. Dia bukan sekedar menggoda atau balas meng¬ejek, melainkan bertanya sungguh-sungguh karena memang dia mulai menyangka dengan perasaan sayang bahwa gadis yang demikian cantik jelita dan berke¬pandaian tinggi itu agaknya gila. Bukti¬nya, dulu pun sudah mencari keributan dengan dia untuk perkara yang bukan¬-bukan saja, dan sekarang bicaranya be¬gitu tidak karuan! Hwee Li merasa seperti disengat kalajengking ketika mendengar pertanya¬an itu. Ada rasa kaget, heran akan te¬tapi marahlah yang lebih besar menguasainya sehingga biarpun matanya terbuka lebar amat indahnya, namun bibirnya cemberut meruncing dan sepasang alis yang hitam kecil panjang itu berkerut. “Siluman Gila! Engkau adalah seorang gila, bunuh diri merupakan perbuatan gila, dan kau masih mengatakan orang lain gila. Sungguh gila!” Hwee Li mem¬beri tekanan kepada setiap kata “gila” sehingga dia seolah-olah telah membalas dengan makian gila kepada Siluman Kecil sampai empat kali gila! Melihat cara gadis ini melampiaskan rasa mendongkolnya, Kian Bu tak dapat menahan diri lagi dan dia tersenyum. Senyum pertama semenjak dia berjuluk Siluman Kecil! Sebelum ini, kalau toh dia tersenyum, maka senyumnya itu tentulah hanya senyum untuk bersopan-sopan saja, senyum paksaan. Akan tetapi baru sekali ini dia tersenyum yang terdorong oleh kegembiraan hati. “Nona ular....“ “Engkau makin kurang ajar!” Hwee Li membanting kaki kanannya. “Harus disebut apa kalau tidak mau dinamakan nona ular? Engkau ke mana-¬mana membawa ular yang menjijikkan!” Tidak lebih menjijikkan daripada manusia, apalagi yang gila seperti eng¬kau!” Hwee Li balas menyerang. “Hemmm....kau mengingatkan aku akan sebuah syair....” “Wah, orang gila mau bersyair, coba kudengarkan sampai di mana kegilaannya!” “Manusia adalah mahluk gila yang tidak mengenal kegilaannya! Yang gila mengaku waras yang waras dimaki gila! Adakah yang lebih gila daripada manusia?” Hwee Li bersorak. “Bagus, bagus! Nah, syair itu menggambarkan keadaan dirimu sendiri, hi-hik! Sudah kusangka bahwa engkau memang Siluman Gila, Siluman Gila yang kecil!” Kian Bu yang belum pulih semua ke¬lincahannya merasa kewalahan juga meng¬hadapi dara yang ternyata pandai sekali berdebat ini. “Nona, kau tadi datang¬-datang membentak sampai aku kaget, lalu tiada hujan tiada angin kau memaki aku pengecut, cengeng, rendah dan gila yang akan membunuh diri. Sikapmu itu¬lah yang membuat aku mengira engkau berotak miring.” “Habis, mau apa engkau melongok-longok ke bawah tebing securam itu kalau bukan untuk bunuh diri? Ataukah engkau bercanda dengan kabut yang melayang di bawah kaki? Nah, itu pun merupakan tanda-tanda bahwa engkau gil....” “Sudahlah, jangan engkau mengobral makian. Sungguh tidak pantas maki-maki¬an keluar dari mulut yang begitu indah.” Sepasang mata itu terbelalak, lalu dia mengangguk-angguk. “Hemmm, sekarang baru aku mengerti mengapa Cui Lan jatuh hati kepadamu. Kiranya engkau adalah seorang laki-laki yang selain ber¬kepandaian tinggi, berwajah tampan dan berambut aneh, juga pandai merayu!” Kian Bu bengong. “Aku? Merayu?” “Menyangkal lagi! Baru saja kau bi¬lang mulutku indah....“ “Kalau memang benar mulutmu indah, harus berkata bagaimana aku ini? Lihat, bentuk bibirmu amat indah, kemerahan dan segar, kalau tersenyum gigimu kecil berderet rata dan putih berkilau, dan lesung pipit di kanan kiri mulutmu meng¬intai. Benar indah mulutmu. Apakah aku harus bilang mulutmu buruk dan jelek? Aku tidak merayu, hanya bicara sebenar¬nya. Salahkah itu?” Kian Bu mulai me¬nemukan kembali kepandaiannya berdebat dan kini Hwee Li yang menjadi bengong, mencari-cari jawaban yang tepat. Akan tetapi sekali ini sukar dia membantah. Wanita mana yang tidak suka akan puji¬an? Dan pujian dari Siluman Kecil itu begitu wajar dan terbuka, begitu lang¬sung dan jelas bukan pujian kosong! Tan¬pa disadarinya, warna kemerahan men¬jalar di kedua pipi yang halus putih itu. “Sudahlah!” katanya gemas karena tidak berdaya untuk menangkis. “Ketahui¬lah, Siluman Kecil, hatiku masih pena¬saran dan benci kepadamu kalau aku teringat kepada Cui Lan!” “Hemmm, mengapa tidak kaulupakan saja dia?” “Huh, pantas! Apa kau tidak peduli betapa dara yang cantik jelita dan halus budi pekertinya itu jatuh cinta kepada¬mu? Dia tergila-gila kepadamu, sungguh tolol mengapa seorang gadis seperti dia bisa tergila-gila kepada seorang seperti¬mu ini. Dia tergila-gila kepadamu, hati¬nya merana penuh kerinduan kepadamu, dan kau bersikap tidak peduli kepadanya! Bukankah hal itu membuktikan bahwa engkau sebenarnya adalah seorang yang kejam, keji, dan jahat, suka melihat kesengsaraan yang diderita seorang wa¬nita?” Melihat dara itu hendak nerocos terus menyerangnya dengan kata-kata tajam, Kian Bu cepat mengangkat tangan ke atas. “Stop! Engkau salah mengerti dan tidak mengerti, Nona. Aku memang per¬nah menolong Nona Cui Lan. Dan dia jatuh cinta kepadaku, hal ini aku mengetahuinya. Akan tetapi, salahkah aku ka¬lau ada seorang gadis jatuh cinta ke¬padaku? Salahkah aku kalau aku tidak membalas cintanya? Engkau sungguh tidak mengerti. Hanya karena aku me¬rasa amat kasihan kepadanya sajalah maka aku sengaja bersikap tidak peduli dan kasar kepadanya. Memang sikap itu kusengaja!” Sepasang mata yang bening itu me¬lotot. “Coba, betapa gilanya! Kasihan kepada orang dan menyatakan rasa ka¬sihan itu dengan sikap tidak peduli dan kasar! Seperti baris terakhir dari syair gilamu itu: Adakah yang lebih gila dari¬pada itu?” “Engkau seperti anak kecil saja, dan memang engkau seorang anak-anak yang belum tahu tentang seluk-beluk cinta.” Makin meradang hati Hwee Li. “Eng¬kau makin besar kepala dan sombong saja. Baiklah, Guru Besar, berilah kuliah kepada hamba tentang cinta karena Guru Besar tentu merupakan seorang yang ber¬pengalaman dan ahli tentang cinta!” Hwee Li menjura dengan sikap mengejek. Akan tetapi Kian Bu tidak mempe¬dulikan sikap ini. “Aku sengaja bersikap kasar kepadanya agar dia membenciku! Aku tahu betapa sengsaranya hati yang menderita karena cinta gagal, dan kurasa penderitaannya itu hanya akan berakhir kalau cintanya terhadap aku berubah menjadi benci. Dengan demikian barulah dia akan dapat melupakan aku dan itulah sebabnya aku bersikap kasar kepadanya!” Kian Bu bicara penuh semangat dan Hwee Li menjadi bengong melihat betapa wajah tampan yang tadinya mulai berseri dan bersemangat itu kini kembali men¬jadi muram sekali, penuh duka yang membayang di dalam sinar mata dan tarikan mulutnya. “Ohhh.... begitukah? Kenapa kau tidak dapat mencintanya? Dan bagaimana kau tahu bahwa cinta gagal menimbulkan penderitaan hebat!” “Karena aku sendiri.... ah, sudahlah, Nona. Harap kau tidak lagi mengganggu¬ku. Aku sedang menghadapi kepentingan yang amat besar di sini dan kedatangan¬mu hanya mengganggu terlaksananya kepentingan besar itu. Maaf, aku tidak dapat lama-lama menunda urusanku.” Akan tetapi gadis itu tentu bukan Hwee Li kalau dapat “digebah” sedemiki¬an mudahnya. Dia adalah seorang dara yang keras kepala, lebih keras daripada baja sehingga dia tidak akan mudah saja disuruh pergi sebelum dia sendiri meng¬hendakinya untuk pergi! “Eh, apakah tempat ini milikmu maka kau berani mengusir aku pergi dari sini? Kalau aku tidak mau pergi, kau mau apa?” tantangnya. Siluman Kecil melirik dan menarik napas panjang. Dia tahu bahwa kalau di¬layani, hal itu hanya akan berkepanjang¬an dan mungkin sekali mereka akan ber¬tarung lagi. “Terserah kepadamu, akan tetapi jangan ganggu aku dengan bicara¬mu lagi.” Setelah itu, dia lalu menghampiri tepi tebing, merenung kembali sambil mengasah otaknya, mencari jalan bagaimana dia dapat turun ke dasar te¬bing itu. Setiap orang manusia tentu mem¬punyai sifat ingin tahu. Hwee Li tidak terkecuali. Melihat pemuda itu longak-¬longok memandang ke bawah tebing, dia tidak dapat menahan lagi hasrat ingin tahunya dan dia pun lalu menghampiri tepi tebing dan mulai pula ikut longak¬-longok memandang ke bawah tebing, se¬olah-olah hendak mencari sesuatu yang sedang dicari-cari pula oleh pemuda itu. Kian Bu sudah tenggelam dalam re¬nungannya mencari-cari akal maka dia tidak peduli, bahkan hampir tidak sadar bahwa tak jauh dari situ ada seorang gadis yang juga longak-longok seperti dia menjenguk ke bawah tebing. Akhirnya dia menarik napas panjang dan menggeleng kepala, dan seperti dalam mimpi dia melihat Hwee Li juga menjenguk ke bawah tebing lalu gadis itu mengangkat muka memandangnya. Mereka saling ber¬temu pandang dan Hwee Li bertanya se¬cara otomatis, “Sudah ketemu?” Secara otomatis pula Kian Bu meng¬geleng kepala sambil menjawab, “Be¬lum....“ baru dia terkejut dan sadar, maka sambungnya dengan bentakan. “Ke¬temu apanya?” “Tentu barang yang kaucari-cari itu, apa lagi? Tentu buntalan pakaianmu tadi terjatuh ke bawah tebing ini, bukan? Maka kau sejak tadi mencari-cari. Ku¬ rasa tidak mungkin dapat kelihatan dari sini buntalan itu dan....“ “Buntalan hidungmu!” Kian Bu mem¬bentak dengan hati mengkal karena dia merasa digoda terus-terusan. Hwee Li meloncat berdiri dan kedua tangannya bertolak pinggang. Hampir bertemu jari-jari kedua tangannya di se¬keliling pinggang itu saking rampingnya pinggang gadis ini. Mukanya merah dan matanya bersinar-sinar penuh kemarahan. “Sombong, benar! Engkau berani menghidung-hidungkan orang, ya? Aku sudah susah payah ikut mencari-cari, engkau malah memaki orang sebagai balasan! Hayo berdirilah dan kita selesai¬kan penghinaan ini di ujung kedua kaki tangan!” Kian Bu menarik napas panjang. “Su¬dahlah, Nona. Kita ribut-ribut untuk urusan kosong belaka. Aku tidak mencari buntalan apa pun, tidak ada kehilangan apa pun. Aku sedang mencari akal ba¬gaimana aku dapat turun ke dasar tebing ini. Nah, Nona manis, sudah puaskah engkau sekarang dan sudikah engkau meninggalkan aku untuk melanjutkan usahaku ini?” Hwee Li kembali menjenguk ke bawah tebing, lalu mendengus. “Huh, disebut gila tidak mau akan tetapi mau turun ke dasar tebing! Mau apa sih engkau hendak turun ke sana?” Dengan setengah hati Kian Bu ter¬paksa menjawab, dengan maksud agar dara itu cepat pergi setelah rasa pena¬sarannya dipenuhi, “Aku hendak mencari obat untuk kakakku yang terluka parah, dan obatnya hanya terdapat di dasar tebing itu. Nah, sudah cukupkah penyelidikanmu, Nona? Silakan meninggalkan aku sekarang.” Tiba-tiba Hwee Li tertawa dan Kian Bu mengerutkan alisnya. Terjadi perang di dalam hatinya melihat dara itu ter¬tawa. Di satu fihak, ingin dia menempi¬ling perawan ini, di lain fihak dia kagum melihat wajah itu ketika tertawa. Bukan main indah dan cantiknya ketika tertawa, seperti matahari di senjakala! Cerah namun tidak menyengat! Karena tertawa dara itu tidak dibuat-buat melainkan wajar, maka dia bertanya, “Kenapa kau tertawa?” “Karena sekarang engkau harus ber¬sikap sopan dan ramah kepadaku kalau engkau ingin dapat turun ke dasar tebing sana.” “Hemmm, apa maksudmu?” “Karena, biarpun engkau berjuluk Siluman Kecil, biarpun engkau memiliki kepandaian amat tinggi sehingga engkau mampu mengalahkan Sin-siauw Seng-jin, namun engkau tidak akan mungkin turun ke dasar tebing ini kecuali kalau kau hendak membunuh diri. Karena, hanya aku seoranglah yang dapat menolongmu turun ke sana dengan selamat.” “Jangan main-main, Nona!” “Siapa main-main? Aku berani ber¬taruh potong leher bahwa aku dapat membawamu dengan selamat sampai di bawah tebing sana.” Kian Bu mengerutkan alisnya. “Nona, jangan main-main. Aku menghadapi urus¬an yang amat penting dan aku tahu bah¬wa engkau memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi sedikit banyak aku telah mengukur kepandaianmu itu dan aku yakin bahwa engkau tidak mungkin dapat menggunakan kepandaianmu itu untuk menuruni tebing ini.” “Tentu saja! Siapapun tidak mungkin dapat menuruni tebing ini, akan tetapi dengan terbang, betapa akan mudahnya!” “Terbang? Jangan biiang bahwa kau pandai terbang....“ “Aku sih bukan kupu-kupu yang mem¬punyai sayap. Akan tetapi burung garuda¬ku tentu bisa!” Kian Bu terbelalak. “Kau.... kau mem¬punyai burung garuda?” “Tentu saja, kalau tidak, perlu apa aku banyak bicara kepadamu?” Gadis itu lalu bangkit berdiri, menaruh kedua ta¬ngan di kanan kiri mulutnya kemudian terdengarlah bunyi lengking aneh seperti suara burung dari mulut yang dilindungi dua tangan itu. Kian Bu terkejut. Leng¬king itu memang bunyi lengking untuk memanggil burung seperti rajawali atau garuda! Berkali-kali Hwee Li mengeluar¬kan suara melengking nyaring itu dan tiba-tiba dia menuding ke atas. “Nah, itu dia garudaku!” Benar saja. Seekor burung garuda yang besar menukik turun dan terbang berputaran di atas kepala mereka. Ber¬debar jantung Kian Bu. Memang inilah jalan satu-satunya turun ke sana. Naik punggung garuda! Dan dia bukanlah se¬orang yang asing dengan pengalaman seperti itu. Dia sudah sering kali naik punggung rajawali ketika dia masih ber¬ada di Pulau Es. “Ah, sungguh hebat kau, Nona! Maaf¬kan semua kekasaranku tadi dan sekarang aku percaya. Kautolonglah aku, Nona. Biarkan aku meminjam burungmu itu untuk turun ke sana mencarikan obat untuk kakaku.” “Enaknya! Pinjam! Apa kaukira akan dapat menguasai Sin-eng-cu (Garuda Sak¬ti)? Kau boleh kuboncengkan ke bawah sana, asal engkau mau minta maaf ke¬padaku dan mengatakan siapa adanya kakakmu yang terluka itu. Aku hampir tidak percaya bahwa seorang yang ber¬juluk Siluman Kecil masih mempunyai seorang kakak.” Karena Kian Bu tahu bahwa hanya dengan pertolongan gadis ini sajalah dia akan dapat memperoleh obat untuk ka¬kaknya itu dengan cepat dan pasti, maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menjura dan berkata halus, “Nona, harap kau suka maafkan semua kesalahanku. Kakakku menderita luka dalam yang cukup hebat, kini dirawat oleh Sai-cu Kai-ong, obat¬nya hanya terdapat di daerah bawah te¬bing itu. Kakakku bernama Suma Kian Lee dan....“ “Kian Lee....? Aihhh, kenapa tidak dari tadi-tadi kau bilang....!” Hwee Li melonjak kaget dan cepat dia melengking keras memanggil garudanya. Burung itu menukik dan hinggap di atas tanah di depan gadis itu, mengeluarkan suara nguk-nguk manja, kemudian mendekam. “Hayo cepat, nanti saja kauceritakan bagaimana Suma Kian Lee sampai ter¬luka hebat. Kau boleh duduk di belakang¬ku. Sin-eng-cu, kauantarkan kami ke bawah sana!” Berkata demikian, Hwee Li melompat ke punggung garuda itu lalu menggeser ke depan sedikit untuk memberi tempat kepada Kian Bu. Pemuda itu yang sudah biasa menunggang burung besar, lalu meloncat dengan ringan agar tidak mengejutkan burung itu dan dia telah duduk di belakang Hwee Li. “Sin-eng-cu, berangkatlah!” Hwee Li menepuk leher burung itu yang menge¬luarkan suara keras, menggerakkan kedua sayapnya, kedua kakinya menggenjot dan melayanglah dia ke atas, lalu terbang melayang ke bawah tebing. “Sekarang ceritakan, benarkah kakak¬mu itu Suma Kian Lee?” “Benar,” jawab Kian Bu dan jantung¬nya mulai berdegup tidak karuan. Pung¬gung garuda itu agak melengkung di te¬ngah-tengahnya, sehingga dia yang duduk di bagian belakang, tentu saja selalu melorot ke depan sehingga tubuhnya merapat dengan tubuh belakang dara itu. Rambut dara itu tertiup angin dan me¬nyapu-nyapu muka dan hidungnya, selain mendatangkan rasa geli juga bau harum menyergap hidungnya dan rambut halus itu mengusap-usap mukanya seperti mem¬belainya! “Sungguh aneh! Engkau Siluman Kecil dan kakakmu Suma Kian Lee. Lalu siapa namamu sebenarnya? “Namaku Suma Kian Bu.... “ “Ahhh....!” Gadis itu berseru demi¬kian keras sehingga burungnya terkejut dan agak miring. Hwee Li cepat me¬nepuk-nepuk punggungnya menenangkan. “Jadi engkau dan kakakmu itu putera-¬putera Pulau Es? Kian Bu kini yang terkejut. Bagai¬mana gadis ini dapat mengenal kakaknya dan tahu pula bahwa dia dan kakaknya itu dari Pulau Es? Akan tetapi karena dia mengharapkan bantuan gadis itu, dia tidak mau banyak bertanya lebih dulu. “Benar, Nona.” “Pantas engkau begini lihai!” “Hemmm....” ”Dan pantas saja engkau agaknya sudah biasa menunggang garuda.” “Memang kami juga mempunyai raja¬wali di sana....“ Hwee Li mengangguk. “Aku tahu....” Hening sejenak dan terdengar oleh Kian Bu gadis itu bicara kepada diri sendiri, lirih, “Kiranya dari Pulau Es....” Tak lama kemudian gadis itu berkata lagi, “Aku tahu bahwa Suma Kian Lee juga amat lihai seperti engkau, bagai¬mana dia sampai dapat menderita luka parah?” Kian Bu hampir tidak dapat menjawab pertanyaan itu karena dia sekarang ma¬kin gelisah duduknya. Sejak tadi jantung¬nya sudah berdebar keras tidak karuan dan makin lama makin hebat gelora di dalam hatinya. Dia duduk begitu rapat sehingga tubuh depannya menempel ketat pada tubuh belakang gadis itu! Dan ke¬hangatan tubuh itu sampai terasa oleh¬nya kelunakan dan kehalusan kulit di balik pakaian itu, tercium olehnya bau keringat, bau badan yang khas, dan mu¬lailah dia membayangkan yang bukan¬-bukan. Teringatlah dia ketika dia meng¬alami permainan cinta yang amat mesra dan hebat ketika dia untuk beberapa lamanya dahulu terpikat oleh seorang wanita cantik yang berwatak cabul, yaitu Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui, si Siluman Kucing. Membayangkan semua pengalamannya dengan Lauw Hong Kui yang lalu, sedangkan di depannya duduk seorang dara yang malah jauh lebih can¬tik menarik daripada Lauw Hong Kui, lebih muda, lebih menggairahkan, maka seketika naiklah darah ke kepala Kian Bu dan sejenak menggelapkan mata batinnya. Dia memejamkan mata akan tetapi ma¬kin terbayanglah adegan-adegan mesra antara dia dan Lauw Hong Kui ketika bermain cinta, dan wajah Hong Kui itu berubah menjadi wajah dara yang duduk di depannya! Dia berusaha untuk me¬nekan perasaan ini dan mengusir bayang¬an-bayangan itu, maka terjadilah perang hebat di dalam hati dan pikirannya pada saat itu. Tidak salah lagi, timbulnya segala macam nafsu keinginan, termasuk nafsu birahi adalah dari ingatan yang bertum¬puk di dalam pikiran. Biarpun kita duduk dikelilingi oleh puluhan orang wanita cantik manis, kalau kita menghadapi mereka dengan wajar dan dengan pikiran bebas, tidak akan terjadi sesuatu dalam batin kita. Akan tetapi, begitu pikiran mengusik dan mengingat pengalaman¬-pengalaman yang lalu, baik pengalaman itu kita alami sendiri dengan wanita maupun pengalaman orang lain yang kita dengar atau baca, terbayanglah adegan-¬adegan mesra antara kita dengan wanita atau laki-laki lain dengan wanita. Dan kalau sudah begitu, timbuliah keinginan untuk menikmati kesenangan itu, bangkit¬lah nafsu berahi, timbul nafsu untuk memiliki. Seorang pertapa yang duduk samadhi seorang diri di puncak gunung, biarpun dalam jarak ratusan li jauhnya tidak ada wanita, namun kalau pikirannya membayangkan permainan cinta yang pernah dialaminya atau dialami orang lain dengan wanita, akan timbul pula nafsu berahinya. Demikian pula dengan Suma Kian Bu. Selama lima tahun lebih ini dia tidak pernah mengalami hal seperti saat itu. Ketika dia duduk di atas punggung bu¬rung garuda bersama Hwee Li, duduk demikian dekatnya dan merapat ketat karena punggung itu miring sehingga tubuh depannya menempel rapat ke tubuh belakang Hwee Li, mula-mula tidak ter¬jadi apa-apa. Akan tetapi, setelah dia membayangkan adegan-adegan mesra yang pernah dialaminya bersama Lauw Hong Kui, maka mulailah terasa olehnya betapa dia seakan-akan sedang memeluk dara cantik jelita di depannya itu, me¬meluk dari belakang sehingga terasa dan tercium segala-galanya, kelembutannya, kepadatan tubuhnya, kehalusannya, kesedapannya, dan bangkitlah berahinya! Karena sampai, lama tidak memper¬oleh jawaban, Hwee Li menoleh dan bertanya, “Heiii, katakanlah, siapa yang melukai Suma Kian Lee?” Ketika Hwee Li menoleh, muka me¬reka begitu berdekatan dan napas hangat dara itu menghembus di pipinya, mem¬buat Kian Bu hampir tak kuat bertahan pula dan berahinya makin berkobar. “Ihhhhh....!” Tiba-tiba Hwee Li ber¬seru dengan kaget dan geli dan pada saat itu Kian Bu menjawab gugup karena dia maklum mengapa dara itu menjerit. “Akulah yang memukulnya....” “Ahhhhh....!” Kembali Hwee Li ber¬seru kaget dan sekali ini seruannya ada¬lah karena dua hal, pertama karena dia merasakan keadaan pemuda itu yang se¬dang diamuk berahi dan kedua kalinya mendengar bahwa pemuda itu yang me¬mukul dan melukai Suma Kian Lee. Ber¬bareng dengan seruannya itu, tangannya bergerak dan dua ekor kepala ular me¬matuk dari kanan kiri ke arah leher dan dahi Kian Bu. “Heiii....!” Kian Bu berteriak keras dan cepat dua tangannya menangkis de¬ngan pengerahan tenaga. “Plak! Plak! Bukkkkk....!” Dua ekor ular itu ditangkis remuk kepalanya, akan tetapi tangan Hwee Li telah mendorong dadanya sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Kian Bu terguling jatuh dari atas punggung garuda! Untung bagi Kian Bu bahwa pada saat itu, mereka telah tiba di atas dasar tebing itu, tidak begitu tinggi lagi se¬hingga ketika dia terguling, dia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dan meloncat ke arah sebatang pohon yang tumbuh di bawah itu dan menyambar cabang pohon sehingga dia dapat men¬darat dengan selamat. Cepat dia lalu meloncat turun ke atas tanah dan peris¬tiwa berbahaya itu sekaligus mengusir semua bayangan yang tadi membuat dia kehilangan kesadaran dan diamuk oleh nafsu berahi. Mukanya menjadi merah sekali ketika dia teringat dan dia me¬lihat kini burung garuda yang ditunggangi oleh Hwee Li itu terbang berputaran di atas kepalanya. “Kau laki-laki cabul! Kau laki-laki kurang ajar, tidak tahu kesusilaan dan kau laki-laki porno!” terdengar Hwe Li memaki-maki sambil menjenguk dari atas punggung garudanya, suaranya penuh dengan kemarahan. “Dan engkau juga laki-laki kejam dan durhaka, memukul kakak sendiri!” Kian Bu merasa malu bukan main mengingat apa yang terjadi di atas pung¬gung garuda tadi. Tentu saja dara itu menjadi kaget kemudian menjadi geli dan jijik! Tentu saja dara itu merasa dan tahu bahwa dia diamuk berahi karena tubuh mereka begitu rapat seolah-olah dara itu tadi setengah dipangkunya! “Nona.... kaumaafkanlah aku....“ Dia berkata dengan pengerahan khikang se¬hingga suaranya pasti dapat terdengar dari atas punggung garuda yang terbang berputaran di atas kepalanya beberapa tombak tingginya itu. “Engkau.... engkau begitu cantik dan kita duduk begitu ber¬dekatan dan aku.... aku hanya orang lemah....“ Kian Bu menunduk, kemudian berkata lagi, “Aku menyesal sekali, Nona. Percayalah!” Pemuda ini memang benar-¬benar merasa malu dan amat menyesal mengapa dia tadi membiarkan saja pikir¬annya melamun dan mengingat-ingat hal yang dapat membangkitkan berahinya. Dia tidak tahu betapa di atas pung¬gung garuda, Hwee Li yang marah-marah itu menjadi merah mukanya karena je¬ngah atau malu teringat akan keadaan pemuda itu tadi yang duduk mepet di belakangnya sehingga pinggulnya dapat merasakan kebangkitan berahi pada pemuda itu. Mendengar ucapan Kian Bu, diam-diam Hwee Li memuji kejujuran pemuda itu dan dia memang sudah memaafkannya karena bukankah sesungguh¬nya pemuda itu tidak melakukan sesuatu terhadap dirinya? Kalau pemuda itu su¬dah menggerakkan tangan untuk meraba¬nya misalnya, barulah hal itu dapat di¬anggap sebagai suatu kekurangajaran. Yang membuat dia penasaran adalah ketika mendengar betapa Siluman Kecil itu memukul dan melukai Suma Kian Lee. Berahi yang timbul pada diri Silu¬man Kecil tadi bahkan membuktikan bahwa dia memang mempunyai kecantik¬an dan daya tarik istimewa sehingga seorang tokoh besar seperti Siluman Ke¬cil, yang dia melihat sendiri menolak cinta kasih seorang gadis cantik jelita seperti Cui Lan, ternyata timbul berahinya terhadap dia! “Aku tidak mau bicara tentang itu!” bentak Hwee Li dari atas dan dia mem¬biarkan garudanya terus beterbangan perlahan mengelilingi pemuda itu. “Akan tetapi engkau telah memukul Suma Kian Lee, padahal, dia kakakmu sendiri!” Di dalamcerita Kisah Sepasang Raja¬wali , lima enam tahun yang lalu, Kim Hwee Li pernah bertemu dengan Suma Kian Lee ketika pemuda ini terluka pa¬hanya oleh senjata rahasia peledak yang dilepas oleh Mauw Siauw Mo-1i dan Kim Hwee Li yang ketika itu baru berusia sebelas dua belas tahun, telah menolong pemuda itu, menyembunyikannya dan mengobatinya. Melihat Suma Kian Lee yang tampan dan gagah, di dalam hati gadis kecil yang ketika itu baru men¬jelang dewasa, telah terdapat perasaan kagum dan memuja, dan Kian Lee me¬rupakan pemuda atau pria pertama yang pernah menggoncangkan perasaan wanita¬nya. Oleh karena itu, ketika mendengar bahwa Kian Lee terluka parah dan yang memukulnya adalah pemuda yang meng¬aku adiknya itu sendiri, tentu saja dia menjadi marah bukan main. Apa lagi, ketika menangkis serangan ular-ularnya tadi, Siluman Kecil telah memukul mati kedua ularnya! Kian Bu mengerti bahwa hanya de¬ngan bantuan gadis itu dia dapat men¬capai dasar tebing, dan juga tanpa ban¬tuan gadis dengan garudanya itu, agak¬nya akan sukar bahkan tidak mungkin baginya untuk mendaki tebing yang amat tinggi itu. Dia tidak takut menghadapi ancaman bahaya terkurung di situ, akan tetapi kalau tidak dibantu, tentu dia akan terlambat sekali membawa obat untuk kakaknya. Maka dia mengambil keputusan untuk mengaku terus terang kepada gadis yang aneh itu. Siapa tahu gadis yang aneh itu mempunyai watak gagah yang dapat mempertimbangkan keadaan dengan adil. Buktinya gadis itu pun telah menghabiskan saja urusan yang timbul karena bangkitnya nafsu berahinya tadi, dan hal ini saja sudah menunjukkan bahwa gadis itu mempunyai kebijaksanaan dan kegagahan. “Nona dengarlah baik-baik. Kakakku itu kena pukulanku karena kami berdua berkelahi dalam keadaan saling menya¬mar. Aku menyamar sebagai kakek-kakek dan dia menyamar sebagai seorang jago¬an Gubernur Ho-nan sehingga kami tidak saling kenal dan saling serang. Setelah dia roboh dan penyamarannya terbuka, barulah kami saling mengenal. Melihat dia terluka parah, aku pergi ke sini untuk mencarikan obat penyembuhnya. Nah, terserah apakah engkau mau percaya atau tidak. Aku hendak mencari obat itu sekarang juga.” Dia lalu membalikkan tubuhnya dan tidak lagi mempedulikan nona itu, melainkan meneliti keadaan di situ untuk mencari anak sungai seperti yang telah digambarkan oleh Sai-cu Kai¬-ong kepadanya. Biarpun dia maklum bah¬wa dia membutuhkan bantuan nona itu dan burung garudanya untuk dapat me¬nyampaikan obat, kalau sudah ditemukannya, kepada kakaknya, namun bukanlah watak Suma Kian Bu untuk mengemis-¬ngemis bantuan orang. Maka dia pun tidak merasa kecewa ketika melihat burung itu terbang naik meninggalkan dirinya, dan dia melanjutkan penyelidikannya. Akhirnya ditemukanlah anak sungai tidak jauh dari situ dan tepat seperti yang digambarkan oleh kakek itu dari hwesio yang secara kebetulan menemukan tempat itu, dan Kian Bu cepat meng¬ikuti aliran sungai kecil itu sampai anak sungai itu memasuki sebuah gua yang gelap. Tanpa ragu-ragu lagi Kian Bu lalu turun ke air sungai yang dalamnya hanya selutut itu karena untuk mengikuti aliran sungai dari tepi sudah tidak mungkin lagi sekarang. Ketika dia hendak memasuki gua, dia melihat burung garuda itu me¬nukik dan nona yang duduk di atas pung¬gung burung itu memandang penuh per¬hatian, akan tetapi dia tidak mau mem¬pedulikan lagi dan terus memasuki gua yang gelap. Dia tidak tahu berapa jauhnya dia menempuh jalan yang amat gelap dan sukar itu karena dia harus terus ber¬jalan di dalam sungai dengan air kadang-¬kadang sampai sedalam dadanya dan dasar sungai itu kadang-kadang amat licin dan kadang-kadang penuh dengan batu-batu runcing. Akan tetapi, setelah melewati waktu yang agaknya tiada ha¬bisnya itu, akhirnya Kian Bu melihat cahaya terang di sebelah depan dan tiba¬lah dia di daerah terbuka. Dia lalu men¬darat di tepi sungai yang penuh dengan batu-batu besar hitam dan hatinya lega ketika dia melihat bahwa tempat itu terbuka, langit dapat kelihatan dari situ sungguhpun daerah itu merupakan sumur raksasa yang amat dalam dan sekeliling tebingnya terjadi dari dinding batu yang amat licin dan tidak mungkin sama se¬kali untuk mendaki naik. Akan tetapi di bawah dinding licin yang amat tinggi itu terdapat banyak batu-batu karang besar dan terdapat pula gua-gua yang besar dan hitam sehingga tempat yang terpen¬cil itu kelihatan menyeramkan sekali. Kian Bu menjadi bingung. Menurut petunjuk Sai-cu Kai-ong, setelah tiba di tempat terbuka, dia harus memasuki sebuah gua karena di dalam gua yang katanya merupakan terowongan panjang itulah dia akan menemukan jamur panca warna yang akan menjadi obat bagi ka¬kaknya. Akan tetapi gua yang mana? Dilihat dari tempat dia berdiri, agaknya di sekeliling tempat yang merupakan lambung gunung terhimpit tebing itu ter¬dapat ratusan buah gua! Mana dia bisa tahu gua yang manakah yang benar? Dia tidak menyalahkan Sai-cu Kai-ong karena kakek itu sendiri belum pernah tiba di tempat ini dan hanya mendengar dari orang lain. Tiba-tiba ada bayangan hitam didekat kakinya. Cepat dia melihat ke atas dan benar saja, jauh sekali di atas tebing tebing itu nampak titik hitam yang bu¬kan lain adalah burung garuda tadi! Ten¬tu saja seekor burung yang terbang dapat memeriksa keadaan sekeliling itu dan dapat menemukan “sumur raksasa” ini, akan tetapi kalau harus mendatangi tem¬pat ini melalui atas, dengan jalan kaki sungguh merupakan hal yang sama sekali tidak mungkin. Burung itu lewat dan samar-samar dia melihat gadis aneh yang duduk di punggung burung itu menjenguk ke bawah. Akan tetapi dia tidak mempedulikan gadis pemarah itu karena dia masih menghadapi pekerjaan yang banyak dan sukar sekali. Tanpa membuang ba¬nyak waktu lagi, muialiah Kian Bu memeriksa dan memasuki gua itu satu demi satu! Sungguh hal ini merupakan pekerja¬an yang amat sukar dan melelahkan. Gua-gua itu ternyata banyak sekali yang amat dalam, merupakan terowongan-¬terowongan panjang dan berliku-liku, akan tetapi setelah dimasuki dan diikuti, ternyata hanya merupakan gua-gua ko¬song dan buntu, tidak ada nampak jamur sama sekali di situ. Karena tidak di¬masuki sinar matahari, lumut pun tidak nampak, apalagi jamur panca warna! Baru belasan lubang gua yang diperik¬sanya dengan sia-sia, hari telah mulai gelap. Kian Bu merasa heran sekali ke¬tika keluar dari gua dan melihat mata¬hari telah lenyap dan tempat itu cepat sekali gelap. Tadi ketika dia membon¬ceng gadis itu turun, hari masih pagi dan dia membuang waktu untuk memeriksa gua-gua itu hanya makan waktu empat lima jam saja. Mengapa sekarang tahu-¬tahu telah menjadi remang-remang, men¬jadi senja dan hampir malam? Akan te¬tapi ketika dia berdongak memandang ke sekeliling di atas tempat yang seperti sumur raksasa itu, mengertilah dia. Ten¬tu saja di tempat ini, waktu yang diukur dengan sinar matahari amatlah berbeda dengan di atas sana, di lapangan terbuka di mana sinar matahari dapat bercahaya sepenuhnya. Di sini, matahari cepat le¬nyap terhalang ujung tebing di barat dan biarpun di dasar tempat itu sudah gelap, namun dia dapat menduga bahwa di atas sana tentu masih terang dan baru lewat tengah hari! Karena gelap, terpaksa Kian Bu me¬nunda pekerjaannya memeriksa gua-gua itu. Dia duduk di atas batu yang halus permukaannya dan banyak terdapat di tempat itu, sambil termenung dan memandang ke sekeliling. Di tempat ini tidak ditumbuhi pohon karena lantainya penuh dengan batu. Ada pohon-pohon tumbuh di lereng tebing dan pohon-pohon itu merupakan pohon-pohon liar yang tidak mengandung buah yang dapat di¬makan. Akan tetapi, dia tidak lapar dan sebagai seorang yang terlatih, tidak ma¬kan beberapa hari saja bagi pemuda Pu¬lau Es ini tidaklah merupakan hal yang menyiksa. Juga dia tidak perlu membuat api unggun karena hawa dingin tidak akan mengganggu tubuhnya yang sudah biasa dengan hawa yang jauh lebih di¬ngin ketika dia berlatih di Pulau Es. Maka duduklah Suma Kian Bu di atas batu itu, bersila dan mulai melakukan siulan untuk mengumpulkan hawa murni, memulihkan tenaga dan memberi kesem¬patan kepada tubuhnya untuk mengaso. Kegelapan kini menyelimuti tempat itu dan hanya sinar bintang-bintang di langit yang hanya seperempat luasnya daripada langit biasanya di tempat ter¬buka, yang mendatangkan cahaya remang-¬remang. Sunyi sekali di sekitar tempat itu, kesunyian yang makin terasa karena adanya suara gemercik air yang tiada hentinya dan yang kini terdengar amat jelas. Berbeda dengan waktu siangnya yang hariya pendek sekali, sebaliknya waktu malamnya di tempat itu amat panjang dan lama karena matahari yang di per¬mukaan bumi sudah muncul dan naik tinggi, di dasar sumur raksasa itu masih belum nampak! Kian Bu sudah tidak me¬lihat adanya bintang-bintang di langit yang sudah disapu bersih oleh sinar mata¬hari, namun tempat itu masih gelap. Tiba-tiba dia mendengar suara, di belakangnya. Cepat dia menoleh dan biarpun Kian Bu merupakan seorang pe¬muda gemblengan, seorang pendekar sak¬ti yang berkepandaian tinggi, tidak urung ¬bulu tengkuknya meremang. ketika dia melihat sesosok tubuh berindap-indap keluar dari sebuah di antara ratusan gua itu. Akan tetapi segera dia melenyapkan rasa takut itu dengan dugaan bahwa tentu orang itu adalah dara cantik yang tentu saja dapat turun dengan bantuan garudanya. Maka dia pun bersikap dingin saja dan melanjutkan siulannya. Bayangan orang itu dapat bergerak cepat dan kini telah tiba di dekat Kian Bu, lalu tiba-tiba saja bayangan itu me¬nyerang dengan cengkeraman dari bela¬kang ke arah tengkuk dan kepala pemuda itu. Kian Bu terkejut dan cepat dia me¬loncat ke depan sehingga cengkeraman itu luput. Akan tetapi orang itu dengan marah menerjangnya terus dengan pukul¬an-pukulan yang aneh. “Nona, berhenti dulu! Mengapa kau menyerangku? Nona....!” Kian Bu meng¬elak ke sana-sini dan dia makin terheran ketika memperoleh kenyataan bahwa gerakan orang ini sungguh jauh berbeda daripada gerakan nona pemilik garuda. Dara cantik pemilik garuda itu memiliki gerakan yang berdasarkan gerakan ilmu silat tinggi, lihai sekali, akan tetapi sebaliknya orang ini menyerangnya de¬ngan gerakan kasar, hanya gerakannya lebih nekat dan liar. “Heh-heh-heh, hi-hik, kau menyebutku Nona? Hi-hi-hik!” Wanita itu terkekeh dan Kian Bu makin terkejut dan terheran ketika dia mendapat kenyataan dari sua¬ra wanita ini bahwa dia sama sekali bukanlah dara pemilik burung garuda! Akan tetapi cuaca masih terlalu gelap untuk dapat mengenal orang ini yang hanya tampak bayangannya saja. “Siapakah kau? Dan kenapa kau me¬nyerangku?” tanyanya. “Hik-hik, kau pembunuh keji! Kau ma¬nusia jahat, masih tanya mengapa aku menyerangmu? Heh-heh, aku hendak membunuhmu untuk membalaskan kemati¬an nyonya majikanku!” Dan wanita itu menyerangnya lagi. Kian Bu kembali mengelak ke sana ke mari dengan amat mudahnya karena ternyata kini bahwa serangan-serangan itu hanya sembarangan saja dan sama sekali tiada artinya bagi dia. Akan tetapi dia merasa tidak enak untuk merobohkan seorang wanita, apa¬lagi seorang wanita yang agaknya tidak waras otaknya. “Aku tidak membunuh nyonya majikan¬mu! Siapa sih nyonya majikanmu itu?” tanya lagi Kian Bu sambil tetap mengelak ke sana-sini dan terus main mundur. Wanita itu terus mengejar dan mendesak¬nya, melancarkan serangan-serangan ne¬kat dan membabi-buta. “Huh, engkau masih pura-pura lagi bertanya? Nyonyaku tentu saja Ang Siok Bi, siapa lagi? Dan dia sudah kalian bunuh secara kejam, dan kalian telah melemparkan aku ke sungai, ke pusaran maut. Heh-heh, akan tetapi kalian keliru, aku tidak mati dan sekarang aku akan membalaskan kematian majikanku, hi¬k-hik!” Kian Bu mengerutkan alisnya. Tentu saja dia tidak mengerti apa yang dimak¬sudkan oleh wanita ini. Sementara itu, cahaya matahari mulai menerangi tempat itu dan akhirnya dia dapat melihat bah¬wa yang menyerangnya mati-matian itu adalah seorang wanita yang usianya su¬dah tiga puluh tahun lebih, rambutnya awut-awutan dan pakaiannya juga seperti pakaian seorang jembel terlantar, seluruh tubuhnya menunjukkan bahwa wanita itu telah lama menderita di tempat ini. Se¬pasang matanya yang berputar-putar itu menandakan bahwa wanita ini memang tidak waras lagi otaknya. Kian Bu mengelak ke samping dan kini jari tangannya menyambar. Roboh¬lah wanita itu terkena totokannya. Se¬telah Kian Bu, dapat melihat keadaan wanita itu, maka dia tidak ragu-ragu lagi untuk merobohkannya dengan totokan yang tidak berbahaya, hanya membuat kaki tangan wanita itu lumpuh. Wanita itu memandang kepada Kian Bu dengan mata terbelalak, kemudian menangis. “Hu-hu-huuukkkkk.... kiranya engkau adalah Tuan Muda Ang Tek Ho¬at....! Hu-huuuk, Tuan Muda, Ibumu te¬lah mati dibunuh orang....!” Kini Kian Bu terkejut bukan main mendengar wanita ini menyebut nama Ang Tek Hoat. Tentu saja dia mengenal nama ini, mengenalnya dengan baik se¬kali. Bukankah Ang Tek Hoat ini yang telah menjadi penyebab kehancuran hati¬nya dan kehancuran kehidupannya? Dia telah jatuh cinta kepada Puteri Syanti Dewi, mencinta puteri itu dengan seluruh jiwa raganya, kemudian hatinya hancur berkeping-keping ketika dia mendapat kenyataan bahwa puteri yang dicintanya itu ternyata mencinta Ang Tek Hoat, pemuda yang tadinya amat jahat itu! Pemuda yang sebenarnya masih terhitung keponakannya sendiri, karena Ang Tek Hoat adalah cucu dari ibu Suma Kian Lee (baca cerita Kisah Sepasang Raja¬wali). Dan wanita ini menyebut Ang Tek Hoat sebagai tuan muda, dan mengatakan bahwa ibu Ang Tek Hoat mati dibunuh orang! Kian Bu maklum bahwa jalan satu-¬satunya untuk menghadapi seorang gila adalah melayani kegilaannya. Dia disang¬ka Tek Hoat, maka akan percuma saja kalau dia menyangkal di depan seorang gila. Biarlah dia berpura-pura menjadi Tek Hoat untuk mendengar tentang ke¬matian ibu Tek Hoat itu. “Bibi yang baik, engkau siapakah? Aku sudah lupa lagi,” katanya sambil duduk di atas batu dan membebaskan totokannya sehingga wanita itu kini da¬pat bergerak dan duduk pula di atas batu sambil menangis. “Ah, Kongcu (Tuan Muda), engkau sudah lupa lagi kepadaku? Aku Cui-ma, pengasuhmu di waktu kau masih kecil.” “Hemmm, Cui-ma, tentu saja aku lupa karena sekarang engkau menjadi seperti ini. Ceritakanlah, Cui-ma, kenapa kau bisa berada di sini dan apa yang telah terjadi dengan.... Ibuku?” Dengan sikap seorang gila yang me¬ngerikan, kadang-kadang menangis, ka¬dang-kadang tertawa, mulailah wanita itu bercerita yang didengarkan oleh Kian Bu dengan penuh perhatian. Karena cerita itu menyangkut Ang Siok Bi, ibu dari Ang Tek Hoat seorang di antara tokoh-¬tokoh besar cerita ini, maka sebaiknya kalau kita mengikuti sendiri apa yang telah dialami oleh wanita she Ang itu, daripada mendengarkan cerita Cui-ma yang tidak karuan. *** Seperti telah diceritakan di bagian terdepan dari cerita ini, Ang Siok Bi, ibu dari Ang Tek Hoat, menyusul puteranya ke Kerajaan Bhutan. Setelah wanita yang bernasib malang itu mengetahui bahwa dugaannya selama ini keliru, yaitu yang memperkosa dia di waktu dia masih ga¬dis dahulu (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali dan Sepasang Pedang Iblis) bu¬kanlah Gak Bun Beng seperti yang se¬lama itu disangkanya, melainkan Wan Keng In putera dari Lulu, isteri ke dua majikan Pulau Es, maka sakit hatinya berpindah kepada keluarga Pulau Es! Dan untuk membalas dendamnya kepada ke¬luarga Pulau Es, tentu saja dia merasa tidak mampu dan dia hendak menyuruh puteranya yang kini telah menjadi se¬orang sakti untuk membalas dendamnya kepada keluarga Pulau Es yang lihai itu. Akan tetapi, Ang Tek Hoat yang sudah memperoleh kedudukan baik di Bhutan, sebagai panglima muda dan lebih-¬lebih lagi sebagai tunangan puteri raja, yaitu Puteri Syanti Dewi, menolak bujuk¬an ibunya sehingga Ang Siok Bi menjadi marah. Ang Siok Bi lalu menemui Raja Bhutan dan membuka rahasianya sendiri bahwa calon mantu raja itu, puteranya yang bernama Ang Tek Hoat adalah se¬orang anak haram tanpa ayah. Setelah meninggalkan kata-kata beracun yang kemudian berakibat hebat itu, Ang Siok Bi lalu meninggalkan Bhutan, kembali ke tempat tinggalnya di puncak Bukit Angsa, di lembah Huang-ho di mana dia hidup mengasingkan diri, hanya ditemani oleh seorang pembantunya yang setia, yaitu Cui-ma, seorang janda yang telah lama ikut bersama dia. Sebagai teman satu¬-satunya, tentu saja dia mengajarkan ilmu silat kepada Cui-ma, sekedar untuk men¬jaga kesehatan dan untuk dipakai bela diri apabila perlu. Cui-ma ini yang selalu menemaninya dalam semua kesengsaraan¬nya hidup menyendiri itu. Ketika melihat Ang Siok Bi pulang dan begitu tiba di pondoknya lalu me¬nangis sejadi-jadinya, penuh kedukaan dan kekecewaan, Cui-ma cepat memeluknya dan menghiburnya, akan tetapi pelayan dan teman yang setia ini pun ikut me¬nangis ketika mendengar cerita nyonya majikannya betapa Ang Tek Hoat, kongcu yang ditunggu-tunggu kedatangannya, yang diharap-harapkan akan dapat meng¬hibur ibunya itu, ternyata menolak ajak¬an ibunya untuk meninggalkan Bhutan. “Cui-ma, mulai saat ini kita harus berhati-hati....“ Setelah tangisnya me¬reda, Ang Siok Bi berkata, lalu cepat¬-cepat dia menutupkan daun pintu yang tadi terbuka, menutupkan pula semua daun jendela pondoknya yang terbuka. Melihat sikap nyonya majikannya ini, Cui-ma terkejut dan merasa heran. Tem¬pat itu biasanya sunyi dan selama ini keamanan mereka tidak pernah terganggu orang maupun binatang. Kenapa sekarang nyonya majikannya kelihatan begitu geli¬sah dan menutupi daun pintu dan jen¬dela seperti orang ketakutan? Padahal, andaikata ada bahaya mengancam sekali¬pun, apa yang perlu ditakutkan? Bukan¬kah nyonya majikannya memiliki kepan¬daian yang lihai? “Toanio, apakah yang telah terjadi? Siapa yang mengancam keselamatan kita?” “Panglima dari Bhutan.... kalau tidak salah, Mohinta namanya, putera panglima tertinggi di Bhutan. Beberapa hari yang lalu aku melihat dia, dan dia bersama orang-orangnya berusaha untuk menang¬kap aku, melihat gelagatnya dia agaknya bertekad untuk membunuhku. Kita harus siap menghadapi mereka, Cui-ma.” “Mengapa, Toanio? Siapa mereka dan mengapa?” “Mereka orang-orang Bhutan yang telah menjebak puteraku, mengikat puteraku dan agaknya mereka itu di¬perintah oleh raja mereka untuk mem¬bunuh aku karena aku dianggap meng¬halangi rencana mereka mengikat anakku Tek Hoat....“ Dengan cemas karena maklum bahwa dia menghadapi orang-orang yang sudah merencanakan kematiannya, mulai hari itu Ang Siok Bi dibantu oleh Cui-ma lalu mengatur persiapan untuk menghadapi musuh-musuh itu. Ang Siok Bi adalah seorang wanita yang berani dan berhati baja, maka biarpun dia sering kali ke¬lihatan gelisah, namun dia membuat per¬siapan yang teliti, bahkan di balik daun pintu dan jendelanya dia pasangi alat-¬alat rahasia yang akan secara otomatis menggerakkan jarum-jarum hitam yang dipasangnya menyerang siapa saja yang membuka pintu atau jendela dari luar dengan paksa! Tiga hari tiga malam Ang Siok Bi berjaga-jaga, tidak berani tidur, jarang makan dan tidak pernah berganti pakaian sejak dia pulang. Cui-ma menjadi khawatir sekali melihat keadaan nyonya majikannya itu. Pada malam yang ke dua rumah itu telah diserbu orang ketika mereka tertidur saking lelahnya. Ter¬dengar suara gedebugan dan ketika mere¬ka memeriksa pada keesokan harinya, jelas nampak bekas kaki orang di luar pintu, daun pintu terbuka dan ada darah berceceran di situ. Jelas bahwa anak panah yang dipasang pada belakang daun pintu telah mengenai korbannya, yaitu orang-orang yang membuka pintu itu semalam. Sejak itu, Siok Bi dan Cui-ma tidak lagi berani tidur! “Cui-ma, dengar baik-baik. Tidak boleh kita berdua mati di sini. Kalau kita berdua berjaga di sini sampai akhir¬nya musuh dapat menerjang masuk dan kita berdua mati, tentu anakku tidak akan tahu apa yang telah terjadi dengan ibunya. Kau harus pergi dari sini!” “Ah, lebih baik kita pergi berdua saja, Toanio. Mengapa kita harus menanti datangnya musuh di sini? Marilah kita pergi dan bersembunyi di lain tempat.” Ang Siok Bi menggeleng kepala. “Per¬cuma, mereka sudah membayangi dan mengejarku sejak dari Bhutan. Hendak bersembunyi ke mana? Tentu akhirnya akan mereka dapatkan juga. Dan kalau aku mati di tangan mereka, aku ingin mati di rumahku sendiri dan dapat me¬lakukan perlawanan sebaiknya, daripada mati di tempat asing. Kau pergilah, Cui¬-ma....“ “Tidak, Toanio. Kalau Toanio tidak mau pergi, biar aku mati bersamamu di sini.” “Jangan banyak membantah!” Siok Bi membentak marah. “Aku sudah cukup mengenal kesetiaanmu. Aku menyuruh kau pergi bukan karena sayang nyawamu atau tidak percaya kepada kesetiaanmu. Justeru kalau engkau setia, engkau harus pergi, harus hidup dan kelak kauceritakan kepada Ang Tek Hoat anakku bagaimana ibunya mati dan oleh siapa. Mengertikah engkau? Katakan bahwa yang membayangi ibunya adalah Mohinta dan anak buahnya, orang-orang dari Bhutan. Mengerti?” Sambil menangis akhirnya Cui-ma mentaati perintah majikannya dan sore hari itu pergilah dia meninggalkan rumah sewaktu menjelang senja dan cuaca sudah mulai gelap. Ang Siok Bi berjaga-jaga seorang diri di dalam kamarnya, matanya menatap ke arah pintu dan jendela kamarnya secara bergantian. Di balik pintu telah dia pasangi anak panah dan kalau pintu itu terbuka dari luar, tentu anak panah akan menyambar ke luar. Sedangkan di jendela kamarnya dia pasangi jarum-jarum hitamnya yang juga akan menyambar keluar apabila daun jendela dibuka dengan paksa dari luar. Dia sen¬diri rebah terlentang melepaskan lelah dengan pedang terhunus di atas mejanya. Malam itu sunyi sekali. Rasa kantuk hampir tak tertahankan lagi, namun Ang Siok Bi mempertahankan rasa kantuk itu dengan mencoret-coret pada kayu pembaringannya, menggunakan jarum hitam¬nya menuliskan huruf-huruf kecil di kayu itu dengan cara menggores-goreskannya. “Tiga malam aku tidak tidur, me¬nanti serangan si pengecut laknat. Kalau ada puteraku di sini, engkau akan mam¬pus....” Tiba-tiba dia menghentikan goresan jarumnya karena dia mendengar sesuatu di luar kamarnya. Siok Bi cepat me¬loncat turun dan dengan pedang di ta¬ngan, matanya memandang tajam ke arah jendela dan pintu, juga dia melirik ke atas, kalau-kalau ada musuh yang datang masuk melalui genteng. Akan tetapi sua¬ra itu lenyap dan selanjutnya tidak ada gerakan apa-apa lagi. Jantungnya ber¬debar tegang, akan tetapi lalu dia tenang kembali. Tentu hanya tikus, pikirnya dan dia merebahkan diri lagi di atas penn¬baringan, meletakkan pedang di dekat pembaringan, di atas meja sehingga se¬waktu-waktu dia dapat menyambarnya. Gangguan suara yang mencurigakan itu menambah semangat dan mengusir rasa kantuknya yang tadi hampir tidak dapat ditahankannya lagi itu. Dia membayangkan puteranya dan tak terasa air matanya berlinang. Harapan satu-satunya hanya kepada puteranya. Dia telah menderita tekanan batin belas¬an tahun lamanya. Dia merasa sakit hati semenjak ada orang memperkosanya, orang yang disangkanya semula adalah pendekar sakti Gak Bun Beng akan tetapi yang ternyata bukan pria yang pernah menjatuhkan hatinya itu, melainkan Wan Keng In, putera dari Lulu yang kini menjadi isteri ke dua dari Pendekar Super Sakti majikan Pulau Es. Dan Tek Hoat, puteranya yang diharap-harapkan akan dapat menebus penghinaan dan mem¬balaskan sakit hatinya itu, ternyata telah mengecewakan! Bahkan kini dia dikejar-¬kejar oleh rombongan orang-orang Bhutan yang dipimpin oleh panglima Mohinta itu! Jangan-jangan rombongan itu disuruh pula oleh puteranya! Mungkinkah itu? Dia menggigit bibir dan teringatlah dia akan dongeng kuno tentang seorang janda yang puteranya setelah menjadi seorang besar lalu melupakan ibunya. Bukan hanya me¬lupakan ibunya yang miskin, bahkan ka¬rena tidak ingin orang mengetahui bahwa wanita janda miskin itu adalah ibunya, si anak yang telah menjadi orang besar itu menyuruh membunuh ibunya sendiri! Akan demikian pulakah nasibnya? Sedemikian jahat dan durhakakah puteranya? Mem¬bayangkan kemungkinan yang dibantahnya sendiri ini, Ang Siok Bi tidak dapat menahan lagi tangisnya dan air matanya bercucuran. Akan tetapi, dia merasa mengantuk sekali. Rasa kantuk yang tidak dapat ditahannya lagi dan karena menangis tadi, maka dia menjadi lengah, tidak melihat betapa ada asap halus memasuki kamarnya dari lubang di dekat pintu! Setelah asap itu mengenai mukanya, timbuliah rasa kantuk yang amat hebat, yang tidak dicurigainya karena selama tiga hari tiga malam boleh dibilang dia tidak berani memejamkan mata. Dan sekarang, bersedih karena membayangkan kemungkinan puteranya akan berbuat keji dan durhaka terhadap dirinya, Siok Bi menjadi lemah dan bersikap masa bodoh, maka dia pun tidak melawan rasa kantuk itu dan akhirnya tertidurlah wanita ini dengan nyenyaknya. Tak lama kemudian ada suara gerakan di atas kamar itu. Genteng dibuka dan sesosok bayangan melayang masuk. Ke¬tika bayangan itu melihat betapa Siok Bi telah tidur, dia tertawa di balik sapu¬tangan yang dipergunakan sebagai kedok menutupi mulut dan hidungnya, kemudian dia mengeluarkan suara suitan perlahan. Dari atas genteng melayang turun lagi seorang yang juga memakai kedok sapu¬tangan dan orang ini mengangguk-angguk. “Dia sudah pulas, Tuan Muda Mohinta,” kata orang pertama dalam bahasa Bhutan. Laki-laki ke dua yang ternyata ada¬lah Mohinta itu, mencabut pedangnya dan dengan tenang saja dia menggerakkan tangannya. Pedang meluncur dan menusuk dada Ang Siok Bi, tepat mengenai ulu hatinya dan menembus sampai ke pung¬gung! Cepat Mohinta mencabut pedang itu dan tubuh Ang Siok Bi berkelojotan, darah muncrat-muncrat dari dada dan punggungnya, lalu dia terdiam dan tewas tanpa dapat bersuara lagi, hanya mata¬nya yang terbelalak memandang kepada dua orang yang membunuhnya secara cu¬rang itu. Dua orang laki-laki itu lalu meloncat keluar melalui genteng, di mana terdapat beberapa orang teman mereka dari pergi¬lah mereka menghilang ditelan kegelapan malam. Tidak ada seorang pun yang menyaksikan pembunuhan keji itu. Demikianlah peristiwa pembunuhan atas diri Ang Siok Bi dan ketika Ang Tek Hoat muncul di dalam pondok ibu¬nya, dia hanya mendapatkan kerangka ibunya, coretan tulisan di atas kayu pembaringan, dan pedang ibunya, tanpa dapat mengerti siapa yang telah membunuh ibunya. Tentu saja cerita yang disampaikan oleh Cui-ma kepada Suma Kian Bu tidak lengkap, dan dia hanya bercerita tentang Ang Siok Bi sampai dia disuruh pergi oleh majikannya di waktu senja itu, ke¬mudian dia menangis lagi sesenggukan. “Lalu bagaimana, Cui-ma? Bagaimana dengan.... Ibuku?” Suma Kian Bu men¬desah, masih terus bersandiwara melayani si gila itu yang menyangka dia adalah Ang Tek Hoat putera dari Ang Siok Bi. “Karena tidak berani membantah, sore hari itu aku meninggalkan rumah, akan tetapi aku tidak pergi jauh dan pada keesokan harinya, aku kembali ke pon¬dok. Aku tidak berani membuka pintu atau jendela yang dipasangi senjata raha¬sia, maka aku mengintai dan aku melihat nyonya majikan.... Ibumu itu hu¬....huuukkk.... dia telah tewas....“ Kian Bu terkejut juga, terkejut dan marah walaupun dia tahu bahwa yang diceritakan itu bukanlah ibunya sendiri. “Celaka!” serunya sambil mengepal tinju. “Siapa yang membunuhnya, Cui-ma? Si¬apa?” “Tadinya aku pun tidak tahu siapa.... hu-hukkk.... akan tetapi tiba-tiba mereka itu muncul dan menangkapku. “Mereka siapa?” “Orang-orang Bhutan itu, yang dipim¬pin oleh Mohinta, seperti diceritakan Toanio kepadaku. Mereka menangkapku, membawaku dengan paksa ke sungai dan melemparkan aku ke pusaran air maut di Huang-ho....“ “Pusaran maut?” “Ya, aku tidak berdaya. Aku dilempar di air dan pusaran air menyedot dan menarikku. Aku tidak tahu apa-apa lagi dan ketika aku sadar, ternyata aku telah berada di sini....di tepi sungai yang memasuki terowongan itu....“ Kembali dia menangis. Suma Kian Bu tertegun dan terheran-¬heran. Kiranya di samping hwesio yang tergelincir ke dalam jurang dan menemu¬kan tempat ini secara aneh, juga dia yang dapat turun dibantu oleh gadis yang memiliki burung garuda, ada seorang lain yang dapat tiba di sini secara lebih aneh lagi, yaitu Cui-ma ini. Melalui pusaran air dan sungai yang memasuki terowong¬an! Kemudian dia teringat akan keperlu¬annya sendiri. Mungkin Cui-ma ini mengetahui tentang jamur panca warna! “Cui-ma, setelah mendengarkan ceri¬tamu, maukah engkau menolongku?” “Tentu saja, Kongcu. Akan tetapi engkau harus membalaskan kematian Ibu¬mu.” “Sudah pasti akan kulakukan itu, Cui-¬ma. Sekarang katakanlah, apa engkau tahu di mana adanya jamur panca warna yang berada di dalam satu di antara gua-gua ini?” tanya Kian Bu sambil me¬mandang wanita itu penuh harapan. “Jamur panca warna....?” Wanita itu memandang kepada Kian Bu dengan sinar mata tidak seliar tadi. Agaknya pertemu¬annya dengan pemuda yang disangka putera majikannya itu, dan cerita yang dituturkan sambil menangis, telah banyak mengurangi tekanan batinnya. “Ya, jamur panca warna untuk obat.” Kemudian Kian Bu teringat bahwa mung¬kin Cui-ma tidak mengenal nama jamur itu. “Jamur itu kalau siang biasa saja, akan tetapi kalau malam mengeluarkan sinar lima macam seperti pelangi dan berada di dalam satu di antara gua-gua itu.” Tiba-tiba Cui-ma nampak ketakutan dan bergidik seperti melihat sesuatu yang mengerikan. Dia memandang ke kiri, ke arah sebuah gua besar dan berkata, “Kau.... kaumaksudkan.... ihhhhh.... mata-¬mata iblis itu, mata setan yang kalau malam mengejar-ngejarku.... hiiihhhhh, sungguh mengerikan, di gua tengkorak itu penuh tengkorak bayi dan anak kecil, di situ terdapat pula mata iblis yang hidup kalau malam aku takut, Kongcu, aku takut....!” Wanita yang mengalami banyak tekanan dan penderita¬an batin itu menjerit dan melompat hen¬dak lari. Akan tetapi Kian Bu lebih ce¬pat lagi dan sudah memegang lengannya. “Tenanglah, Cui-ma, tidak ada apa-¬apa dan jangan takut. Ada aku di sini. Yang kaumaksudkan dengan gua teng¬korak itu yang mana? Yang besar itu? Yang di depannya ada tumpukan tiga buah batu besar itu?” Dia menuding ke arah kiri di mana terdapat sebuah gua yang agak besar. Wanita itu menoleh dan memandang ke arah gua itu dan matanya makin ter¬belalak berputaran. Gilanya kumat lagi. “Benar.... benar.... aku takut.... takuttt....!” Dan dia menangis terisak-isak dalam pelukan Kian Bu yang merasa kasihan sekali kepada wanita ini. “Hemmm, katanya mencari jamur, kiranya hanya mencari perempuan untuk dicumbu-rayu. Huh, dasar laki-laki cabul!” Kian Bu terkejut bukan main. Dia menoleh dan kiranya dara cantik jelita itu telah berdiri di atas batu dan burung garudanya hinggap di pohon yang tumbuh tinggi di dinding tebing. Tentu saja sukar mendengarkan suara halus dari gerakan sayap yang menahan peluncuran mereka tadi dan tahu-tahu gadis itu telah ber¬ada di situ, mengeluarkan kata-kata yang mengejek dan dengan pandang mata yang marah dan mengandung hinaan pula. “Ah, jangan sembarangan bicara!” bentaknya marah, akan tetapi tentu saja dengan perasaan tidak enak dia melepas¬kan pelukannya yang tadi dilakukan untuk mencegah Cui-ma lari dan membiarkan wanita itu menangis. Tiba-tiba Cui-ma menjerit nyaring sekali. “Siluman.... datang hendak men¬cabut nyawaku....!” Dia menoleh ke arah dara itu, lalu melarikan diri dengan ce¬pat berloncatan ke atas batu-batu yang besar-besar dan berserakan di tempat itu. “Cui-ma....!” Kian Bu berteriak me¬ngejar. Akan tetapi seperti orang nekat Cui-ma telah lari cepat berloncatan membabi-buta. Tiba-tiba dia tergelincir dan terbanting jatuh ke depan. Terdengar suara “prakkk” dan tubuhnya terguling, tidak bergerak lagi. “Cui-ma....!” Kian Bu melompat dan cepat berlutut di atas batu di mana Cui¬-ma roboh tadi. Dia memeriksa dan me¬narik napas panjang, lalu menoleh ke arah dara cantik yang masih berdiri itu. “Dia telah mati....“ katanya seperti orang mengeluh. “Mati....?” Gadis itu cepat berlari menghampiri dan terbelalak memandang wanita setengah tua yang kini kepalanya pecah berlumuran darah. Kiranya ketika terjatuh tadi, kepalanya menimpa batu keras dan pecah sehingga dia tewas se¬ketika! Dan baru sekarang Hwee Li men¬dapat kenyataan bahwa wanita yang di¬peluk oleh Kian Bu tadi ternyata adalah seorang wanita setengah tua yang muka¬nya kotor menjijikkan dan yang agaknya adalah seorang wanita yang tidak waras otaknya. “Dia siapa? Kenapa?” tanyanya sambil memandang kepada Kian Bu. Akan tetapi Kian Bu masih merasa marah, sedih dan kecewa melihat nasib Cui-ma sehingga dia tidak menjawab pertanyaan gadis itu, malah tidak mempedulikannya lagi dan dia memondong mayat Cui-ma, dibawa¬nya ke tempat yang ada tanahnya. Dia menggali lubang tanpa bicara sepatah kata pun, kemudian mengubur mayat Cui-ma di situ, di depan sebuah gua. Akhirnya dia membersihkan kedua ta¬ngannya sambil menghela napas. “Suma Kian Bu, kau menganggap diri¬mu ini siapa sih? Sikapmu begitu som¬bong!” Hwee Li yang sejak tadi diam saja dan menonton semaa yang dilakukan Kian Bu sambil duduk di atas batu besar, kini menegur dengan wajah cemberut karena dia merasa sama sekali tidak diacuhkan oleh pemuda itu. Kian Bu menengok dengan alis ber¬kerut. “Engkau telah membuat dia ke¬takutan dan menjadi sebab kematiannya, dan kau sama sekali tidak menyesal?” “Eh, eh! Siluman Kecil, ngawur saja bicaramu! Bagaimana duduk perkaranya maka kaukatakan bahwa aku menjadi sebab kematiannya? Hwee Li berseru sambil bangkit berdiri dan bertolak ping¬gang, wajahnya merah karena marahnya. Hemmm, pemarah benar gadis ini,pikir Kian Bu. Akan tetapi dia tidak mau kalah karena memang dia merasa kasihan sekali kepada Cui-ma dan mendongkol melihat kedatangan gadis itu yang me¬ngejutkan Cui-ma. “Kau telah mengejutkan dia, mengira engkau siluman maka dia lari lalu ter¬jatuh. Apa kau tidak melihat itu?” “Huh, kalau dia menganggap aku silu¬man, apakah itu kesalahanku? Kalau dia takut melihat aku lalu lari seperti gila, apakah itu juga kesalahanku? Kalau kau yang dekat dengan dia tidak mampu mencegah dia lari, apakah itu pun ke¬salahanku? Kalau memang wajahku jelek sekali seperti siluman sehingga membikin dia takut, apakah itu juga kesalahanku?” Diberondong oleh ucapan yang nadanya menantang dan mengejek, namun tak dapat dibantah kebenarannya itu mem¬buat Kian Bu merasa tidak enak dan serba salah. Memang kalau dipikir benar¬-benar, tentu saja munculnya gadis itu tidak salah dan tidak sengaja hendak mengagetkan Cui-ma. “Kau tidak berwajah jelek....“ sa¬king bingungnya dia membantah kalimat terakhir itu. “Sudah jelas dia menyangka aku silu¬man sehingga dia ketakutan! Wajahku jelek seperti siluman, dan apa dayaku?” Kalau dia diserang dengan kata yang mengandung kemarahan, agaknya Kian Bu akan dapat membalas karena dia pun terhitung seorang yang pandai bicara, bahkan dulu sebelum dia menjadi Siluman Kecil, dia adalah seorang pemuda yang lincah jenaka dan pandai menggoda orang lain dengan kata-kata, akan tetapi kini melihat dara itu memburuk-burukkan diri sendiri, dia menjadi makin tidak enak. “Tidak, tidak...., sebaliknya malah, kau cantik sekali....“ “Huh, sudah keluar pula sifat cabul¬nya!” Hwee Li mengejek. Kian Bu makin bingung. Celaka, gadis ini benar-benar membikin orang menjadi kewalahan dan mendongkol sekali! “Mak¬sudku, kau tidak jelek dan karena cantik itu agaknya dia menyangka kau siluman. Tentu saja bukan salahmu, akan tetapi, ah, aku kasihan sekali padanya. Nasibnya demikian Buruk sampai matinya....“ Dan pemuda itu memandang ke arah gundukan tanah campur batu yang menjadi kuburan Cui-ma itu. Melihat sikap yang sungguh-sungguh dari pemuda itu, Hwee Li juga mereda rasa penasarannya dan dia bertanya sam¬bil memandang ke arah kuburan itu, “Siapakah dia itu?” “Namanya Cui-ma, dia pelayan dari Ang Siok Bi yang telah menjadi gi¬la karena tekanan batin yang hebat dan dia sampai di sini karena dilempar ke Sungai Huang-ho dan hanyut oleh pusaran air.” “Ihhh....! Siapa yang melakukannya dan kenapa? Siapa pula itu Ang Siok Bi? “Dia adalah ibu Ang Tek Hoat.” “Tek Hoat....? Tek Hoat? Serasa pernah aku mendengar nama itu!” Hwee Li mengerutkan alisnya sambil meng¬ingat-ingat. “Mungkin saja. Dia pernah terlibat dalam urusan pemberontakan Pangeran Liong Bin Ong. Dia terkenal dengan ju¬lukannya si Jari Maut, Ang Tek Hoat.” “Ahhh....! Benar! Wah, dia terkenal sekali dan orang itu amat menarik. Kau bilang bahwa wanita tadi adalah pelayan ibu si Jari Maut?” Melihat betapa Hwee Li amat ter¬tarik, maka dengan singkat Kian Bu lalu menuturkan tentang pertemuannya dengan Cui-ma dan tentang cerita Cui-ma bahwa ibu dari Tek Hoat telah dibunuh oleh orang-orang Bhutan yang dipimpin oleh orang yang bernama Mohinta, seorang panglima dari Bhutan yang lihai. Hwee Li mendengarkan dengan penuh perhatian dan dia kembali memandang ke arah kuburan itu. “Maafkan aku, tadinya kusangka....“ “Kausangka apa?” “Dari atas kulihat engkau memeluk seorang wanita, kelihatan kalian seperti sedang bercinta-cintaan dan bermesra-¬mesraan.” Kian Bu sudah mendapatkan kembali sifatnya yang nakal dan suka menggoda orang. “Andaikata benar demikian, meng¬apa?” Kedua pipi itu berubah merah dan matanya bersinar marah. “Aku sih tidak peduli! Akan tetapi karena kau bilang hendak mencarikan obat untuk Suma Kian Lee, dan melihat kau bermain gila, maka aku sudah menegurmu.” “Obat? Ah, benar! Agaknya aku sudah menemukan tempatnya, berkat petunjuk dari Cui-ma,” berkata demikian, Kian Bu lalu melangkah menuju ke gua yang ditunjuk oleh Cui-ma tadi. Hwee Li cepat mengikutinya dan mereka berdiri di depan gua besar yang agak gelap karena sinar matahari tidak dapat langsung masuk ke dalamnya. Akan tetapi lambat-laun mata mereka sudah menjadi biasa dan ketika mereka me¬masuki gua, kelihatanlah oleh mereka banyak sekali kerangka kecil di situ. “Hemmm, Cui-ma bilang bahwa gua ini penuh tengkorak bayi dan anak kecil. Agaknya inilah gua tengkorak itu....“ kata Kian Bu sambil memandang tengko¬rak dan tulang-tulang berserakan. “Tidak ada tengkorak bayi atau anak kecil. Ini adalah tengkorak dan kerangka binatang, semacam monyet, hanya muka¬nya seperti anjing. Hemmm, tidak salah lagi, ini adalah kerangka binatang baboon yang tubuhnya monyet dan mukanya an¬jing. Ini agaknya menjadi kuburan me¬reka.” “Dan Cui-ma bilang di sini terdapat mata iblis....“ kata pula Kian Bu. Mereka masuk terus ke dalam gua yang agak panjang itu. Tiba-tiba Hwee Li berseru, “Ihhhhh....” dan otomatis ta¬ngannya memegang tangan Kian Bu. Pe¬muda ini pun terkejut sehingga dia pun membalas pegangan tangan itu. Mereka saling berpegang tangan dan jantung mereka berdebar tegang. Jauh di sebelah dalam, di tempat gelap, nampak banyak mata yang mencorong dan bersinar-sinar memandang ke arah mereka! Bukan mata manusia, bukan pula mata binatang, dan agaknya itulah mata iblis yang ditakuti oleh Cui-ma. Tiba-tiba Hwee Li tertawa dan me¬lepaskan tangannya. “Ah, memang benda yang berkilau dan mengeluarkan sinar, akan tetapi lihat, sinarnya tidak pernah bergerak. Bukan mata, melainkan benda¬-benda bersinar.” “Benar engkau, Nona. Dan agaknya inilah yang kucari. Lihat, bukankah sinar¬nya berubah-ubah dan seperti warna pe¬langi? Inilah jamur panca warna itu! Menurut penuturan Sai-cu Kai-ong, jamur itu hanya mengeluarkan sinar di tempat gelap, kalau di tempat terang tidak ber¬sinar.” Kian Bu mendekat, berjongkok dan menggunakan tangannya mencabuti jamur-jamur itu. Jamur-jamur itu masih bersinar-sinar di tangannya ketika dia bawa keluar, akan tetapi setibanya di luar, jamur-jamur itu kehilangan sinarnya dan berubah sebagai jamur biasa saja! “Inilah obatnya, tidak salah lagi!” Kian Bu berseru dan menoleh ke arah kuburan Cui-ma sambil berkata, “Terima kasih, Cui-ma, engkau telah menyelamat¬kan kakakku.” “Belum tentu,” tiba-tiba Hwee Li berkata. “Kalau kau tidak dapat keluar dari sini dan cepat-cepat memberikan jamur itu kepada kakakmu, mana bisa dia tertolong? Mari, kuantar kau naik.” Hwee Li mengeluarkan suara meleng¬king dan burung garuda itu menyambar turun lalu hinggap di atas batu di depan gadis itu. “Siluman Kecil....“ “Namaku Suma Kian Bu, Nona.” “Sebaiknya sekarang kukenal sebagai Siluman Kecil saja. Kau akan kubantu agar dapat naik ke sana.” “Terima kasih, Nona. Akan tetapi....“ Kian Bu meragu karena dia merasa “nge¬ri” kalau harus duduk membonceng lagi. Dia tidak berani tanggung kalau tidak akan bangkit berahinya lagi duduk ber¬himpitan dengan nona yang amat cantik itu. “Kaukira akan membonceng? Aku pun tidak mau....! “Kalau aku duduk di depan....” “Huh, di depan pun berbahaya. Se¬orang cabul seperti engkau!” “Kalau begitu tinggalkan saja aku di sini, Nona, aku akan mencari jalan ke luar sedapatku dan aku tidak mau me¬nyusahkanmu.” “Sombong!” Hwee Li meloncat dengan gerakan ringan sekali ke atas punggung garudanya dan burung itu pun terbang ke atas. Hwee Li menjenguk ke bawah sam¬bil berteriak, “Kau bergantunglah pada ini!” Dan sehelai sabuk sutera merah muda meluncur ke bawah. Kian Bu tersenyum. Memang banyak akalnya nona ini, pikirnya dan karena dia harus cepat-cepat dapat kembali ke ka¬kaknya, maka dia pun lalu meloncat dan menangkap ujung sabuk sutera itu, ber¬gantung di udara. Gadis itu mengeluarkan suara melengking dan burungnya terbang ke atas dengan cepat sekali. Tubuh Kian Bu tetap bergantung dan diam-diam pe¬muda perkasa ini merasa ngeri juga. Dia tahu bahwa nyawanya berada di telapak tangan nona itu karena sekali saja nona itu melepaskan sabuk, betapapun tinggi kepandaiannya, dia tidak akan mungkin dapat menyelamatkan nyawanya lagi. Untuk keluar dari tempat itu, belum tentu akan dapat dilakukannya dalam waktu berhari-hari karena dia harus akan mencari-cari jalan lebih dulu, akan tetapi dengan menggantung pada sabuk sutera itu, dalam waktu beberapa menit saja dia sudah tiba di atas tebing dan dia meloncat turun. Burung garuda itu ter¬bang perlahan berputaran di atas kepalanya dan gadis itu menjenguk ke bawah. “Siluman Kecil, kau cepat bawa obat itu kepada kakakmu!” Kian Bu menjura ke arah gadis itu dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata, “Engkau sung¬guh amat baik, Nona. Engkau telah me¬nolong aku dan berarti engkau telah menyelamatkan nyawa kakakku. Aku menghaturkan terima kasih atas bantuan¬mu.” “Aku tidak membantumu! Kalau tidak ingat kepada kakakmu, apa kaukira masih hidup setelah apa yang kaulakukan di atas punggung garuda kemarin?” Wajah Kian Bu terasa panas dan men¬jadi merah sekali. “Nona, semua itu ter¬jadi tanpa kusengaja, apakah kau tidak dapat memaafkan aku?” “Sudahlah, cepat pergi dan obati ka¬kakmu.” “Tapi tinggalkan dulu namamu, Nona.” “Aku tidak ingin menjadi kenalanmu.” “Tidak, akan tetapi kalau kakakku bertanya siapa adanya dewi kahyangan yang menolongnya bagaimana aku akan menjawab?” Disebut dewi kahyangan, Hwee Li tersenyum. “Engkau memang perayu be¬sar! Katakan saja bahwa lima enam ta¬hun yang lalu aku pernah mengobati luka di paha kakakmu!” Setelah berkata demi¬kian, dia menepuk punggung garudanya yang terbang cepat ke atas. Kian Bu menjadi bengong. Pernah kakaknya dahulu bercerita betapa ketika kakinya terluka parah, terkena ledakan senjata rahasia Mauw Siauw Mo-li, paha kakaknya yang terluka itu diobati dan disembuhkan oleh seorang gadis cilik yang bernama Kim Hwee Li, yaitu puteri dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Ne¬raka! Jadi gadis cantik jelita itu adalah puteri ketua Pulau Neraka! “Engkau Kim Hwee Li dari Pulau Neraka?” Dia berseru nyaring ke arah burung garuda yang sudah terbang tinggi. Tidak ada jawaban kecuali suara melengking nyaring yang makin menjauh, entah lengking gadis aneh itu ataukah lengking garuda. *** Kian Bu melakukan perjalanan cepat sekali, akan tetapi ketika dia tiba di perbatasan Propinsi Ho-nan di mana tem¬po hari pasukan kerajaan berada, kini tempat itu telah menjadi sunyi dan tahu¬lah dia bahwa pasukan itu telah mening¬galkan tempat itu. Dan hal itu memang benar. Setelah Pangeran Yung Hwa se¬lamat sampai di istana kaisar, kaisar lalu memerintahkan agar pasukan kembali ke kota raja. Kaisar tidak ingin melihat timbulnya perang saudara yang baru, karena pasukan lebih diperlukan untuk menjaga perbatasan dengan negara te¬tangga dan melindungi tanah air dari serbuan orang-orang liar terutama dari utara dan barat, daripada dipergunakan untuk perang saudara. Adapun mengenai tanda-tanda dan sikap-sikap memberontak dari para gubernur, akan diserahkan ke¬pada orang-orang pandai dari kerajaan untuk mengatasi dan membereskannya. Setelah mendapatkan kenyataan bahwa pasukan telah meninggalkan tempat itu, Kian Bu terlngat akan pesan Sai-cu Kai-¬ong, maka tanpa membuang waktu lagi dia langsung pergi dengan cepat menyusul ke puncak Bukit Nelayan, yaitu bukit di tepi sungai sebelah selatan kota Pao-¬teng di mana Sai-cu Kai-ong tinggal. Beberapa hari kemudian, setelah dia tiba di puncak Bukit Nelayan, benar saja dia bertemu dengan Sai-cu Kai-ong dan kakaknya juga berada di situ, berbaring di dalam sebuah kamar dan keadaannya tidaklah separah ketika dia tinggalkan berkat perawatan yang baik dari seorang ahli pengobatan yang pandai, yaitu Sai¬-cu Kai-ong. Kakek itu girang dan kagum sekali menerima jamur panca warna dari Kian Bu. “Benar...., benar inilah jamur yang mujijat itu.... aihhh, Suma-taihiap, sung¬guh engkau hebat sekali, dan kakakmu tentu akan sembuh dengan cepat berkat obat ini,” kata kakek itu sambil mem¬bawa masuk jamur itu untuk dibuatkan ramuan obat. Kian Bu memandang girang dan me¬noleh ketika kakaknya berkata, “Bu-te, engkau telah bersusah-payah untukku. Aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu, adikku.” Kian Bu duduk di atas bangku dekat pembaringan kakaknya, wajahnya berseri gembira dan dia berkata, “Lee-ko, kau tidak semestinya mengucapkan terima kasih kepadaku, karena yang berjasa mendapatkan jamur mujijat itu bukanlah aku....“ “Aku tahu, memang Locianpwe Sai-¬cu Kai-ong juga telah melimpahkan budi kepadaku, akan tetapi engkau yang ber¬susah payah mendapatkannya, padahal menurut cerita Locianpwe itu, amat sukarlah mendapatkannya dan kau telah berhasil dalam waktu singkat.” “Ah, sama sekali bukan aku. Kalau tidak ada pertolongan orang itu, kiranya belum tentu satu bulan lagi aku sudah dapat kembali, bahkan belum tentu bisa mendapatkan jamur itu.” “Ah, begitukah? Siapakah penolong yang budiman itu, adikku?” “Dia adalah seorang yang amat kau kenal baik, Koko.” “Siapa?” “Pacarmu!” Kian Lee terkejut dan mengerutkan alisnya memandang wajah adiknya yang berseri dan kemudian dia tersenyum. Biarpun adiknya ini telah mengalami banyak sekali perubahan, rambutnya putih semua persis seperti keadaan ayah mere¬ka si Pendekar Super Sakti, wajah adik¬nya itu sudah nampak dewasa dan “ma¬tang”, namun ternyata adiknya masih belum kehilangan sifat kebengalannya! “Kian Bu, jangan main-main kau!” katanya menegur karena dia mengira bahwa yang dimaksudkan oleh Kian Bu itu tentulah Ceng Ceng, atau Lu Ceng, atau kini telah menjadi isteri Kao Kok Cu putera sulung Jenderal Kao Liang yang dulu berjuluk Topeng Setan. Begitu men¬dengar adiknya menyebut “pacarmu”, ter¬bayanglah wajah Ceng Ceng, akan tetapi Kian Lee cepat mengusir bayangan itu karena maklum bahwa tidak semestinya¬lah kalau dia membayangkan wajah isteri orang lain! NEXT--->

Tidak ada komentar:

Posting Komentar