Jumat, 21 Februari 2014

Pendekar Sadis Jilid 030

Pendekar Sadis Jilid 030

<---KEMBALI

Akan tetapi, biarpun bulu tengkuknya terasa dingin, kepalanya terasa berat dan seperti membengkak besar, Thian Sin kembali mengusap tengkuknya dan dia malah maju menghampiri! Agaknya "hantu" itu menjadi penasaran melihat pemuda ini tidak ketakutan seperti orang-orang lain yang pernah melihat dan mendengarnya, maka suara melengking itu menjadi semakin nyaring menyeramkan, dan tengkorak yang bergantungan pada pohon itu juga bergoyang-goyang lebih keras lagi, seolah-olah hendak terbang dan menubruknya.

Thian Sin tidak berhenti dan terus menghampiri, dan pada saat itu, terdengar teriakan parau menyeramkan dari atas pohon dan dari atas itu melayanglah sesosok tubuh tinggi besar hitam seolah-olah bayangan itu hendak menyerbu Thian Sin. Pemuda ini menghentikan langkahnya dan siap sedia menyambut terkaman bayangan tubuh tinggi besar yang tidak kelihatan jelas dalam keremangan cuaca itu, akan tetapi... tubuh itu berhenti di tengah udara dan tergantung-gantung. Kiranya bayangan tubuh manusia yang bergantung diri atau digantung orang!

Thian Sin meloncat dan tangannya menyambar, maksudnya untuk menolong orang yang tergantung itu dan sekali tangannya bergerak, tali yang menggantung orang itu putus dan diapun sudah memondong tubuh itu ke bawah. Akan tetapi ternyata tubuh itu hanyalah sepotong kayu besar yang diberi pakaian! Mengertilah dia bahwa ada yang mempermainkannya dan kalau ada yang main hantu-hantuan maka tentu yang main-main itu adalah manusia!

Karena suara itu datang dari atas pohon, maka Thian Sin lalu meloncat lagi, kini menerjang ke tengah daun-daun pohon yang rindang itu. Ada pedang menyambutnya, akan tetapi dengan gerakan tangannya, Thian Sin dapat membuat pedang itu terpukul ke samping dan orang yang memegang pedang itu tidak kuat menyambut terjangan Thian Sin. Sambil mengeluarkan teriakan orang itu terjatuh dari atas pohon!

Suara berdebuk keras membuktikan bahwa orang itu tidak mempunyai ilmu gin-kang yang baik dan tubuhnya telah terbanting keras ke atas tanah. Thian Sin mengikutinya dan melompat turun, lalu menghampiri tubuh yang menggereng kesakitan itu. Kirinya dia seorang laki-laki setengah tua yang mengerang kesakitan dan napasnya empas-empis karena tadi dia telah terkena pukulan tangan sakti Thian Sin yang mengenai dadanya ditambah lagi dia terbanting roboh ke atas tanah yang mematahkan beberapa tulang iganya.

"Hemm, mengapa kau menakut-nakuti orang?" Thian Sin membentak.

Orang itu sukar sekali menjawab karena dia menderita sakit bukan main dan napasnya tinggal satu-satu,

"...agar... tempat ini menjadi tempatku... tanpa diganggu orang... dan... dan... orang-orang yang ketakutan...meninggalkan barang-barangnya..." Orang itu tidak dapat bicara terus karena kepalanya terkulai dan tewas.

Pukulan Thian Sin tadi memang hebat sekali, dilakukan karena menduga bahwa ada lawan tangguh bersembunyi di dalam pohon. Thian Sin menarik napas panjang dan sejenak dia berdiri termenung. Orang ini mati karena kesalahan sendiri, dan pula, memang orang itu bukan orang baik-baik, agaknya menakut-nakuti orang selain untuk membuat orang takut datang ke tempat itu, juga agaknya untuk memperoleh barang-barang orang yang lari ketakutan.

Betapapun juga, orang ini telah berjasa baginya, telah memberikan sebuah tempat persembunyian yang baik sekali. Maka malam itu juga Thian Sin menggali lubang dan mengubur jenazahnya. Rasa takut memang selalu mempengaruhi kehidupan manusia.

Hampir seluruh manusia di dunia ini hidup dalam cengkeraman rasa takut yang dapat juga dinamakan kekhawatiran, kegelisahan, dan sebagainya. Pendeknya, rasa takut akan sesuatu. Tentu saja perasaan ini mempengaruhi kehidupannya, karena setiap tindakan yang didasari oleh rasa takut tentu merupakan suatu tindakan yang tidak wajar dan palsu. Dapatkah kita hidup bebas dari rasa takut? Apakah sesungguhnya perasaan takut akan sesuatu ini? Kalau kita mau mengamatinya dengan waspada, maka kita akan dapat melihatnya bahwa rasa takut timbul dari permainan pikiran kita sendiri yang membayangkan sesuatu yang tidak ada, sesuatu yang belum tiba, sesuatu yang dibayangkan akan ada dan akan menyusahkan diri kita. Kalau tidak ada pikiran yang membayang-bayangkan keadaan yang belum ada ini, maka rasa takutpun tidak akan ada.

Orang yang takut akan penyakit menular yang sedang mengamuk tentu belum terkena penyakit itu, orang yang takut akan kehilangan pekerjaan tentu belum kehilangan pekerjaan, orang yang takut akan kematian tentu belum mati. Demikian pula, orang yang takut akan setan tentu belum bertemu dengan yang ditakutinya itu. Maka dari itu, apabila menghadapi setiap persoalan, setiap peristiwa, kita membuka mata dengan waspada tanpa membayangkan hal-hal yang belum terjadi, tindakan kita tentu akan lebih tepat.

Seperti halnya Thian Sin, ketika menghadapi segala penglihatan dan pendengaran itu, dia tidak membayangkan hal-hal yang mengerikan, melainkan dengan waspada dia mengamati, maka dia terbebas dari rasa takut dan dapat menanggulangi keadaan yang bagaimanapun juga.

Ada yang mengatakan bahwa kita takut setan karena kita tidak mengertinya, karena kita tidak mengenalnya. Benarkah itu? Kalau kita mau menyelidiki, maka rasa takut akan setan itu sama sekali bukan timbul karena kita tidak mengenalnya. Orang yang tidak pernah mengenal setan, yang tidak pernah mendengar cerita tentang setan, anak-anak yang belum pernah mendengar sama sekali tentang setan, tidak mungkin akan takut!

Sebaliknya, yang kita takuti adalah karena kita sudah tahu tentang setan, sudah mendengar tentang setan, bahwa setan itu menakutkan, mengerikan, menyeramkan dan sebagainya. Maka, takutlah kita, karena pikiran kita membayangkan hal-hal yang menakutkan itu! Sederhana sekali, bukan? Maka sekali lagi, dapatkah kita hidup bebas dari rasa takut?

Senja itu Thian Sin kembali ke tempat persembunyiannya yang sunyi itu. Seperti biasa kalau dia hendak beristirahat di tempat ini, dia tidak langsung memasuki kuil. Dia tahu bahwa pada waktu itu, dia telah menanam banyak sekali bibit permusuhan dan pasti banyak orang pandai yang akan mencarinya dan mencelakainya. Oleh karena itu, dia selalu hati-hati dan ketika dia tiba di tempat sunyi itu, diapun tidak langsung memasuki kuil tua. Dia mengambil jalan memutar, lebih dulu mengelilingi kuil itu untuk melihat kalau-kalau ada orang bersembunyi. Ketika dia mulai memutari kuil, tiba-tiba dia mendengar suara isak tangis perlahan yang datangnya dari arah belakang kuil di mana terdapat pohon besar yang menakutkan itu. Hemm, apakah ada orang gila lain lagi yang hendak menakut-nakutinya, pikirnya. Ataukah ada orang pandai yang datang untuk membalas segala perbuatannya terhadap orang-orang jahat selama beberapa pekan di kota raja ini?

Dengan hati-hati Thian Sin lalu pergi ke belakang kuil, dan diapun terheran-heran melihat ada sesosok tubuh wanita berlutut di bawah pohon besar itu, tak jauh dari tengkorak yang masih tergantung, dan menangis terisak-isak! Hemm, apakah ini? Perangkap? Thian Sin bersikap hati-hati sekali dan dengan kepandaiannya, dia berloncatan jauh dan mengelilingi pohon itu dari jauh untuk melihat kalau-kalau kehadiran wanita itu merupakan perangkap untuknya. Akan tetapi sunyi saja. Tidak ada orang lain kecuali wanita itu sendiri yang masih menangis. Maka diapun tidak curiga lagi dan cepat menghampiri, lalu setelah berdiri dekat diapun menegur halus.

"Siapakah engkau? Mengapa kau menangis di sini?"

Wanita itu nampak terkejut dan mengangkat muka memandang. Thian Sin melihat sebuah wajah yang cukup manis, dengan usia kurang dari tiga puluh tahun dan wanita itu segera bangkit berdiri dan menghadapi Thian Sin dengan sikap marah.

"Kenapa engkau menggangguku? Pergilah! Urusanku tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Pergi!"

Akan tetapi tentu saja Thian Sin tidak mau pergi, bahkan dia mengerutkan alisnya dan berkata, "Hemm, engkaulah yang menggangguku, engkaulah yang harus pergi dari sini. Tempat ini adalah tempatku. Kau siapa dan apa maksudmu..."


"Persetan denganmu!" bentak wanita itu, yang segera menerjang dan memukulnya!

Thian Sin melihat gerakan orang yang paham ilmu silat, bahkan pukulannya cukup cepat dan keras. Dia menangkap lengan yang memukulnya itu dan sekali memutarnya, tubuh wanita itu terpelanting jatuh. Akan tetapi, dengan nekat wanita itu bangkit lagi dan menyerang lagi, kini menendang dengan tendangan cepat dan kuat ke arah pusar. Thian juga menangkap kaki itu dan mendorongnya sehingga wanita itu jatuh terbanting lebih keras lagi! Wanita itu menangis lagi.

"Hu-huuuh... kau... kamu manusia kejam... !" Dan iapun menghampiri pohon di mana sudah terpasang selendangnya, sehelai selendang yang diikatkan ujungnya di cabang, dekat tempat tengkorak bergantung, kemudian wanita itu meloncat, memegang selendang yang tergantung itu dan memasang ujungnya pada lehernya, kemudian melepaskan kedua tangannya sehingga lehernya tergantung!

Thian Sin terkejut sekali, akan tetapi dia berdiri dan tetap tersenyum. Ah, wanita itu tentu hanya hendak menggertak saja, pikirnya. Wanita seperti itu tentu bisa saja mempergunakan akal, pura-pura gantung diri untuk menarik perhatiannya, atau mungkin juga ada udang di balik batu. Siapa tahu wanita itu hendak menjebaknya. Maka diapun diam saja, bahkan bersedakap dan berdiri memandang sejenak, kemudian membalikkan tubuhnya dan memasuki kuil!

Wanita itu sejak menggantung diri tadi memandang kepada Thian Sin dengan sinar mata tajam dan kini tubuhnya berkelojotan, lidahnya terjulur keluar, matanya melotot, akan tetapi ia tetap tidak mau mempergunakan kedua tangannya untuk menahan selendang. Kalau dikehendakinya, tentu saja ia dapat mempergunakan tangannya untuk menahan selendang dan melepaskan lehernya dari gantungan itu. Akan tetapi agaknya keputusannya sudah bulat dan ia memilih mati di tempat gantungan itu, berdekatan dengan tengkorak orang yang dahulu telah menggantung diri sampai mati di situ dan yang arwahnya kabarnya menjadi setan di tempat itu.

Setelah tubuh itu tidak berkejojotan lagi, barulah Thian Sin berloncatan keluar dari kuil menuju ke pohon itu. Dengan mudah saja dia menurunkan wanita itu dari tempat gantungan, memondongnya memasuki kuil di mana telah dinyalakan sebatang lilin. Dia biasa tidur di lantai yang ditilami jerami kering dan seilmut. Direbahkannya tubuh itu ke atas selimut dan dia memeriksanya. Memang wanita itu telah pingsan. Cepat dia mengurut leher itu, menotok beberapa jalan darah dan memaksa bibir itu terbuka dan dituanginya beberapa teguk air dari guci airnya.

Tak lama kemudian wanita itu membuka mata, mengeluh dan nampak bingung.

"Su... sudah matikah...?" akan tetapi ia melihat wajah Thian Sin dan cepat ia memukul sambil meloncat bangun.

Thian Sin menangkap tangan itu.

"Tenanglah. Aku menyelamatkanmu dari kematian dan engkau malah hendak memukulku?"

"Kenapa kau menurunkan aku? Kenapa tidak membiarkan aku mati. Ah, aku ingin mati saja! Aku ingin mati...huh-huuuhh..." dan wanita itupun menangis lagi, mengguguk.

Thian Sin merasa kasihan. Tadinya dia merasa curiga, akan tetapi setelah melihat betapa wanita itu sungguh-sungguh hendak membunuh diri, dia merasa kasihan dan timbul keinginannya untuk menolong wanita yang merasa berduka dan lebih baik memilih mati itu.

"Katakanlah kepadaku, mengapa engkau ingin mati? Kalau ada rasa penasaran, beritahukan padaku dan aku akan menolongmu."

Wanita itu menghentikan tangisnya dan memandang kepada wajah Thian Sin, lalu menangis lagi.

"Tak mungkin..." isaknya. "Biarpun engkau dapat mengalahkan aku, akan tetapi seorang pemuda pelajar macam engkau ini mana mungkin dapat menandingi Toan-ong-ya?"

Diapun menangis lagi. Diam-diam Thian Sin tertarik. Dia sudah pernah mendengar nama ini. Toan-ong-ya adalah seorang pangeran tua yang kabarnya tidak aktip lagi dalam pemerintahan, akan tetapi orang itu terkenal sebagai seorang pangeran yang kaya raya, memiliki ilmu silat cukup tinggi, dan terutama sekali, amat dermawan dan dikenal baik oleh para tokoh persilatan. Pangeran tua yang dikabarkan kaya raya dan gagah itu bagaimana kini dapat membuat seorang wanita muda yang manis ini menderita dan ingin membunuh diri?

"Ceritakanlah, jangankan Toan-ong-ya, biarpun raja neraka sekali, kalau kuanggap cukup memenuhi syarat untuk dibasmi, akan kubunuh dia!" katanya dengan nada suara yang serius dan halus, namun mengandung ancaman yang mendirikan bulu roma.

Wanita itu masih menangis, membuat Thian Sin menjadi jengkel juga.

"Ceritakanlah dan aku akan membantumu. Kalau engkau tidak mau, nah, pergi dari sini dan kalau kau mau bunuh diri, silakan, akan tetapi jangan di tempatku sini!"

Wanita itu menghentikan tangisnya, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Sin.

"Benarkah taihiap sudi menolongku, membalaskan dendam sakit hatiku yang sedalam lautan?"

"Ceritakanlah apa yang terjadi," potong Thian Sin.

"Pangeran terkutuk itu telah membunuh ayahku, suamiku, lalu memperkosaku dan memaksaku menjadi selirnya. Aku tak tahan lagi dan hendak membunuhnya untuk membalas kematian ayahku dan suamiku, akan tetapi dia terlalu kuat bagiku dan aku malah dihinanya... sampai aku melarikan diri dan pergi ke tempat yang terkenal ada hantunya ini untuk membunuh diri..."

Thian Sin mengerutkan alisnya. Tentu saja dia tidak mau menelan dan menerima saja cerita sepihak macam ini.

"Mengapa ayahmu dan suamimu dibunuh oleh pangeran itu?"

Wanita itu lalu bercerita yang kadang-kadang diselingi isak. Ia bernama Louw Kim Lan, sudah beberapa tahun lamanya menjadi isteri dari seorang pemburu she Gak yang pekerjaannya memburu binatang buas berdua dengan ayahnya. Mereka berburu di hutan-hutan sebelah utara kota raja dan mereka telah mendapatkan seorang langganan yang baik, yaitu keluarga Pangeran Toan itulah. Pada suatu hari, ketika Kim Lan membawa kulit binatang hutan untuk dikirimkan ke rumah Toan-ong-ya, kebetulan sekali pangeran tua itu sendiri yang menerimanya dan agaknya pangeran yang terkenal kaya raya dan dermawan akan tetapi juga terkenal suka bermain-main dengan wanita-wanita cantik itu agaknya tertarik kepada Kim Lan yang manis.

Kim Lan dibujuk dan diancam, bahkan Sang Pangeran itu mempergunakan kekerasan untuk menahannya di dalam istananya dan akhimya Kim Lan tak dapat melawan dan terpaksa harus menyerahkan diri kepada pangeran tua yang juga adalah seorang ahli silat tinggi yang amat lihai itu. Suaminya dan ayahnya yang sudah lama menjadi teman berburu suaminya, jauh sebelum ia menikah dengan pemburu itu, malam-malam datang menyelidiki dan dalam pertempuran melawan Toan-ong-ya, keduanya roboh tewas. Selanjutnya, Kim Lan diambil sebagai selir oleh pangeran itu. Ketika malam tadi Kim Lan mencari kesempatan untuk membunuh pangeran itu dengan racun ia ketahuan dan biarpun ia diampuni, namun ia diusir pergi dari istana.

"Demikianlah, taihiap. Apa dayaku sebagai seorang wanita lemah? Biarpun aku mengerti sedikit ilmu silat, akan tetapi mana mungkin aku menandingi Toan-ong-ya? Baru melawan para pengawalnya saja aku tidak akan mampu. Karena putus harapan dan penasaran, aku mengambil keputusan untuk mati dan menyusul ayah dan suamiku saja!"

Kim Lan mengakhiri penuturannya dan menangis lagi. Thian Sin sudah mengerutkan alisnya dan mengepal tinju tangannya.

"Baik, malam ini juga Toan-ong-ya akan kubunuh, akan tetapi engkau harus ikut untuk membuktikan kebenaran ceritamu!" katanya.

Wanita itu terkejut dan menggeleng kepala.

"Tidak... tidak... mana aku berani ke sana?"

"Jangan takut, ada aku yang akan melindungimu. Aku berjanji, takkan ada orang yang dapat mengganggumu seujung rambutmu pun. Mari!"

Dengan terpaksa, akan tetapi juga penuh harapan, wanita yang bernama Kim Lan itu lalu berlari menuju ke dalam kota raja. Ketika mereka tiba di pintu gerbang kota raja, Thian Sin memondongnya dan membawanya melompati tembok kota raja yang tinggi itu, membuat Kim Lan menahan napas dan juga kagum bukan main. Setelah mereka turun di sebelah dalam tembok itu, Kim Lan berkata.

"Ah, sekarang aku percaya bahwa taihiap tentu akan dapat membantuku menghadapi pangeran terkutuk itu!"

Thian Sin tidak menjawab, melainkan menurunkan Kim Lan dan mereka melanjutkan perjalanan menuju ke istana pangeran itu. Suasana sudah sunyi karena waktu telah mulai menjelang tengah malam. Dengan mudahnya mereka tiba di sebelah belakang tembok yang mengurung istana Pangeran Toan itu. Di sini, kembali Thian Sin memondong tubuh Kim Lan dan meloncat ke atas pagar tembok, lalu mereka, atas petunjuk Kim Lan, turun ke dalam taman di belakang istana. Dari sini, Kim Lan menjadi penunjuk jalan. Dengan berindap-indap mereka memasuki bangunan yang besar dan megah itu, melalui pintu-pintu rahasia kecil yang dikenal baik oleh Kim Lan. Setelah memeriksa dengan berindap-indap, akhirnya mereka tiba di luar sebuah ruangan tamu di belakang, di mana pangeran itu suka menerima tamu-tamunya yang penting atau sahabat-sahabat baiknya. Dan ruangan itu masih terang, berarti bahwa Sang Pangeran masih berada di situ, dan terdengarlah lapat-lapat suara orang bicara di balik pintu ruangan itu.

"Dia berada di dalam ruangan menjamu tamunya..." Kim Lan berbisik di dekat telinga Thian Sin.

Thian Sin mengangguk dan balas berbisik, "Aku akan naik dan mengintai dari atas, engkau harus dapat membuktikan ceritamu kepadaku tadi, baru aku akan turun tangan."

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Thian Sin telah lenyap dari depan wanita itu. Ditinggal seperti ini, Kim Lan terkejut dan gelisah. Akan tetapi ia percaya bahwa pemuda itu pasti mengintai dari atas dan ia harus dapat meyakinkan hati pemuda itu akan kebenaran ceritanya tadi, dan kalau pemuda itu turun tangan, ia yakin bahwa musuh besarnya pasti akan dapat terbunuh dan dendamnya akan terbalas secara memuaskan sekali!

Ia memberi kesempatan beberapa waktu agar pemuda itu dapat menemukan tempat pengintaian yang baik. Setelah lewat beberapa waktu, barulah ia mendorong pintu ruangan itu dan masuk ke dalam ruangan. Perbuatannya ini mengejutkan tiga orang laki-laki yang sedang duduk menghadapi meja dan bercakap-cakap di dalam ruangan itu. Mereka menghadapi cawan dan guci arak dan beberapa macam makanan kering. Tadinya pangeran tua itu mengira bahwa ada pelayan lancang yang memasuki ruangan, akan tetapi ketika dia melihat siapa yang masuk, alisnya berkerut dan dia bangkit berdiri dengan muka merah karena marah.

"Hemm, perempuan rendah budi! Engkau berani datang lagi ke sini?" bentaknya.

Dari atas atap yang sudah dia lubangi, Thian Sin mengintai. Dia melihat bahwa yang berdiri dan membentak itu adalah seorang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi dan masih gagah, nampak berwibawa namun sikapnya halus sebagai tanda bahwa kakek ini adalah seorang terpelajar tinggi. Mudah baginya untuk menduga bahwa orang inilah yang dimaksudkan oleh Kim Lan, yaitu Toan-ong-ya, Pangeran Toan yang terkenal itu.

Dari teguran itu maklumlah dia bahwa memang benar pangeran itu mengenal baik kepada Kim Lan. Dia melihat Kim Lan menjatuhkan diri berlutut.

"Ong-ya... saya tidak percaya paduka begini kejam! Sesudah membunuh ayahku, suamiku, dan setelah sekian lama saya melayani paduka, kini paduka hendak mengusirku begitu saja!"

"Hemm, engkau tak mungkin lupa akan perbuatanmu yang hina! Engkau hampir berhasil membunuhku dengan meracuni minumanku, dan engkau mengatakan aku yang kejam? Hayo pergi dari sini, jangan engkau injak lagi tempat ini!"

"Tapi... tapi saya mencoba meracuni paduka karena paduka telah membunuh ayahku dan suamiku..."

"Ayahmu dan suamimu mencari mampus sendiri! Sudahlah, pergi kataku!"

Dari atas, Thian Sin mendengar ini semua dan percayalah dia akan kebenaran cerita Kim Lan. Pangeran itu tidak menyangkal telah membunuh ayah dan suami wanita itu, dan Kim Lan juga sudah mengaku telah mencoba meracuni Sang Pangeran, persis seperti yang diceritakan oleh wanita itu kepadanya tadi. Marahlah Thian Sin. Membunuh ayah dan suami orang, memperkosa isteri orang, dan hal ini dia tidak sangsi lagi melihat bahwa Kim Lan begitu berbakti dan mencinta suaminya sehingga mau meracuni pangeran itu, dan sekarang hendak mengusir wanita itu begitu saja. Jelas bahwa pangeran itu bukan seorang baik-baik!

Dia melihat bahwa dua orang tamu pangeran itu ternyata adalah dua orang laki-laki yang nampak gagah perkasa, yang seorang bertubuh tinggi besar berpakaian seperti petani, sikapnya polos dan gagah, sedangkan yang kedua adalah seorang berjubah hwesio berkepala gundul, berusia sebaya dengan petani itu, yaitu kira-kira empat puluh tahun. Namun dia tidak peduli. Kalau mereka akan mengeroyoknya, terserah, pikirnya. Maka diapun segera menerobos atap dan melayang turun ke dalam ruangan itu.

"Yang berkedudukan mempergunakan kekuasaannya untuk menindas orang, yang kaya-raya mempergunakan hartanya untuk memperbudak orang, yang kuat mempergunakan kepandaiannya untuk bersikap sewenang-wenang, seorang pangeran membunuh dan memperkosa orang seenak perutnya sendiri. Ahah, sungguh dunia sudah penuh dengan manusia-manusia jahat yang harus dibasmi!"

Sementara itu, melihat munculnya seorang pemuda yang menerobos masuk dari atas, maklumlah Pangeran Toan bahwa orang ini tentulah sekutu dari Kim Lan, maka dia sudah mencabut pedangnya dan menudingkan pedang itu ke arah muka Thian Sin sambil membentak, "Siapakah engkau yang berani memasuki rumah orang tanpa ijin?"

Thian Sin tersenyum. "Hemm, biarpun engkau seorang pangeran yang kaya raya, apa kaukira boleh membunuh orang tanpa ijin?" Lalu sambil melangkah maju dia menyambung, "Kenalilah, aku adalah wakil orang-orang yang kaubunuh."

Tangannya sudah bergerak menampar ke depan dengan cepat dan kuat. Melihat ini, sang pangeran cepat menggerakkan pedangnya membacok ke arah tangan yang menampar itu. Akan tetapi tamparan itu memang hanya serangan pancingan saja dari Thian Sin. Ketika pedang membacok, dia membuka tangannya dan menerima pedang itu dengan tangan terbuka! Melihat kenekatan lawan ini, Sang Pangeran sendiri sampai terkejut karena tangan itu akan buntung bertemu dengan pedangnya. Akan tetapi dia kecelik, karena pedang itu terhenti dan sudah digenggam oleh tangan Thian Sin dan begitu pemuda ini menarik dan mengirim tendangan ke arah lengan yang memegang pedang, Sang Pangeran tidak mampu mempertahankannya lagi dan pedang itu telah dapat dirampas oleh lawan!

Selagi pangeran itu terkejut dan terheran, menjadi bengong karena selama hidupnya belum pernah dia menghadapi kelihaian seperti itu, Thian Sin sudah berseru, "Sekarang terimalah hukumanmu!" Pedangnya menyambar seperti kilat.

"Tranggg...!" Pedangnya bertemu dengan tongkat yang dipegangnya oleh hwesio itu.

Kiranya hwesio itu telah menangkis pedang dengan tongkatnya dan dari getaran pedangnya, Thian Sin tahu bahwa hwesio ini tidak boleh dipandang ringan.

"Omitohud... harap jangan terlalu ganas, orang muda!" kata hwesio itu.

"Persetan dengan kamu! Aku tidak ada urusan denganmu!" bentak Thian Sin sambil terus menerjang Sang Pangeran yang sudah melangkah mundur.

Hwesio itu menerjang dengan tongkatnya untuk melindungi, akan tetapi tiba-tiba pedang itu membalik dan berkelebat menyambar ke arah leher hwesio itu, lalu bertubi-tubi menyerangnya. Hwesio itu terkejut sekali dan sambil memutar tongkatnya diapun meloncat ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Thian Sin untuk menubruk ke depan dan sebelum Sang Pangeran dapat mengelak, pedang itu telah menyambar seperti kilat.

Sang Pangeran mengeluarkan jeritan mengerikan dan nampak darah muncrat dari bawah perutnya karena pedang itu telah menyambar ke arah alat kelaminnya! Pangeran itu terhuyung lalu roboh dan berkelojotan, kedua tangannya mendekap ke arah bagian yang terbabat pedang tadi.

Peristiwa ini sedemikian cepatnya sehingga hwesio dan petani itu sejenak memandang bengong dan dengan muka pucat. Kemudian mereka berdua marah bukan main.

"Penjahat kejam, apa yang kaulakukan?" bentak mereka dan keduanya lalu menyerang Thian Sin dengan gerakan yang amat kuat dan cepat.

Hwesio itu menyerang dengan tongkatnya, sedangkan orang yang berpakaian petani itu telah menyerangnya dengan sebatang golok. Gerakan Si Petani ini tidak kalah tangkas dan kuatnya dibandingkan dengan hwesio itu. Melihat gerakan mereka, Thian Sin terkejut juga karena dia mengenal gerakan dari ilmu silat partai Siauw-lim-pai. Dia mengelak ke kanan kiri dan tongkat bersama golok itu telah menjadi gulungan sinar yang terus mengejarnya. Thian Sin tahu bahwa lawannya tangguh dan bahwa dia harus bertindak cepat kalau tidak mau keburu datang pasukan pengawal. Dari luar sudah terdengar ribut-ribut. Maka diapun cepat mainkan Thai-kek Sin-kun, kedua kakinya bergerak dengan langkah-langkah yang hebat dan tahu-tahu tangannya sudah berhasil mendorong kedua orang lawan itu sampai mereka terhuyung ke belakang. Dua orang itu terkejut bukan main karena mereka juga mengenal Thai-kek Sin-kun, akan tetapi mereka tidak mengenal tenaga serangan yang amat dahsyat tadi.

"Kau... kau Pendekar Sadis!" teriak orang yang berpakaian petani.

"Omitohud... yang ini tidak patut dinamakan pendekar, melainkan Penjahat Sadis!" kata Si Pendeta.

"Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian!" kata Thian Sin dan cepat dia menyambar tubuh Kim Lan yang berdiri di sudut dengan wajah khawatir, lalu hendak berlari keluar.

"Penjahat kejam jangan lari!" bentak Si Petani dan diapun sudah meloncat dengan cepatnya menerjang Thian Sin sambil menggerakkan goloknya.

"Plakk! Tranggg...!" Golok itu terlempar dan Si Petani itu jatuh terpelanting ketika Thian Sin menyambutnya dengan pukulan Pek-in-ciang.

Melihat pukulan yang mengeluarkan uap putih itu Si Hwesio yang tadinya juga mengejar, terkejut dan cepat dia menolong temannya yang roboh pingsan, memeriksanya dan baru merasa lega ketika melihat bahwa temannya itu tidak tewas, melainkan terguncang hebat oleh pukulan itu sehingga menjadi pingsan.

Hwesio ini juga mengenal pukulan Pek-in-ciang, semacam pukulan sakti yang kabarnya hanya dimiliki oleh pendekar Yap Kun Liong, seorang locianpwe yang bertapa di Bwee-hoa-san dan yang kabarnya sudah tidak mencampuri lagi urusan dunia.

Para pengawal berserabutan masuk, akan tetapi Thian Sin dan Kim Lan sudah tidak nampak lagi bayangannya. Mereka lalu menolong pangeran itu, akan tetapi terlambat karena pangeran itu telah tewas dengan anggauta kelaminnya terbabat buntung! Dengan hati penuh duka hwesio dan petani itu membantu keluarga pangeran itu untuk berkabung dan kematian Pangeran Toan ini benar-benar mengejutkan semua orang dan bahkan sempat menggegerkan dunia kang-ouw, terutama para tokoh persilatan di sekitar kota raja.

Pangeran ini dikenal sebagai seorang yang amat akrab dengan tokoh-tokoh kang-ouw, terkenal sebagai seorang budiman dan dermawan. Memang dia terkenal pula sebagai seorang pria yang suka dengan wanita-wanita muda sehingga di samping isterinya, juga di istananya terdapat belasan orang selir yang muda-muda dan cantik-cantik. Namun hal ini bukan merupakan kejahatan apalagi di masa itu di mana seorang bangsawan atau hartawan sudah biasa mempunyai banyak selir muda yang cantik. Pula, tidak pernaht erdengar pangeran ini menggunakan kekuasaannya untuk memaksa isteri atau anak orang untuk menjadi selirnya.

Oleh karena itu, pembunuhan terhadap dirinya sungguh mengejutkan dan menggegerkan, apalagi ketika para tokoh itu mendengar bahwa pembunuhnya adalah Pendekar Sadis yang terkenal sebagai pembasmi yang kejam terhadap orang-orang jahat, dan bahwa pembunuhan itu dilakukan karena Sang Pendekar yang kejam itu menuduhnya berbuat kejahatan.

Para tokoh besar dunia kang-ouw yang sudah mendengar akan sepak terjang Pendekar Sadis, yang sudah merasa marah dan menentang, tidak setuju akan kekejaman-kekejaman itu walaupun dilakukan terhadap penjahat-penjahat, kini menjadi marah dan menganggap bahwa Pendekar Sadis itu kini telah menyeleweng dan menjadi Penjahat Sadis!

Ramailah dipersoalkan orang siapa adanya pemuda yang disebut Pendekar Sadis itu. Pendekar Sadis tidak pernah mengakui namanya dan julukannya itupun adalah pemberian orang kepadanya karena sepak terjangnya yang mengerikan. Datangnya seperti setan, tersenyum-senyum, tampan, ganteng, halus sikapnya, suka bersajak dan membaca ayat-ayat suci dari kitab-kitab suci, suka menyuling dan bernyanyi dengan suara merdu, akan tetapi sekali tangannya bergerak, maka lawan akan terjatuh dan tewas dalam keadaan tersiksa dan amat mengerikan!

Belum pernah para tokoh kang-ouw melihat kekejaman yang sehebat itu dan merekapun merasa muak dan menentang keras. Perbuatan seperti yang dilakukan oleh Pendekar Sadis itu sungguh kejam dan tidak patut dilakukan oleh orang yang mengaku Pendekar. Hal ini bisa menodai dan mengotorkan nama pendekar-pendekar di dunia! Pendekar bukanlah orang yang kejam, walaupun pendekar selalu menentang kejahatan. Bahkan seorang pendekar harus menentang kekejaman, bersikap adil tanpa kejam, mengabdi kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas menentang yang kuat sewenang-wenang.

Bahkan dua orang murid Siauw-lim-pai itu, yang malam itu menjadi tamu Pangeran Toan dan bahkan menjadi saksi kekejaman Pendekar Sadis, cepat-cepat pulang ke Siauw-lim-si untuk melaporkan sepak terjang Pendekar Sadis kepada para pemimpin Siauw-lim-pai.

Sementara itu, Thian Sin juga merasa menyesal bahwa dia harus bentrok dengan dua orang yang melihat gerakannya dapat diduga tentu tokoh-tokoh Siauw-lim-pai itu. Akan tetapi dia tidak peduli. Kalau mereka itu membela Toan-ong-ya, berarti mereka membela fihak yang salah, pikirnya. Dengan cepat dia membawa lari Kim Lan dari istana pangeran itu. Dia tidak mau meninggalkan wanita itu di sana, karena hal itu sama saja dengan mencelakakannya. Dengan cepat sekali dia telah keluar dari kota raja dan menuju ke kuil yang gelap dan sunyi itu.

Setibanya di luar kuil, dia menurunkan tubuh Kim Lan dan berkata, "Nah, sudah terbalas dendammu, sekarang pergilah kau."

Tiba-tiba wanita itu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Thian Sin.

"Taihiap... aku merasa berterima kasih sekali kepadamu... dan biarlah aku menyerahkan diriku kepada taihiap untuk membalas budi aihiap..."

"Hemm, pergilah dan jangan kauganggu aku lagi!" kata Thian Sin.

"Tapi... tapi, taihiap, ke manakah aku dapat pergi? Kalau bertemu dengan kaki tangan dan teman-temannya Pangeran Toan, tentu aku akan ditangkap dan dibunuhnya. Taihiap, mengapa taihiap menolong aku setengah-setengah?"

Thian Sin mengerutkan alisnya, maklum bahwa apa yang dikatakan oleh wanita itu memang ada benarnya.

"Habis, apa maumu?" tanyanya, agak bingung juga.

"Taihiap, biarlah selama taihiap berada di sini aku menemani taihiap, aku akan melayani taihiap... dan apapun yang taihiap kehendaki dariku, akan kulakukan dengan senang hati."

Thian Sin tidak menjawab. Dia sendiri bingung apa yang harus dilakukannya terhadap wanita ini. Untuk mengusirnya begitu saja terang tidak mungkin karena tentu wanita ini akan tertimpa malapetaka kalau bertemu dengan orang-orang yang mencarinya. Kematian Toan-ong-ya tentu akan menggemparkan kota raja dan para penjaga keamanan tentu akan mencari wanita ini. Maka diapun lalu masuk ke dalam kuil, menyalakan lilin. Ketika dia hendak membuat api unggun, dia telah didahului oleh Kim Lan yang tanpa banyak cakap, telah membuat api unggun, kemudian wanita itu duduk di sudut tanpa banyak bergerak, hanya sepasang matanya yang bening itu menatap ke arah pemuda itu.

Thian Sin melirik. Wanita itu memang manis, dengan bentuk tubuh yang padat, kulit leher dan tangan cukup bersih dan halus. Sudah beberapa lamanya dia tidak berdekatan dengan wanita dan wanita ini memang manis, masih muda pula.

"Tidak mungkin aku dapat melindungimu terus, besok aku akan pergi dari sini," tiba-tiba pemuda itu berkata sambil merebahkan dirinya di alas jerami kering.

Kim Lan memandang dengan mata terbelalak, lalu bangkit dan menghampiri duduk di atas jerami dekat dengan Thian Sin.

"Engkau hendak pergi, taihiap? Ke mana? Lalu aku... aku bagaimana...?"

Sambil rebah itu Thian Sin memandang. Apa gunanya wanita ini? Dan tiba-tiba dia bertanya, "Kim Lan, apakah yang harus kulakukan denganmu? Aku mempunyai banyak urusan penting dan aku tidak mungkin dapat melindungimu terus. Aku telah membalaskan sakit hatimu. Besok aku harus pergi untuk mencari seorang musuh besarku yang sampai kini belum juga kutemukan. Aku terpaksa akan meninggalkanmu di sini."

"Mencari musuhmu, taihiap? Siapakah yang kaucari? Siapa tahu aku dapat membantumu menemukannya."

Ucapan ini mendatangkan harapan pada Thian Sin.

"Benarkah? Yang kucari itu adalah seorang yang bernama Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam, seorang tokoh Jeng-hwa-pang yang kabarnya melarikan diri di kota raja, akan tetapi sampai kini belum juga dapat kutemukan."

Wanita itu nampak termenung dan bibirnya membisikkan nama itu berkali-kali.
"Tok-ciang Sian-jin...? Tok-ciang... ah, pernah aku mendengar nama itu, taihiap!" Dan iapun mendekat dan jari-jari tangannya memegang lengan Thian Sin karena merasa tegang dan girang.

Pemuda itu merasa jari-jari tangan yang halus itu mencengkeram lengannya, akan tetapi hal ini tidak begitu diperhatikan karena dia sudah bangkit duduk dan memandang dengan sinar mata penuh selidik.

"Benarkah? Engkau tahu di mana dia?" tanyanya.

Kim Lan mengangguk-angguk.

"Sekarang aku teringat. Mendiang suamiku pernah mengirimi kulit harimau yang dipesan oleh ketua Pek-lian-kiuw di lereng Tai-hang-san, di dusun yang disebut Dusun Tiong-king. Ya, suamiku pernah bercerita bahwa di situ terdapat seorang kakek yang berjuluk Tok-ciang... yang kuingat hanya Tok-ciang begitu saja, entah Tok-ciang Sian-jin atau Tok-ciang siapa. Suamiku mendengar julukan itu dari percakapan antara para anggauta Pek-lian-kauw ketika dia menantikan pembayaran."

"Bagus sekali!" Thian Sin berseru dengan girang. "Engkau mau membantuku?"

"Tentu saja, taihiap. Setelah apa yang kaulakukan untukku, biar harus berkorban nyawapun untukmu aku bersedia melakukannya!"

"Aku akan mencari harimau dan engkau boleh menawarkan kulitnya ke orang Pek-lian-kauw, dengan demikian engkau dapat menyelidiki di mana adanya orang yang berjuluk Tok-ciang Sian-jin apakah dia itu benar Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam atau bukan."

"Baik, taihiap, dengan senang hati. Dan lebih dari itu... kalau engkau menghendaki... aku... aku akan senang sekali menemanimu tidur..."

Wajah itu masih sempat menjadi merah ketika mengatakan hal ini dan matanya mengerling tajam, mulutnya tersenyum. Memang sejak pertemuannya yang pertama dengan pemuda itu, Kim Lan sudah tergila-gila oleh ketampanan wajah Thian Sin, apalagi setelah menyaksikan sepak terjang Pendekar Sadis ini. Thian Sin tersenyum, lalu meraih dan menarik tubuh wanita itu dalam pelukannya. Tentu saja dia tidak menolak penawaran diri seorang wanita semanis Kim Lan, apalagi karena sudah beberapa lamanya dia tidak pernah menyentuh wanita.

***

Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih) sebenarnya bukanlah suatu perkumpulan agama, melainkan sebuah perkumpulan politik yang menentang pemerintah. Memang para pemimpinnya terdiri dari para tosu yang sebagian menganut Agama To yang sudah tidak aseli lagi, yang bercampur-baur dengan pelajaran-pelajaran Agama Buddha dan pelajaran aliran-aliran lain yang suka akan hal-hal mistik. Pek-lian-kauw merupakan perkumpulah penentang pemerintah yang kuat. Biarpun sudah sering kali pemerintah melakukan usaha untuk membasminya, namun perkumpulan ini selalu berdiri lagi dan mempunyai cabang di mana-mana. Kekuatannya terletak kepada pengerahan rakyat yang mudah terbujuk perkumpulan ini melalui ilmu-ilmu sihir, melalui filsafat-filsafat agama dan janji-janji. Tentu saja semua ini didasarkan atas penderitaan rakyat. Pek-lian-kauw pandai menggunakan bujuk rayu, memanfaatkan kemiskinan dan penderitaan rakyat yang merasa tidak puas terhadap pemerintah yang memang pada waktu itu amat buruk.

Banyak pembesar yang bersikap sewenang-wenang, pejabat-pejabat yang menindas rakyat dengan berbagai jalan. Kekeliruan pemerintah yang terutama adalah bahwa pemerintah selalu mengejar-ngejar perkumpulan itu dengan kekerasan. Tentu saja pemerintah selalu gagal, karena pemerintah hanya mengejar dan berusaha membasmi akibatnya saja tanpa mempedulikan sebabnya. Timbulnya ketidak puasan rakyat membentuk adanya perkumpulan seperti perkumpulan Pek-lian-kauw yang ideologinya dilandaskan atas kemiskinan rakyat yang menderita dan tidak puas itu adalah akibat saja, dan sebabnya terletak pada keadaan rakyat itu sendiri. Biarpun ribuan kali perkumpulan semacam itu dibasmi, namun selama rakyat masih tertindas, miskin dan tidak puas, tentu akan muncul pula perkumpulan baru yang serupa, yaitu menentang pemerintah dan merongrong pemerintah.

Pek-lian-kauw selalu menghasut di dusun-dusun, rakyat miskin dengan mengatakan betapa rakyat sengsara hidupnya,ditindas, dan menonjolkan pula betapa mewahnya kehidupan orang-orang kaya dan pembesar-pembesar yang korup di kota-kota dan kota raja. Dengan perbandingan-perbandingan yang menyolok ini, yang ditambahi pula bumbu-bumbu, Pek-lian-kauw menghasut rakyat jelata untuk menentang, untuk memberontak terhadap orang kaya, terhadap pembesar, terhadap pemerintah.

Kemiskinan rakyat merupakan sumber pertumbuhan perkumpulan semacam Pek-lian-kauw itulah. Rakyat yang kecewa atau tidak puas akan keadaan hidupnya, merupakan makanan empuk bagi perkumpulan semacam itu, mudah dihasut. Oleh karena itu, mengejar-ngejar Pek-lian-kauw, membasminya dengan kekuatan senjata, sama saja dengan membabat rumput pada daunnya saja. Karena akarnya masih, maka dalam waktu singkat saja rumput-rumput itu akan tumbuh lagi, bahkan lebih subur mungkin. Sebuah pemerintahan yang baik, di bawah bimbingan pemimpin-pemimpin yang bijaksana, tentu akan lebih mempelajari sebabnya daripada terkecoh oleh akibatnya, tentu akan lebih memperhatikan akarnya daripada mengacuhkan rumputnya.

Sebabnya atau akarnya terletak kepada kesengsaraan atau kemelaratan rakyat jelata. Kalau pemerintah memperhatikan keadaan kehidupan rakyat jelata, di dusun-dusun, di gunung-gunung, kalau pemerintah dapat meningkatkan kehidupan mereka yang miskin dengan pendapatan yang memadai, sehingga semua rakyat dapat memperoleh sandang pangan papan yang layak, kalau perbedaan antara si kaya dan si miskin tidak begitu menyolok, kalau semua pejabat yang memeras dan korupsi diberantas dan diganti orang-orang yang bijaksana, maka rakyat akan hidup tenteram, tenang dan tidak kecewa. Nah, kalau sudah begini, maka tanpa diberantaspun, perkumpulan-perkumpulan macam Pek-lian-kauw itu akan mati sendiri. Rakyat tentu akan terbuka matanya bahwa perkumpulan semacam itu hanya menghasut belaka untuk mempergunakan kekuatan mereka, kekuatan rakyat, untuk memberontak dan mengambil alih kekuasaan, atau lebih jelas lagi perkumpulan itu hendak mempergunakan kekuatan rakyat untuk merebut kedudukan, demi kepentingan beberapa gelintir pemimpin perkumpulan itu sendiri tentu saja. Dan rakyat tentu akan menentangnya.

Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam adalah seorang tokoh besar yang memiliki ilmu kepandalan tinggi. Akan tetapi semenjak Jeng-hwa-pang diserbu oleh putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang kemudian dibantu oleh keturunan Cin-ling-pai, dia merasa tidak aman hidupnya. Dia masih merasa ngeri kalau membayangkan kelihaian putera Pangeran Ceng Han Houw itu. Dan diapun mengerti bahwa pemuda yang mengandung sakit hati atas kematian ayah bundanya itu tentu akhirnya akan mencarinya. Maka larilah dia, setelah Jeng-hwa-pang dibasmi, ke kota raja di mana dia mempunyai banyak sahabat dan dapat menyembunyikan dirinya. Beberapa tahun lamanya tidak ada orang mencarinya maka dia mulai merasa tenang.

Akan tetapi, kemudian terdengar munculnya seorang pemuda yang dijuluki Pendekar Sadis karena kekejamannya membasmi orang-orang jahat. Tok-ciang Sian-jin teringat kepada Thian Sin, putera Ceng Han Houw itu, dan dia sudah dapat menduga bahwa agaknya Pendekar Sadis adalah Ceng Thian Sin putera pangeran yang pernah menggegerkan dunia persilatan sebagai jagoan nomor satu itu! Dan diapun menjadi panik dan ketakutan, apalagi ketika dia mendengar bahwa Hwa-i Kai-pang telah diobrak-abrik oleh Pendekar Sadis, bahkan Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai juga telah dibunuhnya secara mengerikan. Makin yakinlah hatinya bahwa pemuda itu tentulah Ceng Thian Sin dan diapun tahu bahwa pemuda itu tentu akan mencarinya, tentu tahu pada akhirnya bahwa diapun menjadi satu di antara pengeroyok dan pembunuh Pangeran Ceng Han Houw.

Tok-ciang Sian-jin merasa tidak aman lagi tinggal di kota raja dan diapun lari ke satu-satunya tempat yang dirasanya aman baginya, yaitu ke sarang Pek-lian-kauw. Memang sudah lama dia mempunyai hubungan baik dengan Pek-lian-kauw. Setelah dia menempati sebuah pondok di dalam komplek sarang Pek-lian-kauw dan beberapa orang tokoh Pek-lian-kauw yang cukup lihai sebagai teman, hatinya menjadi tenteram juga. Betapapun juga putera Sang Pangeran Ceng Han Houw yang diduganya tentulah Si Pendekar Sadis itu hanya seorang diri saja, maka dengan bantuan Pek-lian-kauw, bukan saja dia akan mampu menandingi Pendekar Sadis, bahkan kalau pemuda itu berani muncul, dia tentu akan berusaha agar pendekar itu dikeroyok dan tewas seperti mendiang ayahnya.

Sarang Pek-lian-kauw yang berada di lereng Pegunungan Tai-hang-san dan tidak jauh dari daerah kota raja itu memang merupakan tempat yang amat baik bagi perkumpulan ini. Dan agaknya untuk tidak menarik perhatian pemerintah, maka perkumpulan itu tidak mendirikan sebuah benteng, melainkan mempergunakan sebuah dusun untuk menjadi sarang mereka. Mereka mendirikan rumah-rumah di antara penduduk dusun, dan ada pula yang mendirikan rumah-rumah di hutan-hutan tepi dusun itu, akan tetapi di antara rumah-rumah ini terdapat hubungan rahasia dan setiap saat tempat itu terjaga oleh anak buah Pek-lian-kauw yang bersembunyi di tempat-tempat rahasia.

Para penduduk dusun Tiong-king itupun kesemuanya telah dipengaruhi dan biarpun mereka masih merupakan penduduk dusun biasa, namun sesungguhnya mereka itu telah menjadi anggauta-anggauta yang setia dari Pek-lian-kauw yang menjanjikan perbaikan nasib bagi mereka kalau kelak "perjuangan" Pek-lian-kauw berhasil.

Pada suatu pagi, seorang wanita yang manis memasuki perkampungan Pek-lian-kauw itu dan karena ia membawa kulit harimau dan mengatakan bahwa wanita itu adalah isteri mendiang Hok-houw-kwi (Setan Penakluk Harimau), yaitu pemburu yang biasa menjual kulit harimau dan ular besar kepada para pimpinan Pek-lian-kauw, maka ia diterima tanpa banyak kecurigaan. Bahkan Kim Lan yang membawa dua gulung kulit harimau itu segera dibawa menghadap kepada Thian Hwa Lo-su, yaitu kakek yang pada waktu itu menjadi pemimpin atau ketua cabang Pek-lian-kauw di daerah itu.

Adapun pusat Pek-lian-kauw masih berada di selatan, di Propinsi Hok-kian. Thian-hwa Lo-su ini adalah seorang sahabat baik dari Tok-ciang Sian-jin, dan dia memimpin Pek-lian-kauw cabang daerah itu dengan bantuan lima orang sutenya. Dengan hadirnya Tok-ciang Sian-jin di tempat itu, tentu saja dia merasa gembira dan berarti memperoleh tenaga yang boleh diandalkan, yang akan membuat Pek-lian-kauw cabang daerah itu menjadi semakin kuat.

Pada waktu itu, Thian-hwa Lo-su sedang bersama lima orang sutenya dan juga Tok-ciang Sian-jin hadir pula. Mereka sedang menerima kunjungan seorang tokoh Pek-lian-kauw dari Hok-kian. Tokoh ini adalah seorang tosu Pek-lian-kauw yang bernama Giok-lian-cu, seorang tosu tinggi kurus yang mukanya seperti tikus akan tetapi matanya amat berwibawa dan memang tokoh ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi di samping ilmu sihir yang cukup kuat. Giok-lian-cu ini datang membawa pesan dari para pimpinan Pek-lian-kauw pusat untuk memperingatkan para pengurus cabang bahwa mereka itu kurang tekun berusaha menarik dukungan rakyat.

"Bagaimana dapat dikatakan kami kurang berusaha?" Thian-hwa Lo-su membantah. "Kami setiap hari sudah membujuk dan menghibur rakyat di dusun-dusun, dan sudah banyak yang menjadi pengikut kami. Seperti di dusun Tiong-king ini, dari anak-anak sampai kakek-kakek, laki-laki maupun wanita, semua mendukung gerakan kita!" Dia merasa agak penasaran kalau dikatakan bahwa para pimpinan cabang kurang giat atau tekun bekerja.

"Siancai... harap Lo-heng jangan salah mengerti dan dapat menyelami apa yang dimaksudkan para pimpinan kita," kata Giok-lian-cu sambil tersenyum.

Kalau tersenyum, mukanya semakin mirip dengan muka tikus karena bentuk muka itu memang meruncing dan panjang, sedangkan muka itu dicukur licin, hanya disisakan beberapa helai kumis jarang.

"Coba Lo-heng jawab, selain berusaha membujuk dan mengambil hati rakyat dengan janji-janji muluk, apakah juga kawan-kawan di daerah ini berusaha untuk mencegah dan menghalangi adanya kemakmuran rakyat? Apakah ada usaha untuk mengacaukan pembagian air sawah, merusak tanaman, meracuni sungai-sungai agar ikan-ikan banyak mati, juga mengadakan kekacauan-kekacauan berselubung sehingga rakyat hidup dalam kekurangan, kelaparan dan kegelisahan?"

Para pimpinan Pek-lian-kauw daerah itu terbelalak. Selama mereka menerima "gemblengan" di pusat belum pernah mereka mendengar akan usaha seperti itu.

"Tapi mengapa? Bukankah kita malah harus berbaik dengan rakyat miskin? Mengapa kita harus membuat kehidupan mereka menjadi semakin memburuk...?"

"Ha-ha-ha, agaknya Lo-heng lupa bahwa rakyat harus dibuat semenderita mungkin, karena dengan demikian, dengan adanya kegagalan panen, kegagalan para nelayan, kekacauan dan ketidakamanan, maka semakin besar pula rakyat akan tidak puas dan membenci pemerintah. Kaisar dianggap sebagai utusan Thian, dan kalau sampai panen gagal dan kehidupan sukar, berarti bahwa Thian marah kepada kaisar maka menjatuhkan hukuman. Ini lebih mudah untuk mendorong rakyat untuk memberontak dan menjadi pengikut-pengikut kita."

Para pimpinan Pek-lian-kauw mengangguk-angguk dan mereka merasa kagum akan siasat baru yang dibawa oleh rekan ini dari pusat. Mereka lalu menyatakan kesanggupan mereka untuk mempergiat usaha mereka membuat rakyat di wilayah kekuasaan mereka menjadi semakin melarat, dan kalau perlu mereka akan membasmi hartawan-hartawan yang suka menderma, menghancurkan atau membakar persediaan pangan, meracuni sungai yang banyak ikannya dan meracuni tanaman-tanaman agar mati sebelum mengeluarkan hasil.

Akhirnya mereka itu minum arak dari cawan mereka sambil berseru, "Hidup Pek-lian-kauw! Demi kemakmuran rakyat kalau pemerintah telah digulingkan dan Pek-lian-kauw yang berkuasa!"

Rapat pimpinan dilanjutkan dengan makan minum untuk menjamu tamu dari pusat itu. Dan biarpun para pimpinan Pek-lian-kauw itu terdiri dari orang-orang yang mengenakan jubah pendeta, akan tetapi mereka semua tidak pernah pantang makan barang berjiwa maupun minuman keras. Bahkan merekapun tidak pernah pantang bersenang-senang dengan wanita. Karena itu, dalam perjamuan itupun terdapat beberapa orang wanita muda, yaitu wanita-wanita dari dusun-dusun yang telah menjadi pendukung mereka, tentu saja dipilih yang manis-manis melayani mereka makan minum.

Para gadis yang telah dipilih oleh pimpinan Pek-lian-kauw itu rata-rata telah lama menjadi kekasih mereka pula, dan sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk menghibur para pimpinan Pek-lian-kauw. Gadis ini merasa seolah-olah mereka itu terpilih dan merasa bangga karena selain mereka merasa dipakai oleh para orang terkemuka, juga mereka tentu saja dihadiahi banyak barang berharga, pakaian indah dan emas permata. Karena itu, dalam melayani mereka makan minum gadis-gadis itupun bersikap genit-genit, apalagi terhadap tamu itu, walaupun pendeta tamu itu tak dapat dikatakan memiliki wajah dan bentuk badan yang menarik hati wanita.

Pada pagi hari itulah, selagi para pimpinan Pek-lian-kauw menjamu Giok-lian-cu, tokoh Pek-lian-kauw pusat itu, muncul Kim Lan yang menawarkan dua gulungan kulit harimau kepada para pimpinan Pek-lian-kauw. Anggauta Pek-lian-kauw yang mengenal suami wanita ini dan bahwa ketua mereka suka sekali mengumpulkan kulit binatang buas, segera membawa Kim Lan masuk ke ruangan di mana mereka sedang berpesta, apalagi melihat bahwa wanita penjual kulit harimau ini amat manis.

Melihat anggautanya datang membawa seorang wanita yang tidak mereka kenal, Thian-hwa Lo-su mengerutkan alisnya.Betapa sembrono anak buahnya itu.

"Siapa yang kaubawa menghadap ini?"

"Maaf, suhu, ia adalah isteri mendiang Hok-houw-kwi si pemburu yang pernah menjual kulit binatang buas ke sini,dan ia sekarang membawa dua gulung kulit harimau..."

Kecurigaan segera lenyap dari sepasang mata ketua Pek-lian-kauw itu dan kini dia memandang dengan penuh perhatian, juga dengan pandang mata lembut ketika melihat betapa wanita itu memiliki wajah yang manis dan pakaiannya yang ketat itu menonjolkan tubuh yang padat dan menggairahkan. Juga pandang mata wanita itu mengandung kerling tajam, tanda bahwa wanita itu tidak berdarah dingin. Dan terutama sekali, baru sekarang tuan rumah ini melihat betapa pandang mata tamunya berkilat. Kalau tadi tamunya menghadap para pelayan itu dengan sikap tak acuh dan jemu, kini kedatangan wanita itu membangkitkan gairah tamunya. Dan memang, dibandingkan dengan gadis dusun yang sudah terbiasa melayani mereka dan bersikap genit-genit itu, wanita penjual kulit harimau ini jauh lebih unggul, baik dalam hal kemanisan wajah, kepadatan tubuh yang nampak menyembunyikan kekuatan dan kehangatan, maupun dalam sikap yang nampak alim.

"Ah, jadi engkau adalah isteri Hok-houw-kwi? Pinto mengenal baik suamimu itu. Apa, sudah mendiang? Duduklah nyonya muda, duduklah dan ceritakan kapan suamimu itu meninggal dunia," kata Thian-hwa Lo-su dengan sikap ramah.

Kim Lan menolak dengan sikap malu-malu, akan tetapi setelah dibujuk oleh para tokoh Pek-lian-kauw yang lain akhirnya duduklah ia di sebuah kursi, setelah ia menarik kursi itu agak menjauh dari meja dan dari para tokoh Pek-lian-kauw yang sedang duduk menghadapi masakan di atas meja yang panjang dan lebar itu. Diam-diam ia mengerling ke arah mereka dan dengan mudah ia dapat mengenal Tok-ciang Sian-jin seperti yang didengarnya dari Thian Sin. Seorang kakek berusia hampir tujuh puluh, masih nampak kuat dan tubuhnya tinggi kurus, mukanya pucat agak kehijauan, sepasang mata yang sipit seperti terpejam, dan jubahnya kuning. Yang berwajah dan bertubuh seperti itu hanya orang ini, maka tentu inilah Tok-ciang Sian-jin, pikirnya. Pendeta yang selalu menatapnya, yang tinggi kurus pula, mukanya seperti tikus, tentu bukan Tok-ciang Sian-jin. Maka, iapun cepat mencurahkan perhatian kepada tugasnya dan setelah duduk, ia diam saja menundukkan mukanya yang manis.

"Ceritakanlah, nyonya, bagaimana suamimu meninggal? Apakah meninggal ketika memburu binatang buas? Sudah lama sekali dia tidak pernah mengirim kulit binatang ke sini," desak pula ketua cabang Pek-lian-kauw itu sambil tersenyum melihat betapa Si Muka Tikus itu nampak makin tertarik setelah mendengar bahwa suami wanita ini telah meninggal dunia.

Didesak demikian, tiba-tiba saja sepasang mata Kim Lan yang bening itu menjadi basah dan ia menjawab dengan suara gemetar memancing rasa iba, "Suami saya... dan ayah saya... telah dibunuh oleh si keparat Pangeran Toan."

Ia sengaja memaki nama pangeran itu karena iapun tahu bahwa orang-orang Pek-lian-kauw ini amat membenci kaum bangsawan, hartawan, dan juga pemerintah.

"Toan-ong-ya...?" tanya ketua cabang Pek-lian-kauw itu dan semua orang memandangnya dengan penuh perhatian.

"Benar, totiang," kata wanita itu sambil menahan isaknya.

"Ahhh...! Tapi bukankah pangeran keparat ini baru-baru saja dibunuh oleh Pendekar Sadis? Demikian yang kami dengar!" Tiba-tiba Tok-ciang Sian-jin berkata dan diam-diam Kim Lan bergidik mendengar suara ini, suara yang mengandung getaran yang mengguncangkan jantungnya. Pendekar Sadis telah memberi tahu kepadanya bahwa pendeta ini memiliki kepandaian yang amat lihai.

"Saya juga sudah mendengar akan hal itu dan saya bersyukur karenanya. Siapapun yang membunuhnya, sakit hati saya akan kematian suami dan ayah saya telah terbalas!" katanya dan ia dapat membuat suaranya terdengar lega dan bersyukur.

"Eh, nyonya muda, kau belum menceritakan mengapa suamimu dan ayahmu dibunuh oleh pangeran itu, dan kapankah terjadinya hal itu?"

"Ayah saya dan suami saya dibunuh oleh kaki tangan pangeran itu, kurang lebih empat bulan yang lalu karena...karena... ketika saya diutus suami saya menjual kulit harimau ke sana, pangeran itu hendak memaksa saya menjadi selirnya... saya melarikan diri, dikejar kaki tangan pangeran itu. Ayah dan suami saya membela, akan tetapi mereka dibunuh dan saya berhasil melarikan diri dan bersembunyi. Setelah mendengar pangeran keparat itu dibunuh orang barulah saya berani keluar dari tempat persembunyian saya lagi."

Semua orang mengangguk-angguk. Akan tetapi ketua cabang Pek-lian-kauw itu tiba-tiba mengajukan pertanyaan, "Kalau mereka sudah mati, bagaimana engkau bisa memperoleh dua gulung kulit harimau ini?"

Hemm, ketua perkumpulan ini cerdik juga, pikir Kim Lan. Ia harus berhati-hati, karena kalau sampai bocor rahasianya, tentu ia akan mati tanpa dapat menghindarkan diri dari bahaya maut lagi.

"Setelah mendengar pangeran keparat itu tewas, saya berani keluar lagi dan bersama teman-teman pemburu yaitu bekas teman-teman suami saya, saya lalu melanjutkan pekerjaan suami saya. Kami berhasil menjebak dua ekor harimau dan karena kami memburu di hutan-hutan yang berdekatan dengan tempat ini, yaitu di lereng Tai-hang-san sebelah barat, saya lalu teringat kepada pesan suami saya untuk menjual hasil buruan, terutama kulit harimau ke dusun Tiong-king, di mana katanya ada ketua perkumpulan yang suka membelinya."

"Hemm, dia mengatakan ketua perkumpulan? Perkumpulan apa?" tanya ketua Pek-lian-kauw dengan kaget.

"Saya tidak tahu namanya, totiang, hanya dikatakan bahwa di dusun ini saya boleh minta menghadap ketuanya untuk menawarkan kulit-kulit ini. Maka saya berani datang ke sini karena menurut keterangan suami saya dahulu, para pendeta di sini berani membayar mahal dan juga bahwa mereka... semua manis budi dan gagah perkasa."

"Ha-ha-ha-ha!" Tiba-tiba pendeta muka tikus itu tertawa. "Sayang suamimu telah meninggal nyonya, kalau belum,tentu aku akan suka berkenalan dengan dia."

Melihat sikap tamunya, ketua cabang Pek-lian-kauw tertawa.

"Lo-te, kalau suaminya sudah meninggal, masih ada isterinya, bukankah boleh juga untuk berkenalan?"

Mereka semua tertawa, kecuali Tok-ciang Sian-jin. Pendeta ini memang sejak dahulu tidak suka kepada wanita. Dia lebih suka untuk mengajak seorang pria tampan menemaninya tidur. Dan mendengar bahwa suami dan ayah wanita ini terbunuh oleh Toan-ong-ya yang baru saja terbunuh oleh Pendekar Sadis, dia tidak merasa enak hati sungguhpun dia tidak dapat menghubungkan wanita ini dengan Pendekar Sadis.

"Nyonya muda, jangan khawatir. Dua gulung kulit harimau itu tentu akan kami beli dan kami akan membayar berapa saja harga yang kauminta. Akan tetapi, mengingat bahwa mendiang suamimu adalah sahabat baik kami, maka engkaupun merupakan sahabat baik kami dan engkau kami anggap sebagai seorang tamu yang terhormat. Mari masuk dan minum bersama kami, nyonya!"

Dan kepada para pelayan itu Thian-hwa Lo-su berteriak agar disediakan mangkok, sumpit dan cawan bersih.

"Ah, mana saya berani, totiang... ? Saya... tidak seharusnya saya..."

"Nyonya, kami dengan sungguh hati menghormatimu sebagai isteri bekas sahabat dari Thian-hwa Lo-su, mengapa engkau hendak menolaknya? Apakah engkau tidak mau menerima kebaikan kami?" Tiba-tiba pendeta yang bermuka tikus itu berkata sambil tersenyum penuh arti.

Sekali pandang saja Kim Lan yang sudah berpengalaman itu maklum apa yang berkecamuk dalam benak kepala yang seperti kepala tikus itu dan di dalam hatinya iapun tersenyum puas. Memang inilah yang dicarinya. Tanpa dapat mengait seorang di antara para pimpinan Pek-lian-kauw dengan kecantikannya, mana mungkin ia akan dapat menyelidiki tentang keadaan Tok-ciang Sian-jin itu? Dan Si Muka Tikus ini agaknya bukan seorang yang berkedudukan rendah, buktinya dia dapat bicara seolah-olah dia berkuasa di situ.

Mendengar ucapan tamunya ini, Thian-hwa Lo-su girang sekali. Terbuka jalan baginya untuk meyenangkan hati tamunya dan hal ini amat perlu karena dengan demikian maka tentu orang penting ini akan membuat laporan baik ke pusat tentang dirinya.

"Ha-ha-ha, engkau sungguh beruntung sekali, nyonya, telah menyenangkan hati tamu agung kami. Perkenalkanlah, Lo-te ini adalah Giok-lian-cu, seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan engkau tidak akan rugi berkenalan dengan dia."

Dengan lagak seorang wanita "baik-baik", Kim Lan akhirnya menerima ajakan makan minum itu dengan sikap malu-malu. Akan tetapi setelah makan minum beherapa cawan arak, wanita ini mulai tersenyum manis sekali kepada Si Muka Tikus. Wajahnya yang manis menjadi kemerahan, senyumnya makin lebar, tidak malu-malu lagi seperti tadi sehingga kalau tersenyum nampak deretan gigi putih rapi dan kadang-kadang nampak ujung lidahnya yang merah meruncing.

Giok-lian-cu, tosu Pek-lian-kauw yang seperti juga rekannya, biarpun sudah memakai pakaian pendeta namun masih menjadi hamba nafsu yang amat lemah, sudah menjadi tergila-gila kepada Kim Lan. Seorang janda yang sudah empat bulan ditinggal suaminya! Tentu saja bayangan ini lebih menarik daripada wanita-wanita dusun yang melayani mereka makan minum itu, yang biarpun tidak bersuami, namun setiap malam melayani para pimpinan Pek-lian-kauw ditempat itu secara bergilir.

Dan Kim Lan pandai jual mahal, bersikap seperti seorang wanita yang belum tahu apa-apa, dan hanya dengan bujukan dan seperti orang setengah terpaksa karena takut akhirnya ia membiarkan diririya digandeng dan setengah ditarik-tarik oleh tosu muka tikus itu memasuki kamar tamu yang sudah disediakan untuknya oleh para rekan-rekannya. Para tosu pimpinan cabang Pek-lian-kauw mengiringi mereka berdua yang masuk kamar itu dengan ketawa gembira, membuat Kim Lan mudah saja menjadi merah mukanya, yang sesungguhnya bukan merah karena malu-malu, melainkan karena marah!

Namun semua ini harus dilakukannya. Betapapun juga, ia harus berkorban untuk Pendekar Sadis. Bukan hanya karena pendekar itu telah mampu membalaskan sakit hatinya terhadap Pangeran Toan, melainkan juga karena ia amat takut kepada pendekar yang luar biasa kejamnya itu, dan disamping rasa takut, juga ia tunduk dan tergila-gila kepada pemuda itu setelah beberapa hari lamanya ia menjadi kekasih pemuda yang lihai, gagah dan juga kejam dan aneh itu. Ia sudah berjanji untuk membantu, untuk menyelidiki tempat persembunyian Tok-ciang Sian-jin dan tentang keadaan di sarang Pek-lian-kauw, dan satu-satunya jalan baginya untuk dapat berhasil tentu saja hanya dengan mengorbankan dirinya dan menggunakan kecantikannya untuk memikat hati seorang pimpinan Pek-lian-kauw.

LANJUT KE JILID 031--->
<---Kembali

Pendekar Sadis Jilid 029

Pendekar Sadis Jilid 029

<---Kembali

Sudah biasalah bagi orang-orang yang mengandalkan nama perkumpulan, sedikit-sedikit menyinggung kepada perkumpulannya di mana dia bersandar.

"Apakah engkau sudah bosan hidup?" bentak Si Codet dan diapun sudah menyerang dengan pukulan keras ke arah muka tukang obat itu.

Akan tetapi, tukang obat itu mengelak dan balas memukul ke arah lambung. Si Codet menangkis.

"Dukk...!" Dua lengan bertemu dan akibatnya mereka sama-sama terhuyung dan merasa lengan mereka nyeri.

Ini menandakan bahwa tenaga kedua orang ini berimbang. Si Codet yang merasa sebagai jagoan dan selama ini di kota raja belum pernah ada orang berani menentangnya, merasa penasaran dan menyerang lagi dengan cepatnya. Seperti para anggauta Hwa-i Kai-pang lainnya, dia juga mengandalkan ilmu silatnya, Ta-houw Ciang-hoat (Ilmu Silat Memukul Harimau). Gerakannya memang dapat cepat sekali dan setiap pukulannya mengandung tenaga yang cukup kuat.

Tukang obat itu harus mengeluarkan semua kepandaian untuk mengimbangi serangan-serangan lawannya yang ternyata tangguh itu. Mereka saling serang dan keadaan mereka seimbang, walaupun tukang obat itu merasa sibuk juga menghadapi ilmu silat yang lihai itu. Melihat betapa temannya belum juga mampu mengalahkan Si Tukang Obat, Si Muka Hitam menyerbu ke depan. Akan tetapi, dara itu berseru marah.

"Pengecut jangan main keroyok!" Dan iapun menerjang ke depan menyambut Si Muka
Hitam. Karena maklum betapa lihainya para pengemis ini, tukang obat itu berseru kepada puterinya agar mundur.

"Cin-ji, mundurlah, biarkan aku menghadapi mereka!"

Akan tetapi, tentu saja dara itu tidak mau mundur dan dengan cepat ia sudah menyerang Si Muka Hitam yang melayaninya sambil tertawa-tawa. Dan memang benarlah, kepandaian dara itu masih terlampau rendah untuk menandingi Si Muka Hitam, apalagi ia kalah tenaga. Setiap tangkisan Si Muka Hitam itu, lengannya terasa nyeri sekali dan ia terhuyung. Akhirnya, sebuah tendangan dari Si Muka Hitam mengenai lutut dara itu yang membuatnya terpelanting roboh. Kakinya terkilir dan dara itu tidak dapat berdiri lagi.

"Ha-ha-ha, malam nanti kupijiti kakimu yang terkilir, manis!" kata Si Muka Hitam yang kini cepat membantu temannya menghadapi Si Tukang Obat yang sudah terdesak.

Melawan Si Codet seorang saja dia sudah terdesak, apalagi setelah Si Muka Hitam maju. Mulailah Si Tukang Obat menerima pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang membuatnya babak bundas dan jatuh bangun. Namun, dia masih terus melawan sungguhpun setiap kali dia bangkit, hanya untuk menjadikan dirinya menjadi bulan-bulanan tendangan dan pukulan belaka.

"Ha-ha-ha, nah cobalah sekarang obati luka-lukamu dengan koyo itu! Ha-ha-ha!" Si Muka Hitam tertawa-tawa.

"Hayo kau ikut bersama kami!" Si Codet maju dan menangkap lengan dara yang masih duduk di atas tanah karena kakinya terkilir dan ia tidak mampu bangkit berdiri.

Ketika lengannya ditangkap, dara itu meronta-ronta sambil menangis. Akan tetapi, semua orang yang tadinya menjadi penonton, kini mundur dan tidak ada seorangpun yang berani melerai, apalagi menolong dara dan ayahnya itu.

Dunia sudah kacau,
dunia sudah gila
binatang buas
berkedok manusia
merajalela di kota raja
seenaknya tanpa ada yang berani
merintanginya.

Semua orang terheran-heran melihat seorang pemuda tampan berpakaian sasterawan, membawa kipas dan mengebut-ngebutkan kipas mengusir panas, membaca sajak dengan suara merdu, mendekati tempat dua orang pengemis Hwa-i Kai-pang itu bereaksi. Dua orang pengemis inipun melihat Si Pemuda dan mereka menjadi marah sekali.

"Heh, engkau inilah yang agaknya sudah gila. Hayo pergi, atau kupatahkan tulang-tulangmu bersama kipasmu!" bentak Si Muka Hitam yang sudah merasa lelah memukuli Si Tukang Obat dan kini agaknya hendak mencari sasaran lain untuk memamerkan kekuatannya.

Akan tetapi Thian Sin, pemuda itu, tidak mempedulikan Si Muka Hitam, melainkan menghampiri dara yang sudah dilepaskan oleh Si Codet yang kini juga memandang marah kepada Thian Sin yang dianggapnya mencampuri urusannya. Thian Sin tidak mempedulikan dua orang pengemis itu, melainkan menggunakan kipasnya yang ditutup untuk menotok ke arah kaki kiri dara itu.

"Tuk-tukk!"

Dua kali dia menotok dan dara itu merasa betapa kakinya sembuh kembali! Maka cepat iapun bangkit berdiri dan memandang heran kepada pemuda itu. Thian Sin menjura kepada dara itu.

"Nona, dua ekor anjing belang ini telah memukuli ayahmu dan bersikap kurang ajar kepadamu, mengapa engkau diam saja, nona. Engkau adalah seorang gadis yang pandai ilmu silat, mengapa dihina orang diam saja? Hayo kauhajar dua ekor anjing belang yang kurang ajar ini!" Berkata demikian, tanpa dilihat orang lain, Thian Sin mengedip kepada dara itu.

Entah apa yang menyebabkan dara itu seketika menjadi percaya sekali kepada Thian Sin. Mungkin melihat sikap aneh dari pemuda ini, dan mungkin pula melihat betapa dengan totokan kipasnya saja pemuda itu sudah mampu membuat kakinya yang terkilir menjadi sembuh kembali. Akan tetapi dara itu sudah meloncat ke depan menyerang kepada pengemis muka codet.

"Cin-ji... hati-hati...!" Ayahnya yang babak-belur itu memperingatkan karena dia tahu bahwa puterinya itu sama sekali bukan tandingan pengemis-pengemis yang lihai itu.

Akan tetapi betapa kaget hatinya melihat betapa pukulan tangan dara itu dengan tepat mengenai leher pengemis muka codet.

"Plakkk!" Pukulan itu cukup keras sehingga kepala Si Codet itu sampai miring dan tubuhnya terhuyung ke belakang.

"Bagus nona! Itu anjing belang muka hitam minta bagian!" seru Thian Sin dengan suara gembira.

Semua orang yang melihat peristiwa ini menjadi terheran-heran, juga tukang obat sendiri. Kini, mendapatkan semangat baru karena hasil pukulannya tadi dan mendengar dorongan pemuda sasterawan, dara itu menyerang dengan tendagan kaki ke arah perut Si Muka Hitam.

"Desss...!" Si Muka Hitam terjengkang dengan mata terbelalak dan muka merah, memegangi bagian perutnya yang tertendang karena terasa nyeri.

Si Codet dan Si Muka Hitam sudah bangkit lagi, mata mereka terbelalak karena tanpa ada yang tahu, mereka tadi tentu saja tidak membiarkan dirinya ditampar dan ditendang oleh nona itu, akan tetapi sungguh luar biasa, setiap kali mereka hendak menggerakkan tangan atau kaki untuk menangkis atau mengelak, tubuh mereka mogok dan tidak dapat digerakkan sehingga tentu saja pukulan dan tendangan gadis itu selalu tepat mengenai sasaran dan tubuh mereka terpelanting atau terhuyung, mereka mampu bergerak lagi!

Dara itu menjadi gembira bukan main melihat betapa setiap pukulan dan tendangannya mengenai sasaran. Maka dia terus menyerang kedua orang pengemis itu bergantian, dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan sekuatnya. Akibatnya, tubuh kedua orang pengemis itu jatuh bangun seperti ketika ayahnya dihajar tadi. Sementara itu, tentu saja semua itu disebabkan oleh Thian Sin yang mempergunakan kepandaiannya sehingga kedua orang pengemis itu tidak berdaya. Dan mulutnya terus memberi anjuran kepada dara itu, "Terus, nona. Hantam terus! Atau lebih baik gunakan kaki saja. Mereka itu tidak pantas bersentuhan dengan tanganmu, lebih baik gunakan sepatu menghajar muka mereka!"

Dan dara itu pun menurut. Agaknya Thian Sin melihat bahwa dara itu memiliki ilmu tendangan yang baik sekali, maka dia memberi anjuran demikian. Dan kini, orang-orang melihat betapa kedua kaki dara itu bergantian menyambar-nyambar dan setiap kali menyambar, tentu mengenai muka kedua orang pengemis sehingga hidung dan mulut mereka berlumuran darah! Dua orang pengemis itu kini mencabut pedang masing-masing. Akan tetapi, tetap saja setiap kali tendangan tiba, mereka tidak mampu bergerak dan akhirnya, setelah muka mereka bengkak-bengkak dan berdarah, keduanya lari meninggalkan tempat itu.

"Heiii, ini pedang kalian tertinggal!" Thian Sin berseru dan mengambil dua batang pedang mereka yang memang tadi terlepas dari pegangan dan mereka tinggalkan.

Sekali mengayun tangannya, Thian Sin melepaskan dua batang pedang itu yang menyambar seperti dua batang anak panah ke arah dua orang pengemis itu. Terdengar dua orang pengemis itu menjerit dan mendekap telinga kiri mereka yang telah buntung disambar pedang mereka sendiri dan kini mereka melarikan diri seperti dikejar setan saking merasa ngeri takutnya!

Thian Sin cepat menghampiri tukang obat. "Paman, cepat kau ajak puterimu keluar dari kota ini. Cepat sebelum mereka ini datang. Biarkan aku menghadapi mereka!"

Tukang obat itu tadi telah maklum bahwa pemuda inilah yang membantunya, dan diapun dapat menduga bahwa pemuda ini adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali. Maka diapun memberi hormat dan mengajak puterinya berlutut di depan Thian Sin.

"Taihiap telah menolong kami, mohon tahu siapa nama taihiap yang mulia."

Thian Sin tersenyum dan membangkitkan mereka, "Bangunlah dan pergilah cepat. Namaku, tidak ada artinya, kelak kalian akan tahu sendiri. Sudahlah, paman. Pergilah cepat kalau paman ingin melihat puterimu selamat."

Tukang obat itu kembali menghaturkan terima kasih, kemudian membawa barang-barang mereka dan pergi bersama puterinya yang merasa berterima kasih dan kagum sekali kepada Thian Sin. Pemuda ini tidak pergi, malah duduk di atas tanah dengan tenang.

Melihat ini, orang-orang yang merasa takut akan pembalasan para pengemis, sudah meninggalkan tempat itu, takut terbawa-bawa. Dan beberapa orang memberi nasihat kepadanya agar cepat pergi. Akan tetapi pemuda itu menggeleng kepala dan tertawa.

"Aku memang menanti mereka," katanya seenaknya lalu pemuda ini bernyanyi-nyanyi gembira.

Orang-orang menjadi semakin khawatir, akan tetapi karena takut tersangkut, akhirnya mereka pergi dan hanya berani nonton dari jarak jauh saja. Tak lama kemudian, muncul lima orang pengemis yang usianya kurang lebih lima puluh tahun bersama Si Muka Hitam yang kepalanya sudah dibalut dan telinganya yang buntung tertutup kain pembalut. Si Muka Hitam tidak bicara hanya menuding ke arah Thian Sin. Lima orang pengemis itu meloncat dengan gerakan ringan sekali dan mereka telah berdiri mengepung Thian Sin.

Sikap mereka itu hati-hati sekali dan dari gerakan mereka tahulah Thian Sin bahwa kepandaian mereka jauh lebih tinggi daripada tingkat dua orang pengemis yang dihajarnya melalui kaki nona penjual koyo tadi. Akan tetapi dia masih enak-enak saja, tersenyum-senyum memandang kepada mereka.

"Inikah manusianya yang berani menghina anggauta Hwa-i Kai-pang?" bentak seorang di antara mereka.

"Manusia bosan hidup!" teriak yang ke dua.

"Bocah setan, hayo mengaku siapa namamu sebelum kami mengantarkanmu ke neraka jahanam!" tertak orang ke tiga.

Thian Sin masih berdiri sambil tersenyum, menurunkan kedua tangannya yang tadi bertolak pinggang dan kini dia menggerak-gerakkan kedua tangannya sambil menengadah dan bersajak dengan suara merdu, kepalanya juga bergerak-gerak menurutkan irama kata demi kata yang keluar dari mulutnya.


Yang lemas mengalahkan yang kaku
yang halus mengalahkan yang kasar
yang lunak mengalahkan yang keras
yang lemah mengalahkan yang kuat
Siapa bilang Hwa-i Kai-pang menyalahgunakan kekuatan
yang macam ini harus dihadapi
dengan kaku, kasar, keras, kuat dan berani

Lima orang itu menjadi marah sekali, akan tetapi juga terheran-heran melihat ada seorang pemuda yang begini berani menantang Hwa-i Kai-pang di kota raja! Baru mengingat akan kekuasaan dan pengaruh Hwa-i Kai-pang sudah membuat partai-partai persilatan besar tidak berani bersikap sembarangan, apalagi hanya seorang manusia saja. Belum lagi diingat bahwa perkumpulan ini dilindungi oleh pemerintah sehingga menentang Hwa-i Kai-pang bias berhadapan dengan pasukan keamanan pemerintah!

"Hayo mengaku siapa namamu agar engkau tidak mampus sebagai manusia tanpa nama!"

"Huh, manusia ini agaknya sudah gila dan tidak berani mengakui nama sendiri!"

Thian Sin tersenyum, lalu menjawab dengan suara tetap merdu seperti orang bernyanyi. "Namaku memang tidak berharga namun kalian anjing-anjing hina terlampau rendah untuk mengenalnya

Inilah penghinaan yang sudah dianggap keterlaluan oleh lima orang pengemis itu. Mereka itu adalah lima orang anggauta Hwa-i Kai-pang yang tingkatnya sudah cukup tinggi, yaitu anggauta tingkat tiga yang sudah merupakan pengurus-pengurus perkumpulan itu. Bukan hanya itu saja, juga mereka ini telah menjadi satu pasukan yang disegani dalam Hwa-i Kai-pang, yaitu Ngo-lian-tin (Barisan Lima Teratai).

Di dalam Hwa-i Kai-pang, selain terdapat ilmu silat tongkat yang merupakan inti dari ilmu tongkat para pimpinan perkumpulan itu, yaitu yang dinamakan Ta-houw Sin-pang (Ilmu Tongkat Sakti Memukul Harimau) yang juga dapat diubah menjadi Sin-ciang (Tangan Sakti), juga terdapat semacam ilmu tongkat yang bernama Ngo-lian Pang-hoat (Ilmu Tongkat Lima Teratai). Para pengurus Hwa-i Kai-pang semua menguasai Ilmu Tongkat Lima Teratai ini, akan tetapi hanya mulai dari tingkat tiga sajalah yang mampu mempergunakan ilmu tongkat itu untuk membentuk Ngo-lian-tin, yaitu semacam barisan atau kerja sama dari lima orang yang mempergunakan Ngo-lian Pang-hoat untuk mengeroyok lawan dengan kerja sama yang amat teratur, baik dan tangguh sekali.

Mendengar penghinaan Thian Sin yang memaki mereka sebagai anjing-anjing hina yang terlampau rendah untuk mengenal namanya, lima orang itu tak dapat menahan kemarahan mereka lagi. Tongkat di tangan mereka bergerak disusul gerakan tubuh mereka dan dengan gerakan indah namun gagah sekali mereka itu telah mengepung Thian Sin dari lima jurusan, dengan tongkat yang digerakkan secara berantai dan saling "mengisi" sehingga merupakan kekuatan yang dahsyat. Namun, Thian Sin masih tersenyum saja. Hatinya gembira bukan main bahwa akhirnya dia dapat berhadapan dengan orang-orang Hwa-i Kai-pang.

Sebetulnya, dia tidak mempunyai urusan dengan Hwa-I Kai-pang dan yang dicarinya adalah dua orang tokoh besarnya yang kini menjadi ketuanya. Akan tetapi mengingat bahwa mereka ini adalah anak buah dari dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang yang menjadi musuhnya itu, maka hatinya gembira untuk melayani mereka.

"Mari, mari, ingin kulihat bagaimana kalian membadut dengan tongkat-tongkat butut itu!" katanya dengan nada penuh ejekan.

Tiba-tiba lima orang itu mengeluarkan seruan keras dan tongkat mereka sudah menyambar, menusuk dari lima penjuru. Gerakan mereka memang cepat dan kuat, dan yang diserang adalah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dan cara menyerangnya juga bertubi-tubi, susul-menyusul sehingga merupakan kerjasama yang baik dan serangan itu amatlah berbahaya bagi lawan. Thian Sin maklum akan hal ini, akan tetapi karena dia hendak mempermainkan mereka, diapun mempergunakan kegesitannya, mengelak dan menangkis setiap tusukan tanpa berusaha merusak tongkat mereka, bahkan dia memperlihatkan diri seperti orang terdesak. Tiba-tiba tongkat-tongkat yang luput menusuk tubuhnya itu membuat gerakan aneh dan tahu-tahu lima batang tongkat itu telah membentuk sebuah kurungan yang menghadangnya dan menutup semua jalan keluarnya, karena tongkat-tongkat itu malang-melintang saling tindih dan saling sambung membuat sebuah ruang di tengah-tengah di mana Thian Sin berdiri. Pemuda itu seolah-olah telah terkurung atau tertangkap oleh lima batang tongkat itu!

Thian Sin menekan tongkat-tongkat itu dan meloncat keatas, akan tetapi tongkat-tongkat itu melayang mengikutinya dan tahu-tahu seperti hendak "meringkus" kedua kakinya. Melihat ini, Thian Sin berjungkir-balik, menghalau tongkat-tongkat itu dengan kedua tangan dan meminjam tenaga mereka untuk meloncat lagi ke depan, sehingga dia terlepas dari kepungan tongkat. Akan tetapi, lima orang itu bergerak cepat, berloncatan lagi dan tahu-tahu dia telah terkurung lagi!

Diam-diam Thian Sin merasa kagum. Memang indah sekali dan juga tangguh sekali gerakan dari Ngo-lian-tin ini, dan tongkat mereka ini memang sudah mencapai tingkat yang cukup kuat sehingga jago-jago silat biasa saja jangan harap akan mampu melawan mereka. Bahkan pendekar yang sudah pandaipun akan bingung menghadapi kepungan tongkat-tongkat yang dapat bergerak otomatis dan amat rapi bekerja sama ini. Ketika kembali dia terkepung oleh tongkat-tongkat yang saling tindih itu, dia mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Hei, jembel-jembel busuk. Aku muak dengan main-main ini. Dengarlah, aku akan menyerah asal kalian membawaku menghadap ketua kalian!"

"Menghadap ketua kami sebagai mayat!" bentak seorang di antara mereka dan tanpa merusak "kurungan" itu, dia sudah menarik tongkatnya dan menggunakan tongkatnya menusuk ke arah pusar pemuda itu yang nampaknya sudah terkurung dan tidak mampu bergerak lagi. Thian Sin tersenyum dan mendiamkan saja bawah perutnya ditusuk. Dia hanya menurunkan sedikit tubuhnya dan menerima tusukan tongkat itu dengan perutnya sambil mengerahkan sedikit tenaga.

"Krekkk!" Dan tongkat yang bertemu dengan perutnya itupun patah-patah menjadi tiga potong saking kerasnya pengemis yang memegangnya tadi menusuk.

Terkejutlah pengemis itu, juga empat orang kawannya. Mereka menarik tongkat masing-masing dan kini kembali mereka menyerang, ada yang memukul kepala, ada yang menusukkan tongkatnya, semua itu dilakukan dengan beruntun, juga pengemis yang kehilangan tongkatnya itu menerjang dengan pukulan tangannya. Terdengar suara keras patahnya tongkat-tongkat itu dan ternyata empat batang tongkat itu semua patah-patah, sedangkan pengemis yang menghantamkan tangannyapun berteriak kesakitan karena tulang jari tangannya juga patah! Kini mereka berlima yang masih berdiri mengepung Thian Sin memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak. Pemuda itu tersenyum tenang.

"Bagaimana? Apakah kalian masih belum puas dan hendak main-main terus? Ataukah mau membawaku menghadap ketua kalian sebagai tawanan?"

Lima orang pengemis itu bukanlah orang-orang bodoh. Mereka sudah tahu bahwa sesungguhnya pemuda ini adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali. Kekalahan mereka merupakan tamparan bagi mereka, maka kalau mereka dapat membawa pemuda ini sebagai tawanan, hal itu bukan hanya berarti menebus kekalahan yang memalukan itu, akan tetapi juga mereka tidak akan mendapat kemarahan dari ketua mereka. Dan betapapun lihainya pemuda ini, kalau sudah berhadapan dengan dua orang ketua mereka, akan dapat berbuat apakah?

"Sebagai tawanan katamu? Jadi engkau mau untuk kami tangkap, kami ikat dan kami bawa kepada ketua kami?" Tanya pengemis berhidung pesek yang agaknya menjadi pemimpin mereka berlima.

Thian Sin berpikir bahwa agaknya tidak akan mudah baginya untuk bertemu dengan dua orang musuh besarnya itu. Biarpun dia dapat memancingnya, namun yang akan keluar tentulah para pembantunya dan dua orang itu sebagai orang yang berkedudukan tinggi, ketua Hwa-i Kai-pang yang agaknya telah menjadi perkumpulan yang besar dan berpengaruh sekali di kota raja, agaknya tidak akan sembarangan keluar dari sarang dan untuk mencari mereka ke sarang merekapun bukan merupakan hal mudah karena menurut penyelidikannya, kai-pang itu kini dekat dengan pemerintah dan tentu saja akan bisa memperoleh bantuan pasukan penjaga, dan kalau sudah demikian, akan semakin sukarlah baginya untuk dapat berhadapan dengan mereka. Maka diapun mengambil keputusan cepat.

"Baik, kau boleh bawa aku sebagai tawanan, boleh mengikat kedua tanganku kalau perlu," jawabnya.

Lima orang pengemis itu menjadi girang. Mereka lalu mempergunakan tali yang kuat untuk mengikat kedua pergelangan Thian Sin ke belakang tubuhnya. Baru saja ikatan yang amat kuat itu selesai, Thian Sin sudah berkata.

"Akan tetapi, jangan kalian main-main. Lihat, aku akan dapat melepaskan diri dengan mudah kalau kalian main gila." Dan sekali dia menggerakkan kedua tangan... ternyata kedua tangannya itu telah terlepas dari ikatan tali tanpa membuat tali itu putus!

Tali itu jatuh ke atas tanah begitu saja. Tentu saja lima orang pengemis itu terkejut bukan main dan muka mereka menjadi pucat sekali. Mereka tidak tahu bahwa pemuda ini tadi telah mempergunakan kekuatan sihirnya sehingga biarpun mereka merasa telah membelenggu kedua tangan itu, sebenarnya kedua tangan pemuda itu sama sekali tidak terikat, maka dengan mudah Thian Sin dapat membebaskan kedua tangannya. Bagi pemuda ini diikat atau tidak sama saja karena biarpun kedua tangannya terikat secara sungguh-sungguh sekalipun, dengan mudah dia akan dapat membikin putus tali-tali itu.

"Tidak... kami tidak main-main..." kata Si Hidung Pesek.

"Nah, ikatlah lagi baik-baik kalau begitu dan antar aku menemui ketua kalian."

Lima orang pengemis itu lalu mengikat lagi kedua pergelangan tangan Thian Sin ke belakang tubuhnya, kemudian pemuda ini lalu mereka giring menuju ke sarang mereka. Di sepanjang perjalanan, banyak orang menonton iring-iringan ini. Tidak aneh melihat orang-orang Hwa-i Kai-pang menganiaya orang. Akan tetapi sekali ini lain. Pemuda itu tidak kelihatan berduka atau ketakutan. Sebaliknya malah, lima orang pengemis yang menggiringnya itu, yang oleh banyak orang terkenal sebagai tokoh-tokoh tinggi Hwa-i Kai-pang, berjalan di depan dan belakang pemuda itu dengan wajah muram dan pendiam, nampak serius sekali, sedangkan si pemuda yang menjadi tawanan mereka itu tersenyum-senyum, bahkan kelihatan bernyanyi-nyanyi kecil! Tentu saja hal ini membuat semua orang menjadi terheran-heran dan ada yang mengira bahwa pemuda tampan yang berpakaian mewah itu tentu telah menjadi gila!

Tempat yang menjadi pusat atau sarang Hwa-i Kai-pang sekarang jauh berbeda dengan dahulu sebelum perkumpulan pengemis itu dekat dengan kekuasaan kaisar. Tempat itu berada di luar pintu gerbang sebelah timur, merupakan bangunan yang cukup besar, terdiri dari rumah-rumah kecil mengelilingi bangunan besar yang menjadi tempat tinggal dua orang ketua mereka. Dan di sekeliling perumahan itu terdapat pagar tembok yang tinggi dan tebal, seperti keadaan sebuah benteng saja. Pintu tembok itupun tebal dan dijaga ketat oleh pengemis-pengemis yang lagaknya seperti penjaga di pintu gerbang istana saja, setiap orang pengemis memegang sebuah tongkat.

Diam-diam Thian Sin merasa girang bahwa dia telah mempergunakan siasat membiarkan dirinya ditawan ini. Harus diakuinya bahwa biarpun dengan mudah dia akan dapat melewati tembok itu dan menyerbu ke dalam, namun belum tentu dia akan bisa mencari dua orang ketua itu kalau mereka menyembunyikan diri atau melarikan diri. Dengan akalnya yang sekarang, dia malah akan dibawa menghadap mereka, jadi dia tidak perlu mencari lagi! Jantungnya berdebar tegang ketika dia dibawa melalui lorong di mana terdapat pengemis-pengemis yang berjaga-jaga.

Beberapa orang pengemis tua memandang heran dan ada yang bertanya kepada lima orang tokoh pengemis yang menangkap pemuda itu. Mereka menjawab dengan singkat bahwa pemuda itu adalah tawanan mereka yang hendak mereka hadapkan kepada ketua. Jawaban ini saja sudah dapat dimengerti oleh para rekan mereka itu bahwa tangkapan itu adalah orang penting maka harus dihadapkan dengan ketua sendiri. Betapapun juga, para tokoh Hwa-i Kai-pang dari tingkat tiga ke atas menjadi tertarik dan merekapun ikut pula mengawal pemuda itu memasuki bangunan besar untuk menghadap ketua. Mereka semua ingin mendengar dan melihat karena mereka dapat menduga bahwa pemuda itu tentulah orang yang penting maka oleh lima orang rekan itu dibawa menghadap ketua.

Pada waktu itu, Hwa-i Kai-pang merupakan perkumpulan yang kuat. Para anggauta pimpinan terdiri dari dua orang ketuanya, para murid tingkat dua yang jumlahnya ada enam orang, yaitu murid-murid kepala yang digembleng oleh dua orang ketua itu sendiri, lalu lima belas orang murid yang ilmu silatnya lebih rendah daripada murid-murid kepala, akan tetapi lima belas orang murid tingkat tiga ini telah membentuk Ngo-heng-tin yang tangguh dan biasanya merupakan inti kekuatan Hwa-i Kai-pang kalau menanggulangi urusan yang memerlukan kekerasan.

Kini, melihat adanya seorang pemuda yang tampan dan kelihatan gagah menjadi tawanan dan diajukan kepada ketua, hal yang jarang terjadi, semua murid tingkat dua dan tiga yang kebetulan berada di tempat itu segera berkumpul dan ikut pula menghadap. Tentu saja murid-murid lain yang lebih rendah tingkatnya tidak berani ikut memasuki ruangan di mana terdapat ketua mereka. Murid-murid tingkat rendah ini tidak berani menghadap tanpa dipanggil.

Pada waktu itu, yang kebetulan berada di sarang ada tiga orang murid tingkat dua dan sepuluh orang murid tingkat tiga, atau dua Ngo-lian-tin berikut yang menawan Thian Sin. Mereka memasuki sebuah ruangan yang luas, karena ruangan ini selain merupakan ruangan untuk persidangan para pimpinan, juga merupakan sebuah lian-bu-thia di mana mereka biasa berlatih silat.

Thian Sin yang dibawa memasuki ruangan ini memandang dengan penuh perhatian. Dia melihat betapa ruangan yang luas itu cukup mewah, dihias dengan lukisan-lukisan dan di sudut terdapat rak-rak terisi segala macam senjata. Biarpun keistimewaan para pengemis ini adalah memainkan tongkat, namun sebagai ahli-ahli silat tinggi mereka juga melatih diri dengan senjata lain sehingga mereka tidak akan merasa asing apabila berhadapan dengan lawan yang mempergunakan lain macam senjata.

Di sudut ruangan itu nampak dua orang kakek yang tengah duduk berhadapan dengan santai dan bercakap-cakap. Sebagai ketua perkumpulan yang intinya adalah ilmu silat, maka dua orang ketua ini tidak pernah dikawal dan kini mereka duduk berdua saja di ruangan itu dan baru mereka mengangkat muka memandang ketika para murid datang menghadap membawa seorang pemuda yang tidak mereka kenal.

Thian Sin memperhatikan dua orang kakek itu. Yang seorang bertubuh kurus sekali, seperti tulang dibungkus kulit saja, mukanya penuh keriput dan pucat, nampak sudah tua sekali dan kiranya kakek ini tidak akan kurang dari tujuh puluh tahun lebih, mukanya hitam seperti pantat kwali, sungguh merupakan kebalikan dari muka kakek pertama, akan tetapi anehnya, kakek bermuka hitam ini mempunyai kulit tangan yang putih. Melihat keadaan mereka, Thian Sin dapat menduga bahwa tentu kakek tua renta itu adalah Lo-thian Sin-kai sedangkan yang kedua adalah sutenya yang bernama atau berjuluk Hek-bin Mo-kai.

Jantungnya berdebar karena tegangnya dan juga marah. Jadi dua orang inilah yang telah membantu Kerajaan Beng untuk mengeroyok dan ikut membunuh ayah bundanya! Tiga belas orang tingkat dua dan tiga itu berlutut di atas lantai menghadap dua orang kakek yang masih duduk di atas kursi itu. Akan tetapi ketika lima orang pengemis itu mendorong Thian Sin untuk berlutut, pemuda ini tetap berdiri saja sambil memandang ke arah dua orang kakek itu dengan sinar mata tajam penuh selidik.

"Apa artinya ini? Siapakah bocah yang kalian bawa ini?" Hek-bin Mo-kai menegur dengan suara tidak senang melihat sikap pemuda itu yang demikian angkuh.

Biarpun pemuda itu tampan dan gagah, memakai pakaian mewah seperti seorang pelajar tinggi, akan tetapi berhadapan dengan dua orang ketua Hwa-i Kai-pang dengan sikap demikian angkuh sungguh merupakan suatu sikap yang kurang ajar. Si Hidung Pesek, pemimpin dari Ngo-lian-tin itu, cepat memberi hormat, "Harap ji-wi pangcu sudi memaafkan kami. Pemuda ini telah membuat kacau di lapangan dekat pasar, membela penjual koyo yang berani membuka dagangan tanpa ijin kita, bahkan pemuda ini telah memukul dan membuntungi telinga dua orang anak buah kita. Maka kami lalu datang dan kami menangkapnya untuk kami bawa menghadap ji-wi pangcu dan mohon keputusan ji-wi pangcu terhadap dirinya."

Mendengar laporan itu, Hek-bin Mo-kai yang wataknya berangasan itu menjadi marah. Terutama dia mendongkol mendengar ada orang berani membuntungi telinga kedua orang anak buah Hwa-i Kai-pang.

"Hemm, urusan sepele begini saja kalian tidak dapat memutuskan sendiri dan harus minta keputusan kami? Tolol! Dia telah mengacau, dia telah menghina anak buah kita, mau apa lagi? Kalau dia membuntungi telinga anak buah kita, nah, buntungi kedua telinganya dan cokel kedua mata itu yang seperti mata setan!"

Mendengar perintah ini, para tokoh yang lain mengangguk-angguk setuju, akan tetapi lima orang pengemis yang tadi menggiring Thian Sin masuk saling pandang dengan muka pucat. Si Hidung Pesek menjadi serba salah maka diapun tak dapat berlagak telah menangkap pemuda itu lagi.

"Tapi... tapi... pangcu, dia... dia itu lihai sekali dan kami tidak akan dapat melaksanakan perintah itu."

Kini dua orang ketua itu mengangkat muka memandangnya penuh keheranan, juga merasa marah dan terkejut.

"Apa? Dan kalian bukankah telah meringkusnya dan menyeretnya ke sini?" yang bertanya ini adalah Lo-thian Sin-kai, suaranya halus dan sikapnya hati-hati, kini memandang penuh kecurigaan kepada lima orang anak buahnya itu, juga kepada Thian Sin.

"Mohon maaf sebesarnya dari ji-wi pangcu," Si Hidung Pesek berkata, suaranya gemetar. "Sesungguhnya... kami berlima telah dikalahkan oleh pemuda ini... dan dia... dia sendiri yang minta agar dibelenggu dan dibawa menghadap ji-wi pangcu."

Dua orang ketua Hwa-i Kai-pang itu terkejut bukan main. Kiranya pemuda ini dapat mengalahkan Ngo-lian-tin! Akan tetapi mengapa lalu menyerah dan minta ditangkap? Apa yang tersembunyi di balik sikap aneh ini? Kini kedua orang ketua itu bangkit dari tempat duduk mereka, memandang tajam kepada Thian Sin.

"Orang muda, siapakah engkau?" Lo-thian Sin-kai bertanya, suaranya halus. "Apa maksudmu mengacau anak buah kami lalu minta dihadapkan kepada kami?"

Dengan kedua tangan masih terbelenggu ke belakang tubuhnya, Thian Sin menjawab sambil tersenyum, akan tetapi sepasang matanya mencorong seperti hendak membakar kedua orang pengemis tua itu!

"Kalian adalah Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai, benarkah?"

"Benar!" bentak Hek-bin Mo-kai. "Dan siapakah engkau, pemuda sombong?"

"Ha-ha-ha!" Thian Sin tertawa girang setelah mendapatkan kepastian bahwa dua orang inilah musuh besar yang dicari-carinya. "Kuberitahukan namakupun kalian tidak akan mengenalnya. Akan tetapi kalian tentu mengenal nama Pangeran Ceng Han Houw dan isterinya yang bernama Li Ciauw Si, bukan?"

Seketika pucat wajah kedua orang kakek pengemis itu mendengar disebutnya nama ini. Semenjak mereka berdua ikut mengeroyok dan membunuh pangeran itu bersama isterinya, mereka dapat mengangkat nama Hwa-i Kai-pang sebagai perkumpulan yang tidak lagi dimusuhi oleh kerajaan, bahkan dianggap berjasa dan memperoleh kekuasaan dan pengaruh. Akan tetapi, sering kali mereka bermimpi buruk karena mereka tahu bahwa pangeran itu adalah seorang yang amat sakti dan isterinya adalah keluarga dari Cin-ling-pai. Kalau saja Cin-ling-pai berusaha membalas kematian itu! Mereka sering merasa ngeri dan ketakutan, maka mereka lebih banyak bersembunyi dan berlindung di balik kekuasaan kaisar. Setelah lewat bertahun-tahun dan tidak ada usaha dari fihak Cin-ling-pai untuk mengganggu mereka, hati mereka mulai tenang sungguhpun mereka lebih menikmati kedudukan mereka itu dengan bersenang-senang di dalam sarang yang terjaga kuat itu daripada berkeliaran di luar.

Maka, sungguh amat mengejutkan hati mereka ketika pemuda ini bicara tentang Pangeran Ceng Han Houw dan isterinya!

"Siapakah engkau? Apa maksudmu bicara tentang orang yang sudah mati?" tanya Hek-bin Mo-kai sambil berusaha menyembunyikan getaran suaranya di balik bentakan marah yang tidak sangat berhasil.

"Pandanglah baik-baik. Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai. Aku adalah putera tunggal mereka!" Dia berhenti sebentar, menikmati kekagetan yang membayang di wajah-wajah yang pucat itu. "Dan tak perlu kiranya kujelaskan mengapa aku datang mencari kalian, bukan?"

Dua orang ketua Hwa-i Kai-pang itu terbelalak, akan tetapi mereka bukanlah orang lemah. Apalagi di situ terdapat tiga belas orang murid-murid mereka yang boleh diandalkan, dan juga bukankah pemuda itu dalam keadaan terbelenggu kedua tangannya?

"Bentuk dua Ngo-lian-tin dan bekuk pemuda ini!" bentak Hek-bin Mo-kai, memerintah kepada sepuluh orang murid tingkat tiga itu.

Biarpun lima orang yang tadi menggiring Thian Sin pernah merasakan kelihaian pemuda ini dan mereka merasa gentar, namun kini mereka berada di kandang sendiri. Di situ terdapat dua orang guru dan ketua mereka, juga teman-teman mereka yang lihai, maka timbul pula keberanian mereka, bahkan mereka hendak mempergunakan kesempatan ini untuk membalas kekalahan mereka tadi. Cepat mereka lari ke rak senjata dan menyambar tongkat-tongkat yang banyak terdapat di situ, kemudian bersama Ngo-lian-tin yang kedua, mereka sudah membentuk barisan lima teratai dan mengurung Thian Sin.


Pemuda ini masih belum melepaskan belenggu kedua tangannya. Dia berdiri menghadapi pengepungan dua barisan Ngo-lian-tin itu dengan tenang sekali dan masih tersenyum-senyum saja. Kepada Si Hidung Pesek dia berkata, "Sekali ini aku tidak akan mengampuni kalian."

Dan dia masih saja belum melepaskan diri dari belenggu kedua tangannya, seolah-olah dia hendak menunjukkan bahwa untuk menghadapi kedua barisan Ngo-lian-tin itu dia tidak membutuhkan kedua lengannya! Melihat hal ini, tentu saja Si Hidung Pesek melihat keuntungan dan cepat dia memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk cepat bergerak. Maka mulailah Ngo-lian-tin pertama itu bergerak menyerang sedangkan Ngo-lian-tin ke dua juga mendesak dan membantunya.

Thian Sin mempergunakan kecepatan gerak tubuhnya untuk mengelak dan berloncatan ke sana-sini, dan sungguhpun kedua tangannya masih terbelenggu, namun dia kelihatan seenaknya dan mudah saja menghindarkan semua sambaran tongkat. Akan tetapi, kini sepuluh batang tongkat panjang itu bekerja sama dan diapun terkurung oleh gulungan sinar tongkat yang makin lama makin menyempit dan akhirnya tubuhnya sudah tertutup rapat oleh tongkat-tongkat itu dari segenap penjuru. Akan tetapi sambil tertawa, Thian Sin meloncat lurus ke atas untuk membebaskan diri dari kepungan tongkat-tongkat itu.

Sepuluh orang itu bergerak dengan cepat, tahu-tahu tubuh Thian Sin di udara telah tertahan dan terjepit oleh tongkat-tongkat itu! Keadaan Thian Sin seolah-olah sudah tidak berdaya lagi karena tubuhnya tertahan di udara oleh tongkat-tongkat itu yang malang-melintang dan menghimpitnya.

Terdengar Hek-bin Mo-kai tertawa senang menyaksikan hal ini. Akan tetapi tiba-tiba saja terdengar suara melengking tinggi dan tubuh Thian Sin meronta, kedua kakinya bergerak-gerak dan terpelantinglah sepuluh orang itu, tongkat mereka beterbangan jauh ke kanan kiri menimpa dinding-dinding ruangan yang luas itu, sedangkan sepuluh orang yang terpelanting itupun mengaduh-aduh karena beberapa di antara mereka terkena tendangan kaki Thian Sin yang kini sudah turun kembali sambil tersenyum-senyum.

Hek-bin Mo-kai maklum akan kelihaian pemuda itu, maka diapun mengeluarkan seruan nyaring, memerintahkan tiga orang murid kelas dua untuk mengeroyok. Tiga orang pengemis tua ini adalah murid-murid kepala yang telah memiliki tingkat kepandaian tinggi. Mereka lalu menerjang maju sambil menggerakkan tongkat mereka. Melihat gerakan ini dan mendengar suara angin pukulan tongkat mereka, Thian Sin maklum bahwa tiga orang ini telah memiliki kepandaian tinggi, apalagi di situ terdapat dua orang ketua Hwa-i Kai-pang yang sudah mulai memutar tongkat masing-masing pula.

Sambil tertawa Thian Sin lalu menggerakkan kedua tangannya dan putuslah tali pengikat pergelangan tangannya tadi. Sekali dia menggerakkan kedua tangan yang memegang tali, maka tali itu seperti seekor ular saja menyambar ke depan. Terdengar pekik mengerikan ketika tiga orang pengemis, termasuk Si Hidung Pesek, terjengkang roboh dengan kepala pecah terkena tali yang disambitkan Thian Sin itu.

Tentu saja semua orang terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa pemuda itu sedemikian lihainya sehingga sambitan tali bekas belenggu tangannya saja sudah berhasil membunuh tiga orang anggauta Ngo-lian-tin yang lihai! Dan mulailah Thian Sin mengamuk! Dia dikeroyok lima, yaitu oleh dua orang ketua Hwa-i Kai-pang yang dibantu oleh tiga orang murid utama mereka. Lo-thian Sin-kai adalah seorang tokoh Hwa-i Kai-pang yang paling lihai karena dia telah mewarisi ilmu-ilmu dari Hwa-i Sin-kai pendiri dari Hwa-i Kai-pang. Dia memiliki semua ilmu silat kai-pang itu, pandai sekali memainkan tongkat, baik dengan Ilmu Ngo-lian Pang-hoat mampun Ta-houw Sin-pang, dan selain itu, juga dia memiliki tenaga yang kuat sekali.

Sutenya, Hek-bin Mo-kai, juga amat lihai dan hanya kalah sedikit saja dibandingkan dengan suhengnya itu. Maka, dibantu oleh tiga orang murid utama mereka, tentu saja lima orang ini merupakan lawan yang amat tangguh dan amat berbahaya. Mereka itu merupakan inti kekuatan yang paling tinggi sebagai pucuk pimpinan Hwa-i Kai-pang. Akan tetapi sekali ini mereka bertemu dengan Thian Sin sehingga ketangguhan mereka itu sama sekali tidak ada gunanya.

"Hemm, sejak dahulu sampai kini kalian adalah pengecut-pengecut hina yang hanya berani kalau mengandalkan pengeroyokan," Thian Sin berkata sambil menghadapi terjangan mereka yang bertubi-tubi itu dengan tangan kosong saja.

Dia tidak begitu mempedulikan tiga orang murid utama itu, karena yang diincarnya adalah dua orang ketua Hwa-i Kai-pang yang pernah mengeroyok dan ikut membunuh ayah bundanya.

"Wuuuttt...!" Sinar tongkat menyambar dari kanan dengan amat hebatnya karena tongkat ini ditusukkan dengan pengerahan tenaga oleh Hek-bin Mo-kai yang maklum bahwa dia dan suhengnya dibantu murid-muridnya harus dapat membunuh pemuda putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw ini kalau tidak mereka sendiri yang akan tewas. Maka serangannyapun selalu dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.

"Plakk!" Thian Sin menangkap tongkat itu, tidak mempedulikan pukulan tiga batang tongkat dari arah belakangnya yang dilakukan oleh tiga orang murid utama Hwa-i Kai-pang itu.

Dia hanya mengerahkan sin-kangnya untuk melindungi tubuh belakangnya. Terdengar suara keras ketika tiga batang tongkat itu mengenai punggung, pinggul dan leher belakang atau tengkuknya, dan tiga batang tongkat itu membalik, membuat tiga orang penyerangnya berteriak kaget dan kesakitan karena telapak tangan mereka terobek dan berdarah!

Sementara itu, Thian Sin yang sudah berhasil menangkap tongkat Hek-bin Mo-kai itu lalu melangkah maju dengan cepat sekali, tangan kanan menangkap tongkat, tangan kiri menyambar ke depan untuk mencengkeram dada lawan yang dibencinya ini. Hek-bin Mo-kai tadi telah berusaha menarik kembali tongkatnya, namun sia-sia belaka dan melihat serangan pemuda itu, dia cepat melangkah mundur dan terpaksa dia melepaskan tongkatnya. Pada saat itu, Lo-thian Sin-kai telah menyerang pula dengan tongkatnya yang menghantam ke arah kepala Thian Sin. Melihat serangan yang amat hebat ini, Thian Sin yang telah merampas tongkat Hek-bin Mo-kai, menggunakan tongkat itu untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga sekuatnya.

"Krakkk!" Tongkat di tangannya patah menjadi dua, demikian pula tongkat di tangan Lo-thian Sin-kai!

Ketua pertama dari Hwa-i Kai-pang ini terkejut bukan main, apalagi pada saat itu, Thian Sin berseru keras dan potongan tongkatnya tadi telah dilontarkan ke depan. Hek-bin Mo-kai sedang lari untuk mengambil senjata baru dari rak, dan Thian Sin yang mengira bahwa kakek muka hitam itu hendak melarikan diri, telah mempergunakan kepandaiannya menyambitkan potongan tongkat di tangannya.

"Aughhh...!" Hek-bin Mo-kai berteriak dan roboh, paha kirinya tertusuk potongan tongkat sampai tembus!

Melihat ini, Lo-thian Sin-kai terkejut dan marah, lalu menubruk ke depan pada saat Thian Sin menyambitkan tongkatnya tadi dan menggunakan kedua tangannya sambil mengerahkan sin-kang yang amat kuat untuk menghantam ke arah dada dan lambung pemuda itu. Inilah jurus yang paling hebat dari Ta-houw Sin-ciang-hoat. Jangankan manusia, bahkan harimau yang kuat sekalipun akan tewas seketika terkena hantaman yang dapat menghancurkan isi dada dan perut ini. Thian Sin yang sedang menyambitkan potongan tongkat itu, melihat hantaman ini, akan tetapi dia tidak peduli dan membiarkan dada dan lambungnya dipukul!

"Plak! Plak! Krekkk...!" Tubuh Lo-thian Sin-kai terpelanting dengan tulang pundak kanan kiri remuk, sedangkan tubuh Thian Sin hanya terguncang sedikit saja.

Kiranya ketika menerima pukulan pada dada dan lambungnya itu, Thian Sin menerima pukulan lawan sambil balas menghantam dengan ketukan jari-jari tangannya ke arah kedua pundak lawan yang membuat tulang-tulang kedua pundak itu patah. Sengaja Thian Sin tidak membunuhnya, melainkan merobohkan kedua orang kakek itu lebih dulu.

Tentu saja robohnya dua orang ketua ini membuat tiga orang murid utamanya terkejut dan gentar bukan main. Namun mereka tidak diberi kesempatan lagi. Thian Sin bergerak cepat sekali dan dengan beberapa kali serangan saja, tiga orang itu telah roboh dan tewas! Tujuh orang murid tingkat tiga yang tadinya sudah mengepung, kini maju mengeroyok, ditambah lagi dengan para anggauta pengemis yang datang mendengar keributan di ruangan itu.

Terjadilah pengeroyokan, namun Thian Sin mengamuk dan dalam waktu singkat telah merobohkan dan menewaskan beberapa orang murid-murid rendahan sehingga tubuh-tubuh yang telah menjadi mayat itu malang melintang di ruangan itu. Melihat ini, kedua orang ketua Hwa-i Kai-pang terkejut dan ketakutan, akan tetapi mereka itu tidak mampu meninggalkan lantai di mana mereka roboh tadi. Lo-thian Sin-kai telah remuk kedua pundaknya sehingga untuk bangun saja dia tidak mampu, sedangkan Hek-bin Mo-kai yang pahanya tertusuk tongkat itupun tidak mampu bangkit.

Mereka berteriak-teriak beberapa kali untuk minta tolong kepada anak buah mereka agar mereka dibawa melarikan diri, namun setiap orang pengemis yang mencoba mendekatinya tentu dirobohkan oleh Thian Sin. Akhirnya, para pengemis itu maklum bahwa melawan pemuda ini sama dengan membunuh diri, maka sisanya, kurang dari setengahnya, lari ketakutan meninggalkan sarang mereka dan ada yang cepat melapor kepada komandan pasukan penjaga keamanan kota raja di benteng.

Melihat sisa para pengeroyoknya melarikan diri, Thian Sin tidak mau mengejar. Yang dicarinya adalah dua orang ketua itu dan kini mereka telah roboh tak mampu bergerak lagi. Sambil tersenyum dia menghampiri mereka setelah dia menendang tubuh Hek-bin Mo-kai sehingga tubuh orang ini terlempar di dekat suhengnya. Mereka berdua hanya dapat memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata mengandung kebencian dan juga rasa serem. Belum pernah mereka bertemu dengan seorang pemuda yang selihai ini, yang mengingatkan mereka akan kelihaian mendiang Pangeran Ceng Han Houw.

"Hemm, kiranya engkaulah yang disebut Pendekar Sadis!" akhirnya Lo-thian Sin-kai berkata.

Dia tidak mengharapkan dapat hidup lagi, akan tetapi diapun tidak takut mati. Betapapun juga Sin-kai yang gagah perkasa dan lihai, dan ketika mereka itu ikut mengeroyok dan membunuh Pangeran Ceng Han Houw, merasa berada di fihak benar karena pangeran itu dianggap seorang pemberontak dan seorang yang amat jahat, dan sudah pernah mengacau dunia kang-ouw pula.

Thian Sin tersenyum. "Salah kalian sendiri, sudah mendengar aku datang mencari kalian, kalian tidak mau bersembunyi. Ha-ha, sekarang bagaimama? Coba ceritakan begaimana kalian dahulu ikut mengeroyok dan membunuh ayah bundaku."

"Ayahmu seorang penjahat, seorang pemberontak yang kejam!" bentak Lo-thian Sin-kai.

"Dan engkau tidak kalah jahatnya dengan ayahmu!" Hek-bin Mo-kai juga memaki.

Thian Sin hanya tersenyum. "Apakah kalian tidak jahat? Apakah anak buah kalian yang melakukan pemerasan di kota raja tidak busuk? Memang, melihat kebusukan orang lain, betapapun kecilnya, amatlah mudah, sebaliknya, kebusukan sendiri segede gajah takkan pernah kalian lihat!"

"Tidak perlu banyak cakap lagi, kami sudah kalah, mau bunuh kami, bunuhlah!" bentak Lo-thian Sin-kai.

"Kami adalah laki-laki sejati yang tak takut mati!" Hek-bin Mo-kai juga berkata, sambil menyeringai menahan sakit.

"Bagus! Gagah perkasa tak takut mati, akan tetapi pengecut hina, beraninya hanya mengandalkan pengeroyokan banyak orang, dahulu terhadap ayah bundaku dan sekarang terhadap diriku."

"Bocah setan yang sombong tak perlu banyak mulut lagi!" Hek-bin Mo-kai membentak.

Thian Sin tersenyum lebar dan tangannya bergerak ke bawah, dua kali jari tangannya menotok ke arah dada dan leher Hek-bin Mo-kai. Dan kembali dia bergerak melakukan penotokan yang sama terhadap tubuh Lo-thian Sin-kai. Mula-mula kedua orang kakek itu tidak merasakan sesuatu, hanya ada hawa dingin menyelinap ke dalam bagian tubuh yang tertotok jari tangan pemuda itu. Akan tetapi, mulailah terasa gatal-gatal dan dingin, lalu rasa gatal itu semakin menghebat disertai rasa perih seperti ditusuk-tusuk jarum! Kedua orang kakek itu berusaha mempertahankan diri, akan tetapi rasa nyeri yang tidak begitu hebat namun makin lama makin terasa itu mulai menggerogoti perasaan mereka. Rasa gatal sukar dapat dipertahankan orang, apalagi rasa perih yang sedikit demi sedikit menusuk-nusuk perasaan itu. Rasa nyeri yang hebat sekali dapat mematikan rasa, atau dapat membuat orang pingsan karenanya. Akan tetapi rasa gatal-gatal disertai perih sedikit demi sedikit itu menyerap makin hebat dan keduanya tidak dapat mengerahkan sin-kang karena tenaga mereka telah punah oleh totokan itu.

Mereka berusaha mempertahankan diri tanpa mengeluh, dan keduanya sampai menggigit bibir mereka. Akan tetapi rasa nyeri makin hebat dan bibir mereka pecah-pecah oleh gigitan sendiri. Darah mengalir membasahi mulut mereka. Sungguh keadaan mereka amat mengerikan. Muka mereka penuh dengan keringat dan tubuh mereka menggeliat-geliat, dan akhirnya keduanya tidak dapat bertahan lagi dan mulailah mereka mengeluh.

Mula-mula hanya rintihan-rintihan saja, masih mereka tahan, akan tetapi tak lama kemudian mereka sudah menangis dan meraung-raung minta mati! Dan Thian Sin berdiri sambil bertolak pinggang, tersenyum menyaksikan dua orang lawan yang disiksanya sedemikian hebat itu. Dia tadi telah menotok mereka dengan pengerahan tenaga sin-kang yang dipelalarinya dari kitab ayahnya, dan dia telah membuat mereka itu keracunan sedikit demi sedikit.

Raungan-raungan kedua orang kakek itu masih terdengar, sungguhpun semakin lama semakin lemah dan pada saat itu,terdengar suara hiruk pikuk di luar, lalu tak lama kemudian banyak perajurit penjaga keamanan kota raja yang mengurung tempat itu menyerbu ke dalam! Melihat betapa dua orang kakek yang menjadi musuhnya itu telah mulai sekarat dan nyawa mereka tak mungkin dapat tertolong lagi, Thian Sin tertawa bergelak dan tubuhnya meloncat ke atas, menerobos genteng.

Beberapa orang anggauta kai-pang dan perajurit yang berjaga di atas genteng, terkejut melihat munculnya pemuda itu yang menerobos genteng. Mereka mencoba untuk menyerang, dan akibatnya mereka sendiri yang terlempar dan jatuh tunggang-langgang di atas genteng, ada pula yang terus menggelinding ke bawah dan tentu saja mengalami kematian terbanting dari atas genteng, ternyata pemuda itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Bekas amukannya yang ada, yaitu kematian banyak sekali anggauta kai-pang dan beberapa orang perajurit, dan yang amat mengerikan adalah kematian dua orang ketua kai-pang itu. Wajah mereka masih menyeringai, mata mereka terbelalak dan wajah itu masih membayangkan rasa nyeri yang luar biasa, akan tetapi nyawa mereka telah melayang.

Gegerlah ibu kota atau kota raja dengan terjadinya peristiwa yang mengerikan ini, dan semakin terkenallah nama Pendekar Sadis karena kini semua orang sudah dapat menduga, melihat dari cara-cara kematian yang disebabkannya, bahwa yang mengamuk itu tentu bukan lain Pendekar Sadis yang banyak disohorkan orang akhir-akhir ini.

Bukan hanya sampai di situ saja sepak terjang Thian Sin di kota raja. Dia memang sudah berhasil membunuh Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai, dua orang di antara para pengeroyok dan pembunuh ayah bundanya. Akan tetapi dia belum puas karena dia belum berhasil menemukan orang yang lebih dibencinya dari pada yang lain, yaitu Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam.

Seperti diketahui, Tok-ciang Sian-jin ini adalah seorang tokoh Jeng-hwa-pang yang juga ikut pengeroyok dan membunuh ayah bundanya. Dan bahkan lebih dari itu, orang ini adalah yang terpandai di antara mereka yang mengeroyok ayah bundanya. Dan sampai kini dia belum juga berhasil membalas, bahkan belum tahu di mana adanya Tok-ciang Sian-jin yang dicari-carinya itu. Maka, Thian Sin lalu mendatangi para tokoh kang-ouw, terutama sekali para penjahat di sekitar kota raja. Maksudnya untuk mencari keterangan dan menyelidiki di mana adanya Tok-ciang Sian-jin, akan tetapi caranya menimbulkan kegemparan hebat di kota raja.

Terhadap para tokoh dunia hitam ini, Thian Sin bersikap luar biasa kejamnya. Dia menangkap, menyiksa, membunuh, memaksa kepada mereka itu untuk membuka rahasia di mana adanya Tok-ciang Sian-jin. Dan untuk itu dia tidak segan-segan melakukan kekejaman yang mendirikan bulu roma terhadap para penjahat itu. Makin terkenallah nama Pendekar Sadis dan ditakuti oleh kaum penjahat melebihi iblis sendiri. Belum pernah ada tokoh atau datuk sesat sekalipun lebih mengerikan dan lebih ditakuti oleh kaum sesat seperti Pendekar Sadis ini.

Thian Sin amat membenci kepada penjahat karena diangapnya bahwa penjahat-penjahat itulah yang telah merusak hidupnya, telah mencelakakan orang-orang yang dicintanya dan karena itu, dia telah mengambil keputusan untuk memusuhi semua penjahat di dunia ini! Ada kalanya dia memasang mata di pasar dan tempat-tempat ramai dan kalau dia melihat ada penjahat yang melakukan pencopetan saja, dia tidak segan-segan untuk turun tangan dan mematahkan tulang lengan pencopet itu. Bahkan di waktu malam dia sering keluar dan sekali dilihatnya ada pencuri, tentu pencuri itu akan dibuntungi tangannya! Pemerkosa jangan harap dapat hidup kalau bertemu dengannya, karena Thian Sin segera akan menghukumnya secara mengerikan, yaitu membuntungi alat kelaminnya!

Belum ada sebulan dia datang ke kota raja, keadaan kota raja menjadi gempar. Bukan hanya para penjahat yang ketakutan setengah mati, bahkan penduduk kota raja juga merasa gelisah dan ngeri. Siapapun adanya dia, setiap orang sudah tentu tidak akan luput daripada kesalahan, dan dia tentu merasa ngeri untuk dilihat dan dihukum oleh seorang seperti Pendekar Sadis ini.

Pada suatu senja, Thian Sin kembali ke dalam kuil tua di mana dia menyembunyikan diri karena dia tahu bahwa pasukan kota raja selalu mencarinya. Sudah beberapa kali dia bertemu dengan penyelidik-penyelidik dari kota raja itu, akan tetapi selalu dia dapat membuat mereka tidak berdaya. Untuk dapat beristirahat dengan tanpa banyak gangguan, dia lalu mencari penginapan di luar kota raja dan akhirnya dia menemukan sebuah kuil tua yang dikabarkan orang sebagai kuil tua kosong yang banyak hantunya. Sungguh kebetulan, pikirnya.

Kalau kuil itu berhantu, tentu tidak ada orang yang akan berani mendekatinya. Dari penduduk di kampung-kampung sekitar kuil yang berada di tempat sunyi di lereng pegunungan sebelah utara kota raja ini, dia mendengar bahwa siapapun yang berani datang ke kuil ini, apalagi di malam hari, tentu akan bertemu dengan hantu dan kabarnya
sudah ada beberapa orang yang mati dengan mengerikan di tempat itu. Mati menggantung diri, atau digantung hantu, tak ada yang dapat tahu dengan pasti. Pendeknya, di sebelah belakang kuil itu terdapat sebuah tengkorak manusia yang masih tergantung di batang pohon. Hanya tinggal kepala dan leher saja yang tergantung, sedangkan tulang-tulang bagian lainnya telah runtuh dan bertumpuk di bawah pohon itu tanpa ada yang berani mengganggunya.

Kepercayaan akan tahyul membuat orang yang memiliki kepandaian tinggi sekalipun menjadi penakut. Orang yang lihai boleh jadi tidak takut menghadapi pengeroyokan banyak lawan tangguh dan bahkan tidak gentar menghadapi kematian. Akan tetapi, karena kepercayaan tahyul yang telah berakar di dalam hati mereka, ditanamkan sejak kecil, membuat mereka atau orang yang tinggi ilmu silatnya sekalipun dapat lari tunggang langgang. Mereka itu merasa serem.

Akan tetapi Thian Sin sama sekali tidak merasa takut. Dia telah sering menghadapi hal-hal menyeramkan, yaitu ketika dia bertapa di dalam gua dan mempelajari ilmu sihir dari kakek pertapa di Pegunungan Himalaya. Kalau memang ada hantunya, biarlah aku berkenalan dengan hantu itu, pikirnya, siapa tahu dia akan dapat mempelajari ilmu yang lebih hebat lagi dari hantu itu!

Maka, beberapa malam yang lalu, ketika dia untuk pertama kali mendatangi tempat itu, dia melakukan pengintaian. Tidak ada apa-apa di situ, sunyi saja. Akan tetapi ketika dia sedang duduk beristirahat di dalam kuil itu, tiba-tiba dia mendengar suara melengking yang aneh. Seketika bulu tengkuknya meremang, akan tetapi dia melawannya dan dengan mengusap tengkuknya, rasa meremang pun lenyaplah. Dia lalu berindap-indap menuju ke arah suara yang datangnya dari belakang kuil di mana terdapat pohon yang ada tengkoraknya tergantung itu. Dia melangkah maju menghampiri karena malam itu gelap, cuaca hanya diterangi oleh sinar bulan yang sepotong. Ketika dia sudah dekat untuk dapat melihat tengkorak itu, dia mendapat kenyataan bahwa suara itu memang datang dari arah tengkorak itu dan kembali bulu tengkuknya meremang ketika dia melihat tengkorak itu bergoyang-goyang!

Padahal pada saat itu tidak ada angin sama sekali! Kalau bukan Thian Sin yang menghadapi penglihatan dan pendengaran seperti itu, agaknya tentu sudah melarikan diri karena sepandai-pandainya manusia, kalau harus menghadapi sesuatu yang tidak dimengertinya dan yang berada di luar kemampuannya sebagai manusia, apalagi setelah segala yang didengarnya sejak kecil tentang ketahyulan yang menyeramkan, tentu dia sudah ketakutan.

LANJUT KE JILID 030--->
<---Kembali