Jumat, 21 Februari 2014

Dewi Maut Jilid 03

Dewi Maut Jilid 03

<--kembali

Lewat tengah hari restoran itu masih penuh dengan tamu yang makan siang, yaitu mereka yang menjamu para pedagang yang menjadi tamu. Suasana cukup gembira biarpun mereka semua terpaksa harus mengambil tempat di ruangan bawah, karena semua tamu yang tinggal di Han-tiong tidak seorangpun berani mengganggu ruangan yang telah dipesan untuk Cin-ling-pai. Berita ini sebentar saja sudah menjalar sampai ke mana-mana dan terdengar oleh semua penduduk. Bahkan di luar restoran itu terdapat banyak orang yang kebetulan tidak memiliki kesibukan apa-apa, mereka berkumpul karena ingin melihat Cap-it Ho-han yang namanya mereka puja-puja dan yang kabarnya akan mengunjungi restoran Koai-lo. Para Pelayan juga sudah menanti-nanti dengan tegang, dan lima orang pelayan sudah disiapkan untuk menjadi pelayan-pelayan khusus bagi para tamu agung itu.

Orang-orang yang menanti di luar itu berbisik-bisik dan suasana menjadi tegang ketika dari luar datang empat orang yang aneh keadaannya. Empat orang ini entah dari mana datangnya, tahu-tahu telah berada di luar restoran, berdiri di depan pintu dan memandang ke kanan kiri. Sekelebatan saja dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang aneh yang asing, dengan pakaian dan sikap yang luar biasa. Seorang di antara mereka adalah wanita yang usianya tentu sudah ada lima puluh tahun, namun mukanya berbedak tebal sampai menjadi putih seperti tembok, bibirnya yang tebal dicat merah sekali, juga kedua pipinya diberi pemerah pipi, rambutnya digelung rapi dan licin mengkilap oleh minyak yang mengeluarkan bau terlalu wangi sehingga tercium sampai jauh, rambut itu dihias oleh emas permata yang berkilauan, telinganya terhias anting-anting yang besar terbuat dari emas pula, juga pakaiannya serba mewah dan mahal. Pendeknya, wanita ini adalah seorang pesolek besar dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya yang dibungkus sepatu baru. Mulut yang berbibir merah itu mesam-mesem genit, matanya melirik-lirik seperti sikap seorang dara muda yang cantik jelita. Akan tetapi sebatang pedang membayang dari balik gaunnya, dan kulit di buku-buku jari kedua tangennya tampak tebal dan keras kehitaman seperti besi!

Orang kedua adalah seorang yang melihat jubah dan kepalanya seperti seorang hwesio (pendeta beragama Buddha), kepalanya yang gundul itu, terhias penutup ubun-ubun yang meruncing berwarna putih berkilauan, tubuhnya yang gendut itu hanya terbungkus kain yang dilibat-libatkan seperti jubah, mukanya halus mengkilap dan licin seperti diminyaki, dan seuntai tasbeh yang terbuat dari batu-batu berwarna hijau melingkar di pundaknya. Dengan matanya yang bulat lebar hwesio itu memandang ke kanan kirl dengan sikap tak perdulian.

Orang ketiga adalah seorang laki-laki tinggi kurus bermuka seperti monyet saking kurusnya, matanya cekung dan kedua pipinya juga cekung, hidungnya pesek dan mulutnya lebar. Dibandingkan dengan hwesio yang usianya tentu sudah hampir enam puluh tahun itu, laki-laki tinggi kurus ini kelihatan muda, sungguhpun tentu dia juga sudah berusia empat puluh tahun lebih. Kulitnya kuning pucat seperti orang yang menderita penyakit berat.

Orang keempat agaknya menjadi pimpinan mereka, atau setidaknya tentu yang paling tua. Orang ini memakai jubah luar berwarna hitam, berkantung lebar, mukanya membayangkan kekasaran dan pandang matanya selalu memandang rendah kepada apapun yang dipandangnya, hidungnya besar panjang agak bengkok ke bawah, kepalanya memakai sebuah topi. Seperti juga laki-laki kurus kering, dia tidek kelihatan membawa senjata apapun, namun dari sikap dan pandang matanya jelas dapat diduga behwa dia bukanlah orang sembarangan dan ada sesuatu yang mengerikan terbayang pada sikap empat orang ini.

“Kenapa harus berjalan naik? Aku mengambil jalan terdekat dan termudah!” kata wanita pesolek itu dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas, langsung dia sudah meloncat ke dalam ruangan loteng yang tinggi itu! Tentu saja perbuatan ini membuat semua orang yang melihatnya menjadi bengong, kaget dan juga kagum. Kiranya banyak juga orang pandai yang dapat meloncat ke loteng itu, akan tetapi cara nenek pesolek itu melompat benar-benar amat luar biasa. bukan melompat lagi melainkan terbang!

“Omitobud, melayang seperti itu di tempat asing sungguh sembrono dan barbahaya. Pinceng lebih suka berhati-hati dan memeriksa keadaan yang belum kita kenal!” Hwesio itu berseru sambil mengangguk-angguk, kemudian dia menghampiri tembok dekat pintu. Mendengar kata-katanya, orang mengira bahwa dia hendak berjalan masuk melalui pintu seperti biasa, akan tetapi orang-orang yang melihatnya menjadi bengong ketika melihat hwesio itu bukan memasuki pintu, melainkan menghampiri tembok, kemudian menggunakan tangan dan kakinya untuk merayap naik seperti seekor cecak saja! Setiap kali telapak tangannya menempel tembok, telapak tangan itu melekat dan ketika telapak tangan dilepaskan untuk menempel ke atas lagi, terdengar suara “ceplokk!”.

Semua orong, baik para tamu yang berada di dalam restoran dan mereka yang berada di luar, terbelalak penuh keheranan dan kekaguman, mengikuti gerakan hwesio itu dengan pandang mata mereka ketika hwesio itu terus memanjat tembok seperti seekor ceeak besar sehingga akhirnya dia tiba di loteng dan meloncat masuk.

“Heh-heh, Hok Hosiang benar-benar amat tergesa, apakah khawatir kehabisan arak? Tunggu aku, jangan dihabiskan!” Tiba-tiba orang laki-laki kurus seperti monyet itu tertawa, kemudian sekali tubuhnya berkelebat, bayangannya lenyap dari tempat itu dan yang nampak hanya bayang-bayang seperti setan berkelebatan melalui anak tangga dan tahu-tahu dia telah berada di loteng pula, disambut dengan tertawa-tawa oleh wanita pesolek dan hwesio berilmu cecak tadi.

Laki-laki yang bertopi dan berhidung besar itu menggeleng kepala. “Aihhh... anak-anak itu masih suka bermain-main di manapun mereka berada!” Ucapannya ini cukup keras sehingga terdengar oleh semua orang.

Seorang pelayan yang berjaga di kaki anak tangga segera menyambutnya karena dialah yang memesan tempat di atas loteng itu. Pelayan ini tadi juga bengong menyakeiken ulah semua tamunya yang aneh-anch itu, dan kini dengan senyum lebar dia menjura kepada kakek bertopi sambil berkata, “Kiranya loya (tuan besar) dan para sahabathya telah tiba. selamat datang dan silakan naik. Apakah hidangannya harus disajikan sekarang?”

Kakek itu memandang dengan sikap merendahkan, lalu berkata, “Kami barempat adalah fihak tuan rumah, tamu-tamu yang kami undang belum datang. Keluarkan saja arak lebih dulu empat guci besar!”

Pelayan itu terbelalak. Untuk empat orang saja harus menyajikan empat guci besar? Seguci eukup untuk diminum lima orang sampai mabok! Akan tetapi dia tidak berani membantah dan ketika dia hendak pergi melaksanakan perintah ini, tiba-tiba dia berdiri torlongong memandang kakek yang kini melangkah perlahan-lahan naik ke tangga loteng. Juga para tamu memandang dan bangkit berdiri, mata mereka terbelalak ketika melihat betapa pada lantai dan papan-papan anak tangga bekas kaki orang bertopi itu nampak bekas injakan yang dalamnya setengah jari, lantai dan papan itu melesak ke dalam! Setelah kakek itu tiba di loteng, ramailah semua orang berbisik-bisik membicarakan kehebatan empat orang aneh itu, ada yang merasa ngeri dan cepat-cepat meninggalkan restoran karena menganggap bahwa empat orang itu pasti bukan manusia, melainkan iblis-iblis dan siluman! Akan tetapi, beberapa orang tamu yang mengerti akan ilmu-ilmu silat dapat mengenal orang-orang yang memiliki kepandaian amat tinggi maka tertariklah mereka, ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya antara orang-orang aneh ini dengan tokoh-tokoh Cin-ling-pai.

Dugaan mereka ini memang benar. Empat orang itu bukanlah orang sembarangang melainkan datuk-datuk dalam dunia persilatan dan lebih torkenal lagi di antara golongan hitam atau kaum sesat. Kakek bertopi den berhidung besar itu bernama Gu Lo It dan terkenal dengan julukannya Liok-te Sin-mo (Si Iblis Bumi) dan dalam rombongan empat orang ini dialah yang paling tua dan agaknya paling disegani oleh teman-temannya. Hwesio yang merayap tembok seperti cecak itu juga amat terkenal di dunia hek-to (jalan hitam, dunia penjahat), karena dia hanyalah seorang hwesio palsu, seorang penjahat besar yang menyembunyikan diri di balik jubah pendeta dan kepala gundulnya. Dia memakai nama pendeta Hok Hosiang, bahkan memakai nama julukan yang amat hebat membayangkan kesombonkannya, karena julukannya itu adalah Sin-ciang Siauw-bin-sian (Si Dewa Tertawa Bertangan Sakti)!

Wanita tua yang pesolek itupun bukan orang sembarangan. Dia adalah Ciok Lee Kim yang berjuluk Hui-giakang (Kelabang Terbang) yang terkenal sebagai seorang maling tunggal dan yang pernah menggegerkan istana karena selama satu bulan dia berani mengganggu kamar-kamar di istana untuk mencuri benda-benda berharga sehingga hampir dia tertangkap oleh para pengawal dan tidak berani muncul lagi. Adapun orang keempat, laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang bermuka kurus seperti monyet itu, bernama Bu Sit dan berjuluk Toat-beng-kauw (Monyet Pencabut Nyawa).

Karena kota Han-tiong yang termasuk daerah Pegunungen Cin-ling-san itu selalu aman dan semenjak Cin-ling-pai berdiri di Cin-ling-san keadaan menjadi tenteram, semua penjahat tidak ada yang berani beraksi di daerah itu maka orang-orang yang berada di situ tidak ada yang mengenal empat orang datuk kaum sesat ini.

Sebetulnya, empat orang ini hanya merupakan anggauta-anggauta dari rombongan yang terdiri dari lima orang dan yang terkenal dengan sebutan yang mereka buat sendiri, yaitu Ngo-sian-eng-cu (Lima Bayangan Dewa). Yang seorang adalah pemimpin mereka dan kehadiren mereka di restoran itu adalah atas perintah orang pertama yang menjadi orang tertua dan menjadi kakak tertua mereka, karena Lima Bayangan Dewa ini telah menjadi saudara-saudara angkat yang bekerja sama dengan baik, sehingga kekuatan mereka yang tergabung itu membuat mereka amat ditakuti, baik oleh kaum sesat sendiri, karena memang tidak mudah untuk mengalahkan lima orang yang bergabung ini dan sudah menjadi saudara angkat yang bersumpah untuk sehidup semati!

Biarpun para tamu di ruangan bawah restoran itu tidak mengenal mereka yang berada di loteng, namun para tamu yang berani tetap tinggal di situ dapat menduga bahwa empat orang aneh itu tentulah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi, dan karena mereka semua pereaya akan perlindungan Cin-ling-pai, maka mendengar bahwa empat orang itu mengundang Cap-it Ho-han dari Cin-ling-pai, mereka bersikap tenang-tenang saja dan ingin menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kepala pelayan lalu dihujani pertanyaan oleh para tamu dan kepala pelayan ini menceritakan dengan gembira karena dia mendapat kesempatan untuk menonjolkan diri dan menjadi perhatian, bahwa kakek bertopi itulah yang mengatur pesanan untuk menggunakan loteng itu sebagai tempat perjamuan menyambut tamu-tamu mereka, yaitu Cap-it Ho-han dari Cin-ling-pai.

“Tentu saja tadinya saya keberatan kalau loteng itu diborongnya, akan tetapi mendengar bahwa mereka itu hendak menjamu Cap-it Ho-han, siapa yang berani menentang? Kami malah berbahagia sekali dapat menyenangkan hati Cap-it Ho-han, bukan? Dan kiranya, empat orang itupun adalah orang-orang yang memiliki kepandaian amat hebat! Pantas menjadi sahabat-sahabat Cap-it Ho-han!”

Akan tetapi di antara para tamu itu ada pula yang diam-diam menyaksikan apakah benar empat orang ini adalah sahabat-sahabat Cap-it Ho-han. Mereka sudah mengerti betul siapa adanya Cap-it Ho-han, yaitu tokoh-tokoh Cin-ling-pai yang terkenal sebagai pendekar-pendekar besar, pembela kebenaran dan keadilan dan yang hidup sederhana seperti petani-petani biasa. Sedangkan empat orang ini ternyata memiliki watak yang amat sombong, suka menonjol-nonjolkan kepandaian mereka seperti terbukti tadi betapa mereka berempat terang-terangan sengaja mendemonstrasikan ilmu kepandaian mereka di depan orang banyak dengan sikap amat sombongnya. Agaknya amat aneh kalau para pendekar seperti Cap-it Ho-han itu bersahabat dengan orang-orang sombong seperti itu, biarpun mereka berempat itu harus diakui memiliki kepandaian yang amat hebat. Apalagi ketika mendengar betapa empat orang di atas loteng itu segera terdengar tertawa-tawa dengan kasarnya agaknya minum arak sambil bersendau-gurau, lagak mereka sama sekali tidak pantas menjadi orang-orang yang dapat disejajarkan dengan para pendekar dari Cin-ling-pai itu.

Betapapun juga, semua orang tertegun dan terheran bukan main ketika tak lama kemudian pelayan-pelayan yang bertugas di atas itu sudah sibuk mengangkat empat guci arak lagi, dibawa ke atas untuk menambah empat guci pertama yang agaknya sudah habis pindah ke dalam perut empat orang aneh itu.

Menjelang senja, terdengar suara berisik di luar restoran itu dan orang-orang mulai berdesak-desakan untuk melihat dan menyambut munculnya tujuh orang jagoan Cin-ling-pai, yaitu tujuh orang di antara Cap-it Ho-han yang datang memenuhi panggilan Lima Bayangan Dewa yang bernada menantang. Sikap ketujuh orang pendekar ini tenang saja dan pakaian mereka seperti para petani dusun, dan mereka hanya tersenyum sambil mengangguk ke kanan kiri membalas penghormatan para penduduk Han-tiong yang mengenal mereka.

Para pelayan restoran menyambut mereka penuh penghormatan ketika Sun Kiang dan enam orang sutenya memasuki restoran itu, kemudian dengan tenang mereka naik ke loteng melalui anak tangga dan mereka hanya memandang tanpa perduli akan tanda bekas kaki yang dibuat oleh Liok-te Sin-mo Gu Lo It tadi ketika kakek itu naik ke ruangan atas. Tentu saja mereka yang tadi mengiringkan tujuh orang pendekar ini tidak berani ikut naik dan mereka hanya menonton dari luar restoran. Dari luar rumah makan, mereka dapat melihat keadaan di ruangan loteng yang terbuka itu, hanya tertutup oleh langkan setinggi satu meter sehingga mereka dapat melihat kepala orang-orang yang duduk di loteng.

Ketika tujuh orang pendeker Cin-ling-pai itu memasuki ruangan loteng, mereka melihat bahwa meja di situ telah diatur memanjang. Di bagian dalam duduklah empat orang yang sedang minum-minum dan di bagian luar meja terdapat sebelas buah bangku kosong! Melihat sikap empat orang aneh yang duduk minum-minum di situ dan tidak ada orang lain di ruangan atas ini, maka Sun Kiang mengerutkan alisnya. Tidak salah lagi, tentulah mereka ini yang mengirim undangan, akan tetapi mengapa Lima Bayangan Dewa hanya ada empat orang? Melihat mereka barempat itu minum-minum dan agaknya sama sekali tidak memperdulikan kedatangan mereka, Coa Seng Ki, orang termuda dari Cap-it Ho-han, segera berkata, “Suheng, agaknya kita salah masuk. Aku tidak melihat ada bayangan dewa-dewa atau setan di sini!”

Sun Kiang melirik kepada sutenya yang bungsu itu, akan tetapi dia tidak marah karena sutenya tidak langsung menghina orang, sungguhpun dia tahu bahwa sutenya tentu mendongkol menyaksikan sikap empat orang itu yang diduga tentu para pengundang mereka.

Mendengar ucapan ini, Liok-te Sin-mo Gu Lo It mengangkat mukanya memandang tujuh orang petani itu dan memandang dengan penuh selidik. Tidak ada tanda sedikitpun bahwa tujuh orang ini adalah pendekar-pendekar besar, kecuali bahwa sikap mereka amat tenang.

“Omitohud...ha-ha-ha-ha!” Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang tertawa, kepalanya yang gundul bergerak-gerak ke belakang karena dia tertawa dengan muka menengadah dan perutnya yang gendut berguncang-guncang. “Ha-ha-ha, pinceng sungguh tidak dapat menjawab, kalau para pendekar menjadi petani, para petani lalu menjadi apa, sebaliknya kalau para petani menjadi pendekar, para pendekar lalu menjadi apa? Ha-ha-ha!”

Mendengar kata-kata ejekan ini, kembali Coa Seng Ki yang tidak dapat menahan dirinya, akan tetapi karena dia segan untuk melanggar perintah dan pesan suhengnya, dia tidak langsung menjawab, hanya memandang langit-langit loteng sambil berkata seperti bersajak, “Petani dan pendekar sama saja, keduanya mempunyai tugas penting. Tanpa adanya petani-petani, para pemalas gendut akan kelaparan dan tanpa adanya pendekar-pendekar, penjahat-penjahat di dunia merajalela!”

“Sute...!” Sun Kiang menegur sutenya karena ucapan sutenya itu sudah terlalu pedas.

Sun Kiang yang melihat sikap empat orang itu seolah-olah tidak mengacuhkan kedatangan mereka, sebetulnya juga merasa mendongkol sekali. Akan tetapi, menurut tulisan di ujung tiang bendera, yang mengundang adalah Lima Bayangan Dewa, mengapa yang berada di tempat itu hanya empat orang? Dia khawatir kalau-kalau keliru dan empat orang aneh ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan para pengundang mereka, maka sambil menekan perasaan mendongkolnya dia menjura ke arah mereka sambil berkata, “Harap maafkan kami kalau mengganggu, kami bertujuh dari Cin-ling-pai datang memenuhi suatu undangan, akan tetapi yang mengundang kami berjumlah lima orang...”

Gu Lo It, orang tua bertopi dan berhidung besar itu, bangkit berdiri dengan perlahan, diturut oleh tiga orang temannya dan kini kedua fihak berdiri saling berhadapan. Liok-te Sin-mo Gu Lo It juga mengangkat kedua tangan membalas penghormatan Sun Kiang sambil berkata, suaranya parau, “Kami adalah empat orang di antara Lima Bayangan Dewa, akan tetapi yang kami undang adalah ketua Cin-ling-pai dan sebelas orang Cap-it Ho-han.”

“Ketua kami sedang pergi, dan di antara sebelas orang Cap-it Ho-han, yang ada hanya kami bertujuh, karena itu kami bertujuh mewakili ketua dan para suheng kami memenuhi undangan itu,” jawab Sun Kiang dengan sikap tenang.

“Ah, kiranya jit-wi (anda bertujuh) adalah para anggauta Cap-it Ho-han. Maafkan karena tidak mengenal, kami tidak dari tadi menyambut. Silakan jit-wi duduk!” Gu Lo It berkata dan dari pandang matanya, juga dari suara ketawa hwesio gendut itu, ditambah sikap nenek yang mengerling genit penuh ejekan dan pandang nista dingin laki-laki kurus bermuka kuning, mengertilah ketujuh orang Cap-it Ho-han bahwa empat orang itu sengaja mempermainkan mereka. Akan tetapi Sun Kiang dengan tenang mengangguk lalu duduk di tengah-tengah antara sebelas kursi yang berjajar itu, membiarkan empat kursi di sebelah kanannya kosong, karena dia menganggap bahwa empat kursi pertama adalah tempat duduk para suhengnya yang tidak dapat hadir. Para sutenya juga duduk di sebelah kiri Sun Kiang, sesuai dengan urutan tingkat mereka dan yang paling ujung kiri duduklah Coa Seng Ki, orang termuda dari Cap-it Ho-han.

“Terima kasih atas kebaikan Lima Bayangan Dewa yang telah mengundang kami dari Cin-ling-pai. Setelah kita saling berjumpa di sini, kami mewakili Cin-ling-pai untuk bertanya apa maksud dari Lima Bayangan Dewa mengundang kami secara tidak sewajarnya itu.” Sun Kiang berkata dengan sikap masih halus menghormat, namun kata-katanya cukup jelas merupakan peneguran.

Gu Lo It tertawa dan tiga orang kawannya juga tertawa, suara ketawa mereka memenuhi ruangan itu dengan nada mengejek. Hampir saja Coa Seng Ki orang termuda dari Cap-it Ho-han tidak dapat menahan kemarahannya, akan tetapi mengingat akan pesan Sun Kiang, dia menahan diri, hanya memandang dengan mata bersinar-sinar kepada empat orang itu.

“Ha-ha-ha! Sudah lama kami mendengar nama Cin-ling-pai dan para tokohnya, Cap-it Ho-han yang menjulang tinggi, maka kami sengaja mengirim undangan untuk berkenalan dan menjamu cu-wi di restoran ini.” Tanpa menanti jawaban, dengan sikap kasar Gu Lo It lalu menoleh, bertepuk tangan dan berteriak kepada para pelayan, “Cepat keluarkan hidangan dan tambah lagi arak wangi!”

Para pelayan yang tadinya berdiri menjauh dengan hati berdebar tegang, kini cepat hilir-mudik mengatur hidangan yang memang telah dipersiapkan di dapur, turun naik anak tangga membawa baki-baki berisi masakan-masakan dan mengaturnya di atas meja di depan sebelas orang itu.

“Cap-it Ho-han dari Cin-ling-pai, silakan makan minum bersama kami!” Gu Lo It berkata lantang dan dia bersama tiga orang temannya segera mulai makan dengan lahapnya.

Melihat sikap empat orang itu, Sun Kiang terheran-heran dan juga saling pandang dengan saudara-saudaranya, agak lega hatinya karena kirinya empat orang di antara Lima Bayangan Dewa ini agaknya merupakan orang-orang luar biasa yang hanya ingin mengenal mereka saja! Karena itu, Sun Kiang mengangguk memberi tanda kepada para sutenya, dan mereka inipun mulai menggunakan sendok dan sumpit untuk menerima hidangan dan hati-hati karena mereka belum yakin benar apa yang tersembunyi di balik sikap ramah kasar dan aneh dari empat orang di depan mereka itu.

Empat orang itu memang kasar sekali sikapnya. Mereka makan tanpa sungkan-sungkan lagi, dan hanya Hui-giakang Ciok Lee Kim nenek pesolek itu saja yang makan dengan agak hati-hati karena takut kalau bibir merahnya sampai terhapus oleh kuah masakan yang dimasukkannya ke mulut. Akan tetapi begitu daging yang disumpitnya sudah masuk ke dalam mulutnya dengan aman tanpa merusak pemerah bibirnya, dia mengunyah dan terdengarlah suara berdecapan seperti bunyi babi makan. Sambil makan dengan lahap, tiada hentinya empat orang itu memerintahkan kepada pelayan untuk mengambilkan kecap, cuka, sebentar minta ini dan minta itu sehingga para pelayan menjadi sibuk hilir-mudik. Diam-diam para pelayan itupun muak menyaksikan sikap empat orang ini dan kagum bercampur bangga melihat sikap jagoan-jagoan mereka, yaitu tujuh orang dari Cap-it Ho-han itu yang bersikap demikian tenang dan juga penuh kesopanan.

Heh-heh-heh, Cap-it Ho-han terkenal hebat, sebagai jagoan-jagoan atau tokoh-tokoh utama dari Cin-ling-pai. Kami gembira sekali dapat berkenalan!” Gu Lo It berkata sambil menyapu tujuh orang di depannya itu dengan pandang matanya, dan dia mengusap arak dari pinggir mulutnya.

Sun Kiang membungkuk. “Cu-wi terlalu memuji dan maafkan karena kami selalu tinggal di pegunungan yang sunyi maka kami belum sempat mengenal nama besar dari cu-wi (anda sekalian).”

“Ha-ha-ha, sekarangpun belum terlambat bagi Cap-it Ho-han untuk mengenal nama Lima Bayangan Dewa, yah, sekarang belum terlambat!” Tiba-tiba Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang berkata dan menepuk-nepuk perutnya yang gendut.

Gu Lo It memandang kepada Sun Kiang dan dengan sinar mata tajam dia memperkenalkan diri dan teman-temannya, “Saya adalah orang kedua dari Lima Bayangan Dewa, saya Liok-te Sin-mo Gu Lo It, dia ini adalah orang ketiga, Sin-ciang Siouw-bin-sian Hok Hosiang, yang keempat ini adalah Hui-giakang Ciok Lee Kim, dan kelima adalah Toat-beng-kauw Bu Sit. Adapun saudara tertua kami, Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, sedang pergi melakukan suatu urusan yang amat penting.”

Tujuh orang Cin-ling-pai itu agak terkejut mendengar nama terakhir tadi sebagai orang pertama dari Lima Bayangan Dewa. Mereka sudah mendengar nama Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok dari guru atau ketua mereka. Menurut guru mereka, Pat-pi Lo-sian ini adalah sute dari mendiang Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok (Raja Ular Selaksa Racun) yang tewas di tangan guru mereka, Pendekar Sakti Cia Keng Hong. Maka kini mereka mulai menduga-duga. Kalau empat orang ini adalah sekutu Pat-pi Lo-sian, tentu mereka berlima mempunyai niat tidak baik terhadap Cin-ling-pai. Akan tetapi dengan tenang Sun Kiang mengangguk.

“Nama-nama besar cu-wi tidak akan kami lupakan.”

Gu Lo It berkata dengan suaranya yang parau sambil memandang tajam. “Apakah engkau yang menjadi orang pertama dari Cap-it Ho-han?”

Sun Kiang tersenyum dan menggeleng kepala. “Saya yang bodoh bernama Sun Kiang dan hanya menjadi murid ke lima. Empat orang suhengku sedang pergi dari Cin-ling-san melaksanakan suatu tugas, maka saya dan enam orang suteku datang mewakili Cin-ling-pai memenuhi undangan cu-wi.”

“Ha-ha-ha, bagus kalau begitu! Saat ini engkau adalah orang pertama dari Cin-ling-pai, seperti juga aku merupakan orang pertama di saat ini dari Lima Bayangan Dewa karena suhengku tidak ada. Nah, saya mewakili Lima Bayangan Dewa memberi penghormatan semangkok arak kepada engkau sebagai wakil Cin-ling-pai. Terimalah!”

Setelah berkata demikian, Gu Lo It menuangkan arak di mangkok bekas dia makan tadi, kemudian dia melontarkan mangkok itu ke atas! Semua orang memandang dan para pelayan menjadi ketakutan melihat cara penghormatan yang aneh ini, bahkan seorang pelayan yang sedang mengambilkan tambahan kecap seperti yang diminta oleh Hok Hosiang yang gembul, menjadi takut untuk mendekat meja.

Mangkok terisi arak itu berputaran di atas dan Gu Lo It tidak menurunkan tangannya, bahkan meluruskan kedua lengannya ke arah mangkok yang berputaran di udara itu kemudian kedua tangannya tergetar dan mangkok itu meluncur turun menyambar ke arah Sun Kiang.

“Hemmm...” Sun Kiang maklum akan perbuatan lawan yang mungkin hendak mengujinya dengan mendemonstrasikan tenaga sin-kang yang hebat itu. Dengan tenang diapun mengangkat kedua tangannya dengan lurus ke depan, jari-jari tangannya terbuka dan dia sudah menyalurkan sin-kang melalui kedua lengannya itu sehingga ketika kedua tangannya bergerak, tenaga mujijat terhembus keluar dari telapak tangannya menyambar mangkok arak yang meluncur ke arahnya.

Terjadilah suatu keanehan seperti permainan sulap atau sihir saja. Mangkok yang terisi arak setengahnya itu terhenti di udara seperti dipegangi oleh tangan yang tidak kelihatan, terhimpit antara dua tenaga raksasa yang menyambar keluar dari kedua telapak tangan Gu Lo It dan Sun Kiang. Terjadilah adu tenaga sin-kang yang hanya dimengerti oleh mereka yang duduk mengelilingi meja, yang memandang dengan sikap tegang. Para pelayan berdiri melongo den memandang penuh keheranan, tidak mengerti apa yang terjadi hanya memandang mangkok yang bergerak-gerak di udara itu dengan bingung.

Kedua fihak terkejut ketika merasa betapa tenaga lawan amat kuatnya. Mula-mula mangkok itu condong ke arah Sun Kiang dan nampak betapa Gu Lo It menggetarkan kedua lengannya dan tenaga mujijat yang amat kuatnya mendorong mangkok atau setidaknya membuat mangkok miring ke arah lawan agar isinya menyiram muka lawan! Perlahan-lahan mangkok itu mulai miring ke arah orang kelima dari Cap-it Ho-han, sehingga para sutenya memandang ke arah Sun Kiang dengan hati cemas. Sun Kiang sendiri maklum akan kekuatan lawan, mukanya sudah mulai berpeluh dan terpaksa dia mengeluarkan tenaga simpanannya, yaitu Thai-kek-sin-kang, ilmu rahasia yang diturunkan oleh Cia Keng Hong kepada sebelas orang murid kepala ini.

“Uhhhhh...!” Suara dari dalam dada Sun Kiang ini membubung melalui tenggorokan, setibanya di mulut hanya terdengar seperti keluhan, mukanya menjadi pucat dan kedua telapak tangannya perlahan-lahan berubah merah.

Gu Lo It terkejut bukan main ketika tiba-tiba kekuatan lawan menjadi hebat sekali. Dia cepat mengerahkan tenaganya, namun tetap saja tidak kuat dia menahan sehingga kini mangkok di udara itu mulai condong dan miring ke arahnya, isinya mulai mengancam untuk menyiram mukanya! Hati para murid Cin-ling-pai menjadi lega akan tetapi diam-diam merekapun maklum bahwa kakek bertopi itu lihai bukan main sehingga suheng mereka terpaksa harus mengerahkan Thai-kek-sin-kang, baru dapat mengimbangi.


Tingkat kepandaian Lima Bayangan Dewa sudah amat tinggi dan terutama sekali Liok-te Sin-mo Gu Lo It memiliki sin-kang yang kuat. Dibandingkan dengan murid-murid kepala Cin-ling-pai, tingkat lima orang datuk kaum sesat itu lebih tinggi, dan pada umumnya, tenaga Sun Kiang juga tidak dapat melawan tenaga Gu Lo It. Akan tetapi, sin-kang dari murid kelima Cin-ling-pai ini adalah Thai-kek-sin-kang yang amat murni, yang diturunkan oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong kepada sebelas orang murid kepala itu sebagai ilmu simpanan, maka dengan mengandalkan sin-kang ini Sun Kiang dapat mengimbangi bahkan mendesak lawan yang lebih kuat!

Akan tetapi, para murid Cin-ling-pai ini adalah orang-orang jujur yang kurang sekali pengalaman mereka di dunia kang-ouw, apalagi menghadapi datuk-datuk kaum sesat yang selain berilmu tinggi juga amat curang dan mempunyai banyak tipu muslihat busuk itu. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang tahu bahwa ketika dengan kaget sekali melihat kanyataan betapa tenaga sin-kang murid Cin-ling-pai itu demikian hebatnya dan mangkok arak itu mengancam akan menyiram mukanya, diam-diam Mok-te Sin-mo Gu Lo It meluruskan kaki kirinya di bawah meja dan ujung sepatunya diarahkan ke perut Sun Kiang yang duduk di depannya di seberang meja. Tiba-tiba diangkatnya kakinya dan dibentakkan tumitnya di atas lantai dl bawah meja dan seketika meluncurlah sinar hitam ke depan dan tentu saja tanpa dapat dicegah dan diketahui oleh siapapun, benda hitam itu menyambar ke perut Sun Kiang!

“Uhhhh... hukkkk...!” Sun Kiang terbelalak, bangkit berdiri dan tubuhnya menggigil. Mangkok arak itu kini terdorong oleh tenaga sakti Gu Lo It dan meluncur ke arah kepalanya, membalik dan arak menyiram muka Sun Kiang yang kini sudah menggunakan kedua tangan mendekap perutnya, kemudian mangkok itu terbang kembali ke tangan Gu Lo It yang tertawa.

“Ha-ha-ha, terima kasih bahwa engkau telah menerima suguhan arakku!”

Akan tetapi enam orang murid Cin-ling-pai yang lain tidak melihat hal itu sebagai kekalahan mengadu sin-kang dari suheng mereka. Mereka terbelalak memandang ke arah perut Sun Kialig yang kini tampak setelah suheng mereka itu berdiri. Darah membasahi baju dan celana sekitar perut dan Sun Kiang melotot memandang ke arah Gu Lo It.

“Kau... kau...!” Tangannya mencengkeram ke atas meja. “Kroookkkk...!” Pinggiran meja itu remuk dan Sun Kiang terhuyung ke belakang, bangkunya terguling kemudian tubuhnya roboh terjengkang dan tewaslah orang kelima dari Cap-it Ho-han itu dengan mata melotot! Paku hitam yang meluncur keluar dari sepatu rahasia Gu Lo It itu mengandung racun yang amat hebat sehingga Sun Kiang tidak dapat bertahan lagi.

“Cuatt-cuatt-cuattt...!” Dari sepatu Gu Lo It yang berada di bawah meja kembali meluncur tiga batang paku beracun. Kini enam orang murid kepala Cin-ling-pai sudah tahu akan kecurangan lawan. Mereka marah sekali dan bergerak meloncat ke belakang, akan tetapi tetap saja dua di antara tiga batang paku itu mengenai sasaran karena dilepas dari bawah dalam jarak yang amat dekat tanpa dilihat atau diketahui oleh mereka yang diserang. Roboh pula dua orang murid Cin-ling-pai yang lihai, berkelojotan dan tewas seketika tanpa dapat melakukan perlawanan apapun!

“Iblis-iblis keji, kalian bermain curang!” Coa Seng Ki membentak marah dan mencabut pedang dari balik bajunya. Tiga orang suhengnya juga sudah mencabut senjata masing-masing, seorang memegang pedang, seorang memegang golok dan orang keempat mengeluarkan senjatanya yang berupa tongkat berlapis baja.

“Ha-ha-ha, kami Lima Bayangan Dewa memang hendak membunuh Cap-it Ho-han dan ketua Cin-ling-pai!” Gu Lo It tertawa bergelak dan bersama tiga orang temannya dia sudah meloncati meja dan menerjang empat orang murid Cin-ling-pai itu. Segera terjadi pertempuran yang amat seru dan hebat di dalam ruangan atas dari restoran itu.

Para pelayan menjadi kaget dan ketakutan. Mereka melempar baki dan kain putih yang tadinya selalu tersampir di pundak, kemudian lari menuruni loteng itu, demikian takut dan tergesa-gesa sampai hampir menggelundung dari loteng ke ruangan bawah. Bubarlah semua tamu yang berada di bawah ketika mendengar ribut-ribut dan suara beradunya senjata di atas ruangan itu. Mereka berlari keluar dan bersembunyi di luar sambil menonton ke ruangan atas yang tampak dari jauh, dengan hati penuh kekhawatiran karena mendengar para pelayan itu bercerita betapa tiga orang anak murid Cin-ling-pai telah roboh dan tewas secara aneh sebelum terjadi pertempuran.

Pertempuran itu berlangsung dengan hebat dan mati-matian. Para murid kepala Cin-ling-pai maklum bahwa empat orang manusia iblis itu menghendaki nyawa mereka, maka mereka membela diri dengan mati-matian dan juga ingin membunuh musuh untuk membalaskan kematian tiga orang saudara mereka yang menjadi korban kecurangan fihak musuh itu.

Orang keenam dari Cap-it Ho-han yang bersenjata tongkat, yang tingkatnya tepat di bawah Sun Kiang menurut urutan tingkat sebelas orang Cap-it Ho-han, sudah menerjang Gu Lo It dan dihadapi oleh Liok-te Sin-mo ini dengan tangan kosong saja! Dua orang lain menghadapi Hok Hosiang yang menggunakan tasbeh batu hijau sebagai senjata dan Toat-beng-kauw Bu Sit yang mainkan sebatang toya panjang dengan gerakan yang cepatnya luar biasa sehingga tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar toyanya! Adapun Coa Seng Ki, orang termuda dari Cap-it Ho-han melawan Ciok Lee Kim, nenek genit yang mainkan dua helai saputangan merah secara hebat sekali sambil terkekeh-kekeh genit.

“Siluman betina, mampuslah!” Coa Seng Ki yang kemarahannya sudah memuncak melihat kematian tiga orang suhengnya secara mengerikan dan menjadi korban serangan gelap yang amat curang, menggerakkan pedangnya dengan dahsyat, menusuk ke arah mata kanan lawannya.

“Singgg... wuuutttt...!” Pedang itu menyeleweng arahnya ketika terbentur dari samping oleh benda lembut, yaitu saputangan di tangan kanan wanita yang tertawa mengejek itu.

“Hi-hik, kau yang termuda dan paling ganteng di antara Cap-it Ho-han. Haiiit, sayang tidak kena!” Dengan gerakan yang cepatnya luar biasa sekali, ketika pedang itu menyambar dengan bacokan dari samping, wanita itu sudah melesat ke belakang. Ciok Lee Kim berjuluk Si Kelabang Terbang, tentu saja julukan ini diperoleh karena memang ilmunya meringankan tubuh amat lihai, gerakannya ringan dan lincah sekali, kalau meloncat seperti terbang saja. Sedangkan julukan Kelabang adalah karena dia seorang ahli racun dan sepasang saputangan merah yang lebar itu, yang dimainkan seperti seorang penari sedang beraksi di panggung menari-nari akan tetapi yang sesungguhnya merupakan senjata yang amat ampuh, mengandung racun yang amat berbahaya.

Ilmu pedang yang dimainkan Coa Seng Ki sebetulnya adalah ilmu pedang yang murni dan kuat bukan main. Akan tetapi karena memang dia kalah tingkat, kalah dalam ilmu gin-kang maupun tenaga sin-kang, maka ilmu pedangnya itu tidak banyak menolong. Lawannya, nenek yang tersenyum-senyum genit itu memang luar biasa sekali. Dua helai saputangan merah di tangannya itu kadang-kadang bisa kaku dan keras seperti baja, kadang-kadang melurus seperti tongkat besi, kadang-kadang juga lemas kembali akan tetapi amat kuat seperti cambuk, dapat dipergunakan ujungnya sebagai alat penotok. Getaran pedang yang hebat dari Coa Sang Ki menjadi musnah kekuatannya kalau bertemu dengan saputangan yang lunak, dan beberapa kali ujung saputangan sudah menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang berbahaya, akan tetapi pada saat terakhir sengaja ditarik kembali oleh nenek itu sambil terkekeh.

“Ah, sayang kalau membunuhmu! Bagaimana kalau kau malam ini menemani dan menghiburku?”

Sikap dan ucapan ini membuat Coa Sang Ki makin marah, dia maklum bahwa lawannya lihai sekali dan bahwa dia sengaja dipermainkan karena kalau wanita itu menghendaki, sudah sejak tadi dia roboh, maka sambil menggereng keras dia mainkan pedangnya makin hebat dan dengan nekat dia melakukan serangan dengan jurus-jurusnya yang paling ampuh. Namun kecepatan wanita itu membuat semua serangannya gagal, bahkan ketika Ciok Lee Kim berkelebatan kadang-kadang lenyap kadang-kadang tampak, dia mulai menjadi pening dan seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat.

Apalagi ketika berturut-turut terdengar teriakan dan keluhan disusul robohnya tiga orang suhengnya, Coa Seng Ki menjadi makin marah dan duka. Sekali pandang saja maklumlah dia bahwa tiga orang suhengnya itu, seperti tiga orang suheng pertama, telah roboh untuk tidak bangun kembali. Enam orang suhengnya telah tewas semua! Malapetaka yang terjadi secara serentak dan tiba-tiba ini sama sekali tidak pernah terduga-duga, dalam mimpipun tidak! Betapa enam orang dari Cap-it Ho-han roboh dan tewas begitu saja, begitu mudahnya! Coa Seng Ki menjadi mata gelap dan sambil menggigit bibir dan air matanya berlinangan, dia menubruk dan melakukan serangan bertubi-tubi kepada Hai-giakang Ciok Lee Kim, akan tetapi wanita tua ini seperti menari-nari, selalu mengelak dan kadang-kadang menangkis dengan saputangan merahnya.

“Omitohud...! Si Genit mengapa main-main dengan dia? Lekas bunuh dia!” Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang yang biasa menyebut Si Kelabang Terbang itu Si Genit, berseru melihat nenek itu mempermainkan Coa Seng Ki dan tidak cepat-cepat membunuhnya.

“Hi-hik, Hok Hosiang, aku sayang kalau membunuhnya. Habis siapa yang akan menemaniku malam nanti? Kepala gundulmu sudah membosankan aku, hi-hik!” Nenek itu menjawab sambil mengelak dari sebuah tusukan, kemudian menggunakan jari-jari tangannya mengusap pipi Coa Seng Ki dengan mesra. Coa Seng Ki makin marah dan dengan nekat menyerang terus.

“Memang dia tidak perlu dibunuh!” Tiba-tiba Gu Lo It berkata. “Kalau dia mampus, siapa yang akan melaporkan kepada ketua Cin-ling-pai? Kita lukai saja dia, biar mati perlahan-lahan. Akan tetapi hayo sudahi main-mainmu, Hui-giakang, kita tidak mempunyai banyak waktu, malam sudah tiba!”

“Aih, sayang...!” Ciok Lee Kim berkata akan tetapi agaknya dia tidak berani membantah perintah Si Iblis Bumi. Tiba-tiba dua helai saputangan merahnya berkelebat menjadi gulungan sinar merah berputaran menyambar-nyambar dan pedang di tangan Coa Seng Ki sudah dapat dilibat dan sekali ujung saputangan menotok pergelangan tangan, pedang itupun terlepas dari tangan pemiliknya dan terampas. Ciok Lee Kim tertawa, mengebutkan saputangannya yang merampas pedang dan pedang itu meluncur ke depan ke arah Hok Hosiang, dibarengi bentakannya, “Hok Hosiang, kauterimalah pedangnya!”

“Omitohud, kau main-main saja!” dengan ujung lengan baju yang besar, Hok Hosiang mengebut pedang itu menyeleweng ke bawah dan “crappp!” pedang itu menancap di dada mayat Sun Kiang.

Melihat betapa pedangnya sendiri menancap dada subengnya, Coa Seng Ki menjadi hampir gila saking marahnya dan sambil bertertak keras dia menubruk ke arah pendeta gendut itu. Akan tetapi Hok Hosiang sudah menyambutnya dengan dorongan tangan terbuka dan kekuatan dahsyat.

“Plakkk!!” Pundak Coa Seng Ki terkena dorongan dan tubuhnya terlempar ke arah Gu Lo It.

“Dukk!” Gu Lo It menyambutnya dengan tamparan yang mengenai dadanya.

“Huakkkkk!!” Darah merah tersembur keluar dari mulut Coa Seng Ki ketika tubuhnya terlempar ke arah Toat-beng-kaw Bu Sit.

Desss!! Krek-krekk!” Toya di tangan Bu Sit menghantam perut dan kedua lututnya, mematahkan kedua tulang kaki orang termuda dari Cap-it Ho-han itu yang terlempar ke arah Ciok Lee Kim.

“He-heh, tampan, kau sudah tidak berharga lagi untuk mendekatiku!” Nenek genit itu terkekeh, tangan kirinya mencakar den lima kuku jarinya mencakar muka Coa Seng Ki sehingga robek-robek kulit mukanya dan berdarah. Dia terbanting roboh dan tak sadarkan diri lagi, dengan mulut memuntahkan darah, muka tergores den berdarah, pukulan pada pundak, dada dan perutnya membuat dia terluka dalam secara hebat dan kedua tulang kakinya patah-patah!

Empat orang itu tertawa bergelak lalu turun melalui anak tangga dengan lagak sombong karena kemenangan mereka. Melihat para pelayan menggigil den berkumpul di sudut ruangan bawah, Liok-te Sin-mo Gu Lo It menoleh ke arah mereka sambil berkata, “Semua harga makanan dan kerusakan perabot di atas akan dibayar oleh Cin-ling-pai!”

Sambil tertawa-tawa puas, empat orang itu lalu keluar dari restoran dan sebentar saja mereka menghilang di dalam kegelapan malam. Lama setelah empat orang itu pergi, barulah para pelayan dan orang-orang yang menonton pertandingan hebat dari luar restoran itu berani berindap-indap naik dan mereka terkejut dan ngeri sekali ketika menyaksikan keadaan ketujuh orang tokoh Cin-ling-pai itu. Keadaan menjadi geger, para petugas keamanan baru berani muncul untuk mengadakan pemeriksaan dan beberapa orang diperintahkan untuk memberi kabar ke Cin-ling-pai di dekat puncak gunung.

Akan tetapi pada seat itu juga, tampak lima orang anggauta Cin-ling-pai datang berlari-lari memasuki restoran Koai-lo dengan maksud untuk mencari ketujuh orang Cap-it Ho-han. Wajah mereka semua pucat dan tegang, dan mereka ingin melaporkan sesuatu kepada para pimpinan mereka. Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka dan serta merta menubruk para suheng mereka yang sudah rebah malang melintang di ruangan atas restoran itu sambil menangis. Dunia seakan-akan kiamat bagi mereka. Baru saja mereka mengalami kekagetan dan kecemasan hebat di Cin-ling-pai dan kini mereka dibadapkan dengan malapetaka yang lebih hebat pula, yaitu kematian enam orang Pimpinan Cin-ling-pai dan yang seorang terluka hebat.

Apakah yang terjadi di pusat Cin-ling-pai sehingga lima orang anggautanya itu bergegas pergi ke Han-tiong menyusul ketujuh orang murid kepala yang sedang memenuhi tantangan fihak lawan yang menamakan dirinya Lima Bayangan Dewa itu?

Ternyata malam itu terjadi hal yang hebat pula di Cin-ling-pai. Karena semua anggauta Cin-ling-pai telah diberi tahu akan tantangan Lima Bayangan Dewa, dan karena tujuh orang murid kepala itu mewakili Cin-ling-pai untuk menghadapi para penantang, maka para anggauta Cin-ling-pai menjadi prihatin dan mereka melakukan penjagaan yang ketat. Mereka semua merasa tegang karena mengerti bahwa para pimpinan mereka pergi ke Han-tiong menghadapi lawan yang tangguh yang dapat dilihat dari cara mereka memasang surat tanda tantangan di puncak menara, di ujung tiang bendera.

Keadaan menjadi amat sunyi di markas Cin-ling-pai yang dikurung pagar tembok itu. Penjagaan ketat dilakukan oleh para anggautanya, di pintu-pintu gerbang dan terutama sekali di sekitar menara karena tempat itu merupakan tempat penyimpanan pusaka Cin-ling-pai, juga menjadi tempat kediaman ketua mereka yang pada saat itu sedang bepergian. Perondaan juga dilakukan tiada hentinya secara bergilir mengelilingi pagar tembok. Sejak senja tadi, wanita dan kanak-kanak sudah dilarang untuk berada di luar rumah. Semua telah berlindung di dalam rumah dan para ibu juga siap sedia dengan senjata di dekatnya kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak tersangka-sangka terhadap keluarganya. Pendeknya, semua anggauta Cin-ling-pai dan keluarga mereka siap sedia dengan hati penuh ketegangan. Mereka hanya mengharapkan agar para pimpinan mereka segera kembali membawa berita bahwa semuanya telah beres dan tidak ada apa-apa lagi yang perlu dikhawatirkan. Biarpun mereka itu percaya akan kelihaian para murid kepala, yaitu Cap-it Ho-han yang pada waktu itu hanya ada tujuh orang, namun tetap saja mereka agak gelisah karena ketua mereka tidak berada di situ. Mereka merasa seolah-olah seperti sekelompok anak ayam ditinggalkan induknya.

Lewat senja, ketika keadaan belum gelap benar, akan tetapi sejak tadi lampu-lampu telah dipasang, tiba-tiba sekali terdengar bentakan-bentakan dan keributan di pintu gerbang sebelah berat, yaitu di belakang markas itu. Terdengar senjata-senjata dan teriakan-teriakan para penjaga. Tentu saja para penjaga segera lari ke tempat itu dan ternyata di tempat itu terjadi pertempuran yang amat aneh. Belasan orang anggauta Cin-ling-pai mengeroyok seorang laki-laki yang tidak bersenjata, akan tetapi anehnya, semua serangan senjata di tangan para anggauta Cin-ling-pai itu tidak ada yang pernah dapat menyentuh tubuh orang itu, walaupun orang itu kelihatannya tenang saja, seolah-olah senjata yang menghampiri tubuhnya itu tiba-tiba menyeleweng sendiri seperti tertolak oleh hawa yang melindungi seluruh tubuh orang itu!

Melihat banyak orang lagi datang untuk mengeroyoknya, orang laki-laki itu tertawa bergelak, tubuhnya berkelebat dan lenyaplah dia dari tengah-tengah para pengeroyoknya! Kemudian, selagi semua orang bingung mencari-cari, tiba-tiba di pintu gerbang sebelah timur, di depan markas itu, terjadi keributan dan kiranya laki-laki itu telah berada di situ menghadapi pengeroyokan para penjaga yang bertugas menjaga di tempat itu!

Kembali semua anak murid Cin-ling-pai berlari-lari ke tempat itu. Laki-laki itu kelihatan muda dan berwajah tampan, rambutnya dikucir panjang, pakaiannya sederhana serba putih, hanya sepatunya saja yang hitam. Sukar mengira-ngira usianya, kelihatannya baru berusia tiga puluh tahun saja. Gerak-geriknya halus, namun setiap gerakan kaki tangannya membawa angin pukulan yang amat dahsyat sehingga lima enam orang murid Cin-ling-pai terlempar sekaligus oleh sambaran angin dari kebutan lengan bajunya! Dan semua senjata menyeleweng dan terpental begitu kena disambar angin tangkisannya.

Hanya sebentar saja orang itu mengacau di pintu gerbang timur dan biarpun belasan orang roboh terpelanting ke kanan kiri oleh sambaran angin pukulan tangannya, namun tidak ada seorangpun yang terluka hebat atau tewas. Agaknya orang ini hanya mempermainkan mereka saja dan kembali dia tertawa, berkelebat lenyap, untuk muncul lagi di pintu gerbang sebelah selatan! Dengan perbuatannya yang aneh ini, semua anggauta Cin-ling-pai menjadi kacau-balau dan geger. Jelas bahwa yang datang mengacau hanya satu orang saja, namun orang itu memiliki kepandaian sedemikian tingginya sehingga mampu menggegerkan seluruh anggauta Cin-ling-pai yang dibikin kocar-kacir dan kacau-balau lari ke sana ke mari mencari-cari lawan yang sebentar-sebentar menghilang itu.

Ketika untuk kelima kalinya orang itu meloncat dan menghilang, para anak buah Cin-ling-pai sudah menjadi panik dan bingung sekali. Mereka mencari-cari, akan tetapi sekali ini orang itu menghilang sampai lama. Dicari ke manapun tidak dapat ditemukan dan para anak murid Cin-ling-pai sudah mengira bahwa pengacau itu akhirnya melarikan diri karena gentar menghadapi pengeroyokan sedemikian banyak orang. Sementara itu, lima orang murid tingkat dua yang langsung menjadi murid-murid kepala di bawah asuhan Cap-it Ho-han, diam-diam melakukan perondaan di atas genteng perumahan Cin-ling-pai di sekitar menara. Mereka ini adalah orang-orang yang tingkat kepandaiannya paling tinggi di saat itu, dan mereka berlima telah mewarisi Ilmu Silat Tangan Kosong San-in-kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung) yang dahsyat, maka merekapun tidak membawa senjata, karena keistimewaan mereka adalah gerakan kaki tangan mereka yang sudah tergembleng kuat dan terlatih baik.

Mereka berlima berjaga di sekitar menara dan merasa aman karena menara itu telah dijaga ketat di sebelah dalamnya. Untuk naik ke puncak menara di mana tersimpan benda-benda pusaka milik ketua, orang harus melalui pasukan penjaga yang berlapis lima dan setiap penjagaan terdapat lima orang penjaga yang sudah terlatih.

Setengah jam lewat dan biarpun semua anggauta masih mencari-cari, namun hati mereka telah menjadi lega karena jelas bahwa pengacau itu telah lenyap, agaknya telah melarikan diri keluar dari markas Cin-ling-pai. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras disusul suara ketawa menyeramkan tadi, suara si pengacau yang tadi selalu tertawa kalau hendak menghilang.

Kiranya pengacau itu muncul lagi secara tiba-tiba, meloncat turun dari puncak menara dan lengan kanannya mengempit sebatang pedang dalam sarungnya. Dapat dibayangkan betapa kagetnya lima orang murid kepala Cap-it Ho-han itu ketika mengenal pedang Siang-bhok-kiam yang dikempit oleh lengan orang itu! Pedang pusaka lambang kebesaran Cin-ling-pai telah dicuri orang!

“Pencuri hina...!”

“Kembalikan Siang-bhok-pokiam!”

Lima orang itu cepat berloncatan di atas genteng dan mengejar. Namun gerakan pencuri pedang itu hebat bukan main. Sukar sekali mendekatinya karena dia berloncatan dari genteng ke genteng lain seperti seekor burung terbang saja. Ketika seorang di antara lima jagoan Cin-ling-pai itu berhasil mendekati, dia langsung mengirim pukulannya yang ampuh, menggunakan jurus yang paling lihai dari San-in-kun-hoat, yaitu In-keng-hong-wi (Awan Menggetarkan Angin dan Hujan), tangan kanannya menonjok lurus ke depan disertai tenaga sin-kang yang ampuh.

“Dukkk!” Pukulan itu dengan tepat mengenai bahu kanan orang itu, akan tetapi yang dipukul tertawa saja dan si pemukul merasakan betapa kepalan tangannya seperti memukul karet yang amat lunak namun kuat sekali sehingga tenaga pukulannya seperti tenggelam dan lenyap kekuatannya. Selagi dia berteriak kaget, pencuri itu telah tertawa panjang dan tubuhnya mencelat jauh ke depan.

“Tangkap pencuri...!”

“Dia mencuri Siang-bhok-pokiam!”

Lima orang itu berteriak-teriak karena tidak dapat menyusul dan melihat pencuri itu telah tiba di rumah terakhir. Para anak murid yang mengejar dari bawah melihat pengacau itu mengempit pedang. Mendengar betapa pusaka keramat Cin-ling-pai dicuri, mereka menjadi marah sekali. Bagaikan hujan saja senjata-senjata rahasia menyambar ke arah tubuh pencuri itu ketika dia meloncat turun dari atas genteng. Semua orang terbelalak memandang betapa sekian banyaknya senjata rahasia dengan cepat mengenai tubuh orang itu, akan tetapi kesemuanya itu runtuh tak berbekas dan si pencuri masih tertawa-tawa.

“Ha-ha-ha, katakan kepada Cia Keng Hong bahwa Lima Bayangan Dewa mengirim salam dan menitipkan nyawanya sampai tahun depan!” Setelah berkata demikian, orang itu berkelebat dan lenyap dari tempat itu.

“Pengecut, tinggalkan namamu!” teriak seorang murid Cin-ling-pai dengan suara nyaring. Akan tetapi tiba-tiba orang yang berteriak ini roboh terjengkang, dan ketika teman-temannya memandang, ternyata dia telah tewas! Dan dari jauh terdengar suara tertawa.

“Ha-ha-ha, tidak ada orang boleh hidup setelah memaki pengecut kepada Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok!”

Tentu saja orang-orang Cin-ling-pai menjadi geger. Lima orang murid lihai yang digembleng oleh Cap-it Ho-han itu lalu bergegas meninggalkan Cin-ling-pai menuju ke Han-tiong untuk menyusul para suheng mereka dan melaporkan akan malapetaka yang menimpa markas Cin-ling-pai sehingga pedang pusaka Siang-bhok-kiam lenyap dicuri orang, bahkan seorang anak murid tewas oleh si pencuri yang lihai dan yang mengaku bernama Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok itu. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan sedih hati lima orang murid ini ketika mereka melihat tujuh orang suheng mereka itu tertimpa malapetaka yang lebih hebat dan mengerikan lagi di dalam rumah makan Koai-lo karena enam orang di antara mereka telah tewas dan Coa Seng Ki, orang termuda dari Cap-it Ho-han menderita luka-luka hebat sehingga nyawanya juga seolah-olah bergantung kepada sehelai rambut! Dengan penuh kedukaan mereka lalu mengangkut enam mayat dan Coa Seng Ki yang terluka parah itu ke Cin-ling-pai di mana mereka disambut oleh jerit-jerit tangisan yang memilukan dari semua anak murid Cin-ling-pai dan terutama sekali dari keluarga mereka yang tewas.

Bermacam-macam sikap anggauta keluarga yang ditinggal mati oleh seseorang dalam keluarga itu. Namun pada umumnya, mereka itu berduka atau memperlihatkan wajah duka. Bermacam-macam pula rasa duka yang mendatangkan goresan muka yang sama itu. Ada yang berduka karena merasa iba kepada yang mati, akan tetapi sebagian besar adalah berduka karena merasa iba kepada dirinya sendiri yang tinggalkan oleh yang mati. Merasa betapa hidupnya kehilangan sesuatu, yang dicintainya, yang disandarinya, atau yang diharap-harapkannya. Merasa kehilangen ini yang mendatangkan duka. Ada pula yang tidak merasa apa-apa namun “demi kesopanan” terpaksa menarik muka agar kelihatan berduka. Ada pula yang terbawa oleh suasana duka, karena tangis, seperti juga tawa, mudah sekali menular kepada orang lain. Sukar sekali menahan diri, terutama sekali kaum wanita, untuk tidak mencucurkan air mata melihat banyak orang menangis tersedu-sedu, apalagi kalau disertai keluh-kesah dan ratapan, lebih sukar daripada menahan tawa kalau melihat banyak orang tertawa gembira. Yang hebat, lucu den aneh, banyak pula keluarga yang kematian hendak menyatakan bahwa mereka benar-benar berkabung dengan “menyewa” tukang menangis! “Tukang-tukang menangis” ini dibayar dan tugasnya hanya untuk menangis sehebat mungkin, meratap dengan suara yang paling menyedihkan, untuk “memancing” air mata para keluarga yang sudah hampir mengering.

Memang suasana pada keluarga yang kematian amat menyedihkan. Apalagi pada pagi hari itu di ruangan depan dari rumah besar di Cin-ling-pai. Memang menyedihkan sekali melihat tujuh buah peti mati berjajar-jajar di ruangan itu, dikelilingi dan dikerumuni oleh para sanak keluarga dan para anggauta Cin-ling-pai yang tiada hentinya menangis dan bergilir melakukan sembahyang di depan peti-peti mati itu. Tujuh buah peti mati itu terisi mayat-mayat enam orang anggauta Cap-it Ho-han dan seorang anak murid Cin-ling-pai yang tewas karena berani memaki pengecut kepada Pat-pi Lo-sian.

Suasana di ruangan itu menjadi makin menyedihkan melihat para anggauta keluarga para korban yang memakai pakaian serba putih, topi putih dan muka pucat, mata sayu kemerahan dan pipi kotor bekas air mata dan debu. Ruangan yang luas itu menjadi serem karena asap hio yang bergulung-gulung dan bau dupa wangi yang dibakar semenjak malam tadi.

Akan tetapi Cin-ling-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah. Biarpun sejak kemarin sampai malam tadi para keluarga korban tiada hentinya menangisi ayah, saudara dan suami mereka, namun pagi ini mereka telah dapat menekan perasaan mereka sebagai orang-orang atau keluarga-keluarga orang gagah sehingga tidak lagi terdengar suara tangis. Mereka masih bersembahyang dan berkabung, namun wajah mereka semua membayangkan duka dan dendam bercampur menjadi satu, dengan tarikan muka keras membayangkan kemarahan hati terhadap fihak musuh yang telah menyebar kematian di antara tokoh-tokoh Cin-ling-pai.
Mereka tidak lagi mencucurkan air mata dan meratap, terutama sekali ini mereka paksakan kepada perasaan mereka sendiri untuk memperlihatkan sikap gagah kepada para penghuni dusun yang datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada para korban. Bukan hanya para penghuni dusun-dusun pegunungan di sekitar tempat itu, juga dari kota Han-tiong datang tamu berduyun-duyun untuk bersembahyang dan tidak lupa memberi sumbangan kepada keluarga yang ditimpa duka nestapa itu.

Sejak pagi sampai tengah hari, tiada hentinya para tamu datang, bersembahyang, memberi sumbangan dan mengucapkan kata-kata yang nadanya menghibur, memuji kegagahan Cap-it Ho-han dan mengutuk penjahat-penjahat yang melakukan pembunuhan keji, kemudian pergi lagi dengan perasaan lega seperti orang-orang yang telah melakukan sesuatu yang amat baik dan berharga. Bahkan komandan penjaga keamanan dari kota Han-tiong juga datang menyatakan duka cita dan dia mengatakan kepada para anggauta Cin-ling-pai bahwa dia akan mengerahkan pasukannya untuk mencari dan menangkap penjahat-penjahat yang menamakan dirinya Lima Bayangan Dewa itu. Akan tetapi, para murid Cin-ling-pai maklum bahwa ucapan komandan itu tidak dapat diandalkan dan harapan satu-satunya bagi mereka untuk dapat membalas dendam kematian ini hanyalah guru mereka, karena para penjahat itu adalah orang-orang lihai sedangkan para petugas keamanan itu biasanya, sebagian besar hanya galak-galak kalau menghadapi rakyat lemah yang tak mampu melawan dan yang dapat diharapkan menjadi sapi-sapi perahan.

Setelah lewat tengah hari, makin berkuranglah tamu yang datang bersembahyang dan menjelang senja tidak ada lagi tamu yang datang. Dengan bergiliran, murid-murid Cin-ling-pai melakukan penjagaan karena yang lain harus beristirahat, akan tetapi tentu saja para keluarga korban tetap di dekat peti mati dalam keadaan berkabung.

Setelah semua orang mengira bahwa tidak akan ada lagi tamu yang datang, tiba-tiba muncullah dua orang dari pintu depan. Mereka ini adalah orang-orang tua, yang seorang adalah wanita tua, nenek-nenek yang usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih dengan pakaian serba hitam dan kain kepala berwarna hitam pula, berjalan sambil menundukkan muka, sedangkan yang kedua adalah seorang kakek tinggi kurus berpakaian seperti seorang tosu (pendeta To) yang melangkah masuk dan mengangkat kedua tangan di depan dada membalas penghormatan para penjaga pintu yang mempersilakan kedua orang ini terus memasuki ruangan di mana terdapat tujuh peti mati yang berjajar-jajar.

Nenek itu menerima beberapa batang hio yang sudah dinyalakan oleh seorang murid Cin-ling-pai yang bertugas melayani mereka yang hendak bersembahyang, sedangkan kakek tosu itu dengan suaranya yang halus bertanya tentang mereka yang mati sehingga seorang murid Cin-ling-pai lain menceritakan bahwa yang tewas adalah enam orang di antara Cap-it Ho-han dan seorang anak murid Cin-ling-pai lainnya. Tosu itu mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya, kelihatan tidak senang.

Sementara itu, nenek tua yang berpakaian serba hitam sudah bersembahyang di depan peti mati itu, kemudian berhenti di depan peti mati pertama yang terisi mayat Sun Kiang. Di sini dia berdiri dan berkata lirih, “Sayang, sayang...sungguh penasaran sekali mengapa kalian mati di tangan orang lain...!” Semua anak murid Cin-ling-pai terkejut dan heran sekali mendengar ucapan aneh itu, dan mereka makin heran ketika melihat betapa nenek itu kini menancap-nancapkan hio atau dupa biting itu ke atas peti mati yang terbuat dari kayu tebal dan keras. Sukar dipercaya betapa dupa biting yang rapuh itu dapat ditancapkan ke atas peti mati, seolah-olah papan peti mati yang keras itu hanya terbuat dari agar-agar saja! Dan perbuatan ini selain mendatangkan kekagetan dan keheranan, juga membuat para anak murid Cin-ling-pai menjadi marah sekali.

Nenek itu mundur tiga langkah setelah menjura ke arah peti-peti mati, kemudian tosu itu melangkah mendekati peti-peti itu, tangan kanannya menepuk-nepuk setiap peti dan mulutnya berkata lirih namun cukup keras untuk terdengar oleh mereka yang berada di ruangan itu. “Memang sayang sekali, akan tetapi kalian mati di tangan Lima Bayangan Dewa sudah cukup terhormat, karena yang pantas mati di tangan pinto (aku) hanyalah ketua Cin-ling-pai...”

Semua orang makin kaget, apalagi melihat betapa di setiap peti kini terdapat bekas telapak tangan kakek itu yang tadi menepuk-nepuk peti mati, tampak tanda telapak tangan menghitam di atas peti, melesak sedalam satu senti seperti diukir saja!

Para anak murid Cin-ling-pai adalah orang-orang yang sudah lama mengenal ilmu silat maka mereka tentu saja mengerti bahwa tosu dan nenek yang agaknya seorang pertapa pula itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Akan tetapi karena jelas bahwa mereka itu menghina Cin-ling-pai dan bersikap memusuhi guru mereka, para murid itu sudah menjadi marah sekali dan siap untuk turun tangan mengeroyok! Akan tetapti dengan terjadinya peristiwa hebat itu membuat mereka seperti pasukan kehilangan komandan, merasa tidak berdaya dan bingung, sehingga kinipun mereka ragu-ragu dan menanti sampai seorang di antara mereka ada yang memulai. Tiba-tiba terdengar suara nyanyian dari luar, suaranya dekat sekali akan tetapi orangnya tidak nampak!

“Sikap, nama, harta dan kedudukan
bukanlah ukuran jiwa
seorang manusia,
semua itu hanya kulit belaka
yang tidak dapat menentukan
nilai isi.
Betapa banyaknya berkeliaran
di dunia
hartawan yang jiwanya miskin
pembesar yang jiwanya kecil
dan pendeta yang menumpuk dosa!”

lanjut ke Jilid 04-->

<--kembali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar